Bianglala Kehidupan

June 4th, 2009

Usiaku Kini 28 Tahun,……….

Posted by faridoet in Cerita, Putih

Bandung, hari rabu tanggal 3 Juni 2008

Tepat 28 tahun yang lalu, untuk pertama kalinya aku menghirup udara bumi. Hm,… 28 tahun sudah rupanya aku menjalani hidup, sudah ¼ abad lebih, kurang lebih 10080 hari atau 241920 jam, atau 14515200 menit atau 87912000 detik. Tidak bisa dibilang sebentar bukan? Namun bukan berarti juga sudah cukup lama bila dibandingkan dengan mereka yang sudah lebih dulu hadir di dunia dan masih bersama-sama menikmati kehidupan saat ini. Bila kehidupanku merupakan sebuah buku, maka setiap masa yang dilewati adalah satu episode dalam kehidupanku.

Dalam usia 28 tahun ini satu episode baru akan mulai kutulis. Tidak lama lagi, bila Tuhan ridha. Maka bab demi bab akan mulai ditulis dengan tinta cinta yang mata airnya dari dalam hati. Sebuah episode yang mungkin paling banyak dinanti oleh para pembaca novel kehidupanku. Keluargaku, kerabatku, sahabatku, kawan-kawanku, bahkan mungkin orang yang hanya mengenalku sekilas saja, atau orang yang baru saja dengan tidak sengaja mengenalku, yang pasti hampir banyak orang akan senantiasa memiliki kecenderungan untuk tertarik dengan topik utama pada episode ini. Tentulah kalian tahu tanpa harus kuungkapkan secara eksplisit bukan?!

Episode baru yang akan mulai aku tulis beberapa bulan lagi, mungkin salah satu episode yang penting dalam setiap novel kehidupan anak manusia. Episode tentang sebuah pilihan untuk mengisi entry dalam matrik ruang hatimu dengan keberadaan dia yang kelak diharapkan akan menjadi bagian dari hidupmu, selamanya bahkan hingga ke syurga. Ya,.. matrik dalam ruang hati akan memiliki entry baru, yang juga berarti aku menambah satu baris sekaligus satu kolom di sana. Kenapa? Karena, entry itu tidak akan mungkin hanya masuk seorang diri saja bukan, dia akan membawa serta anggota dalam matrik hatinya juga untuk masuk ke dalam matrik dalam ruang hatiku demikian pula sebaliknya.

Aku sekarang, perempuan 28 tahun, adalah hasil karya kuas kehidupan yang ditorehkan pada kanvas kehidupanku dengan warna-warna kejadian yang silih berganti selama 28 tahun. Dan lukisan kehidupanku adalah lukisan dengan gaya perpaduan antara realis, ekpresionis dan surealis tanpa dominasi warna tertentu, hapir semua warna rasanya sudah sempurna tersapu dalam setiap lambaian kuas selama 28 tahun ini. Merah, kuning, hijau dengan seluruh jenis differensialnya berpadu dengan sempurna menciptakan berjuta nuansa.

Aku mendapat kejutan istimewa, yang baru pertama kali aku alami, menjelang shubuh sahabatku datang membawa kue bertabur coklat sempurna dan dua batang lilin. Hanya berdua, berbagi kebahagiaan malam itu selepas sujudku yang sudah seperti ritual saja rasanya (sungguh kejam perasaan-perasaan dingin yang berkecamuk dengan pikiran-pikiran yang tidak sempurna dalam doa-doa yang sering mendua! Semoga saja Tuhan iba dan segera mengembalikan jiwa yang sedang terluka). Akh,… romantis sekali, sahabat baru yang Tuhan kirimkan adalah anugrah sekaligus kado termanis untukku kali ini. “Make a wish dulu Da sebelum tiup lilinnya!” he..he..he.. aku bahkan saat itu belum merumuskan apa yang aku inginkan pada peringatan tanggal dan hari kelahiranku yang ke-28. Anyway, akhirnya dalam waktu beberapa detik aku mengetahui apa permintaanku, aku meminta agar sahabatku yang membawakan kebahagiaan ini juga diberikan berkah kebahagiaan dalam hidupnya, dalam setiap langkahnya. Malam sebelumnya, calon penghuni baru matrik hatiku menjadi orang pertama yang memberiku kado sebuah tulisan dalam blognya. Sebuah keindahan yang menggugah. Cukup untuk membuat aliran sungai air mata di penghujung pagi ketika aku membaca tulisannya. (Semoga Tuhan ridha dan memudahkan segalanya bagi kita. Amien…..)

Tidak seperti tahun sebelumnya, peristiwa peringatan genapnya usiaku menjadi sebuah bilangan bulat kali ini, lebih banyak membuatku merenung ke jauh ke dalam diriku sendiri, terlepas dari berapa banyak yang telah aku lakukan dan harapan-harapanku di masa yang akan datang, aku lebih banyak merenung tentang diriku, Tuhanku, kelemahan dan kelebihanku, pilihan-pilihanku, hidupku, hatiku, jiwaku serta pertentangan-pertentangan di dalamnya yang terkait dengan kebenaran dan kejujuran. Semuanya tentang aku, egocentrisms. Sungguh bukan aku menafikkan entry-entry matrik hatiku yang lain, selain Tuhan melainkan karena aku hanya ingin bersama jiwaku kali ini. Walau hanya menghasilkan sebuah hipotesis sederhana bahwa; “Benar. Tidak mudah menjadi seorang Farida Nurhasanah” (sungguh aneh sebetulnya mengingat begitu banyak premis sebelumnya yang dapat berkakhir hanya dengan sebuah kesimpulan yang sepertinya dapat dibuat tanpa premis-premis panjang sekalipun,… sungguh menyebalkan bukan?! terdengar seperi sebuah egoism. Sungguh! dapat membakar dan melumat habis rasa ingin-tahu-mu yang hanya akan berujung tanpa jawab he..he..he..J) semua itu menghantarkan aku pada permintaan, Smoga Tuhan mengampuni dosa-dosaku dan menjadikan sisa usiaku menjadi penuh berkah, agar setiap langkahku ke depan senantiasa dalam petunjuk dan bimbinganNya. Amien.

Aku sekarang, perempuan 28 tahun.

April 6th, 2009

Tentang Sabar

Posted by faridoet in Sajak-Sajakku

Benarkah kesabaran tak berbatas?

Kawan, kita hanya manusia biasa

yang punya rasa dan karsa

Dimana jiwa sedang terjaga

Maka sabar akan menetap di sana

namun dikala jiwa lena

terbawa entahlah apa

Maka sabar menguap entah kemana

Sekali lagi lagi Kawan,

Kita hanya manusia biasa

April 6th, 2009

Tentang Waktu

Posted by faridoet in Sajak-Sajakku

Waktu tak pernah bertuan Kawan

Pun tak kan pernah ia pulang

Hanya pada Tuhan waktu berpegang

Sempurna dalam genggaman

Mungkinkah waktu dapat terbeli?

Tidak Kawan, sedikitpun tidak!

Kecuali dengan kesabaran hati

March 18th, 2009

IKUTAN KAMPANYE YUK,………

Posted by faridoet in Hijau

Menuliskan setiap yang terlintas dalam pikiran terkadang tidaklah selalu mudah bagi saya Seringkali saya bingung harus memulai darimana, karena seringnya pikiran saya meloncat dari satu topic ke topic yang lain begitu saja. Seperti saat ini, ketika kawan sedang seru-serunya membahas pokok panas kampanye saya malah berpikir tentang ide-ide untuk membuat bumi lebih hijau dan nyaman. Sebetulnya Ide ini muncul dalam perjalanan saya ke Bogor, disaat saya melihat banyaknya lahan-lahan kosong yang terbengkalai di sepanjang jalan. Andainya saja di lahan–lahan tersebut berdiri berjajar pohon-pohon kayu keras membentuk sebuah hutan rimbun, tentunya akan banyak hewan yang bisa mendiami ekosistem tersebut. Ah,.. tapi kan lahan itu menjadi tidak produktif secara ekonomis! Begitu kan kata-kata para kapitalis industri. Eit,…. Tunggu dulu! Siapa bilang hutan tidak memberi manfaat secara ekonomis? Andai saja hutan itu kaya akan keanekaragaman hayati kita bisa mendatangkan devisa melalui cara yang berbeda. Undang para wisatawan yang sekarang sedang haus akan wisata-wisata alam yang penuh tantangan. Kelola dengan professional. Maka keuntungan ganda yang kita peroleh.

Sebetulnya, sejak lama saya memiliki sebuah mimpi besar. Amat besar! Bermula pada tahun 1999, ketika saya tur keliling pulau jawa bersama Mba Kung (Alm) dan Mbah Janti, sepanjang perjalanan melihat begitu banyak potensi alam yang dimiliki oleh bangsa ini. Dalam pikiran saya bergaung-gaung kata-kata “Bangsa ini seharusnya menjadi bangsa agraris yang makmur andai saja sumberdaya alamnya dimanfaatkan dengan cerdas dan bijak” . Dari sinilah, kemudian saya bercita-cita suatu hari nanti akan mewujudkannya. Seiring berjalannya waktu, hari ke hari bahkan sampai hari ini, saya mencoba merumuskan keinginan besar itu.Walau pun belum dapat memulai langkah besar saat ini, setidaknya langkah-langkah kecil kelak akan berkumulasi.

Oh,.. betapa inginnya saya mempopularkan, Pisang Ambon, rambutan, Jeruk Bali, Duren Jawa, mangga golek, akh,… semua buah-buahan negri ini ke segala penjuru dunia. Ataupun ikan, udang, belut, daging, lobster, tripang, dan masih banyak lagi hasil budidaya ternak bangsa ini. Namun yang terjadi justru sebaliknya, kitalah yang diserbu oleh beraneka buah import, atau bahkan daging sapi atau ayam import! Akh,.. jujur saya tersinggung sebagai anak negri yang kaya ini, bayangkan jika ternyata jeruk saja kita harus import dari cina, padahal jeruk medan atau Pontianak itu rasanya bisa lebih enak dari sekedar jeruk Ponkan andai saja diteliti dan kembangkan dengan baik. Seharusnya Negara yang alamnya amat subur ini sungguh bisa membuat rakyatnya kaya raya dengan potensi yang ada. Seharusnya tidak ada kata gizi buruk atau busung lapar di bumi pertiwi ini! Bisakah kawan bayangkan, kalau Tanah, batu dan kayu jadi tanaman. Semestinya tidak harus orang Indonesia menjadi buruh pabrik dengan upah rendah hanya untuk makan sehari-hari! Dimana, dimana letak salahnya?….. negri ini telah salah kelola. Andai saja bangsa ini mampu memberdayakan sumber daya alam, mengolahnya dengan sebaik-baiknya hingga memiliki harga jual yang tinggi maka bangsa ini akan menjadi salah satu bangsa termakmur di dunia. Andaikan alam negri ini dikekola dengan benar dan bijak, maka setidaknya tidak terdapat seorang rakyatpun yang sulit mencari sesuap nasi.

Kerusakan alam memang bukan hanya terjadi di Negara kita ini, namun bukan berarti bahwa kita hanya berdiam diri saja alih-alih merasa senasib dengan seluruh manusia dunia yang sekarang sedang merasakan dampak global warming. Sebagai individu sekaligus anak bangsa yang juga penduduk bumi seharusnya tidak tidak hanya berdiam diri saja khan?!Selemah-lemahnya iman, maka cobalah ikut berpikir. Jadi, ya saya berpikir! J hingga muncullah ide untuk membuat sebuah program penyambutan bayi yang baru lahir dengan penanaman minimal sebuah pohon kayu dimanapun di lahan-lahan yang bisa ditanami! Kegiatan ini, secara tidak langsung menjadi sebuah program reboisasi bersama dan berkesinambungan. Selain itu secara filosofis juga bermakna proses tumbuh kembang anak linear dengan proses tumbuhnya pohon. Bayangkan ada berapa bayi yang lahir dalam satu hari? Bayangkan pula ada berapa pohon yang ditanam dalam satu hari?

Wah bagaimana kalau keluarga yang tidak punya lahan? Nanam pohon cabe aja atuh! J ya enggak gitu donk,… kalau memnag keluarga belum punya lahan, tanam saja pohon itu di pinggir sungai-sungai atau pemerintah menyediakan lahan-lahan kosong yang berfungsi sebagai taman sekaligus paru-paru kota kemudian warga bisa nimbrung menanam di sana, kemudian pohon itu diberi inisial dan tanda sehingga ketika anak sudah cukup mengerti maka dia bisa melihat pohon yang sengaja ditanam untuknya, diharapkan muncul juga perasaan memiliki dan keterikatan. Oh,.. so sweet. Membayang anak-anak kecil berkata, “Ayah,.. ini pohon milikku ya,… usianya sama dengan usiaku…”. (Khayalan tinggkat tinggi,.. ck..ck..ck…)

Andainya ide ini dapat terealisasi,…….. Hayoo siapa mau ikutan?…… ikutan yuk,….. para calon bunda dan ayah,…. Ayo realisasikan hijau bumiku……… ayoo ikut kampanye penghijauan……. Kalau belum punya kesempatan menanam,.. paling tidak ikutan kampanye-nya dulu……….

Kebetulan nih,.. sedang masa kampanye,… hayoo para jurkam! sekalian deh ikut dikampanyekan gerakan ini! J ajie mumpung euy,…..

February 19th, 2009

Gaza dalam Mimpiku

Posted by faridoet in Hitam dan Kelabu

Berita di berbagai media memperlihatkan kecemasan akan perang yang sepertinya kembali bergolakdi Gaza. Di pampang gambar ekspresi bocah-bocah korban perang Palestina di halaman-halaman utama surat kabar dunia.Perlahan, gambar-gambar di Koran itu memudar, siluet-siluet pun bermunculan. Nyata! Begitu nyata! Karena aku berada di dalamnya. Di sana. Di Palestina!

Sebuah flat kecil, biru kumuh, di sebuah pinggiran kota. Suram! Kudapati onggokan-onggokan mayat berserakan. Tak utuh lagi. berbagai penggalan anggota tubuh berserakan. Potongan tangan, kaki, kepala yang sudah jauh dari kata utuh.Ya Allah,… kulihat mayat seorang bayi mungil, ya… yang bahkan usianya tidak lebih dari 3 bulan saja. Lengannya sudah terpisah berserakan. Putih! Masih putih seperti hatinya yang suci. Tak ada bau anyir. Dan aku masih tegar.

Aku bergerak. Melanjutkan perjalanan. Di depan sebuah rumah. Kulihat tentara-tentara Yahudi terlaknat sedang berpesta. Mereka mengerumuni seorang lelaki Palestina yang sudah terkapar bersimbah darah, sambil tertawa mengejek mereka menyayi, memaki bahkan menendang-nendang sosok yang entah masih bernyawa atau tidak itu. mata-mata bengis dan keji itu tak kan kulupakan. Seperti sekelompok srigala yang berpesta atas mangsa buruannya. Seperti itulah Yahudi berpesta. Seorang Palestina yang teraniaya, bahkan di tanahnya sendiri.

Semakin jauh perjalananku, kulihat kekejian yang tak berperi. Lebih jauh menyayat hati. Kulihat tubuh-tubuh yang hancur tak berbetuk tergantung di tiang-tiang. Akh,.. entah tiang atau sekedar tali saja. Tua, muda, bahkan anak-anak! Tubuh mereka benar-benar hancur! Hancur bagai daging cincang di pasar! namun kudapati wajah-wajah mereka tanpa duka Subhanallah,…..

Ya Allah, jiwa manusia macam apa yang sanggup melakukannya,……

Tiba di sebuah rumah. Sang ayah dan seorang lelaki di ruang depan tengah diintrogasi oleh beberapa Tentara Israel. Dihardik! Dengan moncong senjata di kepala. Tak berdaya, namun masih tegar dan berani! Tiba- tiba perbatan memanas. Maki dan cacian mulai memanas. Anak lekaki berlari ke dalam, ketika seorang tentara Israel merasuk masuk ke dalam kamar. Sang ibu dan kakak perempuan sedang berdiri, sholat. Berusaha melindungi, bertanggungjawab atas keselamatan kedua perempuan di rumah tersebut.

“Tidak nak, usah kau risau. Syahid adalah impian ayah. Juga impian kami. Mengapa harus risau. Perjumpaan itu telah kami rindukan”

“Ibu maafkan aku dan ayah yang tak dapat melindungimu dan saudara perempuanku”

“anakku, Siapakah penguasa jiwa-jiwa kita? Bila bukan dirimu maka Allah yang akan menjaga kami. Pergilah. Jemput syahidmu wahai anakku”

Aku terpaku. Diam! Mencerna rasa takut yang bergolak dalam perutku.

Kulihat sang ayah, saudara lelaki dan ibu dari perempuan muda yang seusia denganku menjemput syahidnya dengan berani. Dalam tajamnya ujung pedang dan desing peluru mesiu yang meraung-raung tak hentinya.

Meradang! Ia sendiri di dalam kamar tak tertata. Seornag tentara setengah baya menghapirinya.

Oh,.. degup jantungku semakin keras. Tak terbayang penderitaan apa yang telah menantinya.

Ditatapnya dengan lantang wajah tentara itu. seringainya menjijikan. Dikeluarkannya sebuah tube yang dengan kasarnya diteteskan pada kulit perempuan yang halus itu. pakaiannya sudah tak lagi utuh, tercabik-cabik.

Aku menjerit dalam hati. Bergetar. Menduga-duga apa yang hendak dilakukan tentara itu.

Tiba-tiba dengan kasar tangan pperempuan itu direngkuh dengan kuat. Dan jari-jarinya dipotong. Caci makinya meluncur deras dari bibir biadab itu.

“Perempuan bodoh, hina, tidak berguna! Bangsa yang bodoh, hina, menjijikan, menyedihkan!!!! ###$@%^*&^%$#@……..

Aku Marah! Namun seluruh tubuh terasa lumpuh! Lemas! Jantungku berdegup amat keras! Tuhan, aku tidak sanggup menyaksikan ini. ya Allah,.. Allah,.. Allah,..

Tersentak! Mataku tiba-tiba saja terbuka. Kurasakan jantungku masih berdegup kencang dan amarahku masih bersisa. Kusapu peluh di dahiku, berkali-kali mencoba pejamkan kembali mataku. Bukan karena kantuk, melainkan aku ingin mengetahui nasib perempuan itu. Hanya gagal yang kudapati.

Pukul 03.00 . Aaku terjaga. Benar-benar terjaga. Kucoba untuk pejamkan mata kembali, namun hanya gagal yang kudapatkan. Jantungku masih berdegup dengan kencang. Rasa takut itu pun masih lekat kuingat. Amarahku masih bergolak, mendesir mengalir dalam darahku yang merah. Merah! Seperti air mata anak-anak tak berdosa itu!

Segera bangkit, berwudhu, dan bersujud.

Tuhan ampuni aku, yang sempat lena dan melupakan nasib saudara seiman. Ampuni aku yang tidak peka, hingga harus diingatkan oleh mimpi yang amat menyayat hati. Ampuni aku yang tak sempurna membaca hikmah dibalik mimpi ini. Ampuni ke-egoisanku sebagai seorang muslimah. Ampuni aku yang belum sanggup berbuat banyak bagi saudara-saudaraku. Tuhan, jagalah mereka saudaraku di Palestina, kuatkan iman dan islamnya, berikan berkah serta rahmatMu pada setiap keluarga Palestina, berikan keberanian di setiap hati pejuang Palestine. Satukan hati para pemimpin negri muslim agar kami dapat menghancurkan kekuatan musuh-musuh Mu.

Basah! Mataku basah, hatiku basah, jiwaku basah, oleh airmata duka. Malam ini dalam tidurku yang singkat, kusaksikan dari dekat nasib bangsa Palestina. Begitu nyata! Hingga masih bersisa rasa di dalam jiwa ini.

Akh,.. mimpi ini tak biasa. Mimpiku kali ini, benar-benar nyata. Sedekat desahan nafas. Memang akhir-akhir ini aku sempat terlena dengan berbagai kesibukan yang berorientasi personal sekali. Bahkan sempat berhenti mengikuti perkembangan terkini dari Gaza. Beberapa email-email yang berisi gambar nyata kekejian perang di Gaza belum kulihat. Bukan karena tidak penting, berdasar pengalaman pertama, aku tak kuasa, tak punya hati untuk melihat kekejian-kekejian itu. Malam ini, aku tidak hanya melihat foto dan gambar, namun aku langsung merasakannya. Berada di Gaza, berhadap-hadapan langsung dengan korban dan tentara. Ya,.. aku di Gaza walau hanya dua jam saja.

Hingga kini, masih kucoba selami makna mimpi dalam tidur yang singkat ini. Mimpi burukkah ini? atau………..

Entahlah,……… masih meninggalkan sejuta tanya untukku.

Next Page »
  • Monthly

  • Blogroll

  • Meta: