Air Mata Pertiwi
Untuk yang ke-sekian kalinya, pertiwi menangis. Tangisnya pecah membelah malam, air matanya mengalir hingga menenggelamkan sebagian tubuhnya. Perut bumi pun mual karenanya. Gerangan mengapa Pertiwi begiru bersedih? duka apa yang disimpan dalam dirinya?
Pertiwi nan elok, Pertiwi yang manis, Kami tahu Kau menanggung pedih dan perih. Tubuhmu tercabik-cabik oleh keserakahan, terabaikan oleh keacuhan dan terhempaskan oleh kesombongan. Koyak sudah bajumu, Pertiwi. Kini terpuruk di sudut dunia.
Luka di sana sini dan kami masih tak perduli, hingga kini kami tak dapat mengobati. Pertiwi, sungguh kami memang tak tahu diri. Kau telah memberi dengan hati, tetapi kami masih merampasnya dengan nafsu dan tak tahu malu.
Kami berasumsi, sekarang engkau marah. Padahal kami tak tahu kemana harus pergi, bila engkau terus begini. (Kami memang tak tahu diri….)
Ahk,….. Mungkin bukan engkau yang marah, tetapi Pemilikmu Pertiwi.
Adakah yang bisa kami lakukan Pertiwi?
Untuk menghapus kesedihanmu,
Mengobati luka-lukamu,
Menjahit bajumu yang koyak,
dan membawamu kembali menjadi Pertiwi yang berseri
Pertiwi, sudikah Kau maafkan Kami?
Bukan karena tak ada tempat lain untuk pergi,
melainkan, agar Illahi-pun maafkan kami
Bandung, 27 Desember 2007
Mengenang Ke-elokan Karang Anyar dan Tawang Mangu