Bianglala Kehidupan

December 28th, 2007

Air Mata Pertiwi

Posted by faridoet in Current Affairs, Sajak-Sajakku

Untuk yang ke-sekian kalinya, pertiwi menangis. Tangisnya pecah membelah malam, air matanya mengalir hingga menenggelamkan sebagian tubuhnya. Perut bumi pun mual karenanya. Gerangan mengapa Pertiwi begiru bersedih? duka apa yang disimpan dalam dirinya?

Pertiwi nan elok, Pertiwi yang manis, Kami tahu Kau menanggung pedih dan perih. Tubuhmu tercabik-cabik oleh keserakahan,  terabaikan  oleh keacuhan dan terhempaskan oleh kesombongan. Koyak sudah bajumu, Pertiwi. Kini terpuruk di sudut dunia.

Luka di sana sini dan kami masih tak perduli, hingga kini kami tak dapat mengobati. Pertiwi, sungguh kami memang tak tahu diri. Kau telah memberi dengan hati, tetapi kami masih merampasnya dengan nafsu dan tak tahu malu.

Kami berasumsi, sekarang engkau marah. Padahal kami tak tahu kemana harus pergi, bila engkau terus begini. (Kami memang tak tahu diri….)
Ahk,….. Mungkin bukan engkau yang marah, tetapi Pemilikmu Pertiwi.

Adakah yang bisa kami lakukan Pertiwi?
Untuk menghapus kesedihanmu,
Mengobati luka-lukamu,
Menjahit bajumu yang koyak,
dan membawamu kembali menjadi Pertiwi yang berseri

Pertiwi, sudikah Kau maafkan Kami?
Bukan karena tak ada tempat lain untuk pergi,
melainkan, agar Illahi-pun maafkan kami

Bandung, 27 Desember 2007
Mengenang Ke-elokan Karang Anyar dan Tawa
ng Mangu

December 24th, 2007

Ayah, Ibu, Terima Kasih

Posted by faridoet in Putih, Sajak-Sajakku

 

Ayah, Ibu,

Engkau mulai khawatir akan kesendirianku

Walau terbiasa ketar-ketir dengan keberanianku

Engkaupun sering sendu karena kerapuhan tubuhku

Maafkan aku karenanya

 

Ayah, Ibu,

Engkau adalah mata air kasih sayang

Yang tak pernah kering

Untuk setiap dahaga hatiku

Engkau pula yang selalu menyediakan penawar untuk setiap pedih perihku

 

Engkau berdua,

Yang selalu dapat menjamah setiap warna dalam hatiku

Dan membantu merangkainya menjadi lukisan hati yang indah untukku

Terima kasih untuk itu

 

Semoga Allah senantiasa memuliakan Ayah dan Ibu

 

(* Rabblighfir lii waliwaa lidayya warhamhumaa kamaa rabbayaanii shaghiiraa* Ya Allah Tuhanku, ampunilah Aku dan Kedua orang tuaku, sayangilah keduaorangtuaku sebagaimana mereka telah memelihara dan menyayangiku)

Bekasi, 22 Desember 2007

December 18th, 2007

Kesunyian Hati

Posted by faridoet in Hitam dan Kelabu, Sajak-Sajakku

Pada Mereka Aku bertanya;
Bulan,
Adakah engkau mengerti
suasana hati yang sunyi?

Matahari,
Bilakah engkau datang
Tuk menyapa hati yang sunyi?

Mereka menjawab;
Atas kehendak-Nya aku datang
dan atas kehendak-Nya aku pergi

Aku terhenyak,…..

Ya,… Illahi Rabbi
Tuhan pemilik setiap hati
Ampuni diri yang tak pandai menjaga hati
Hingga lena diri, sembunyi di balik mimpi
Padahal Engkau berdiri di samping hati
dan berbisik,
"Jangan bersedih,
Aku di sini slalu menemani setiap hati"

  • Monthly

  • Blogroll

  • Meta: