Bianglala Kehidupan

January 25th, 2008

Sebuah Cermin Agung

Posted by faridoet in Merah Muda dan Ungu, Sajak-Sajakku

Hadiah Istimewa
dari seorang Pujangga

Sebuah Cermin Agung
Bagi seorang muslimah
Yang berkisah tentang ‘Aisyah r.a
Belahan jiwa Pria paling mulia
Muhammad saw. Rasul  tercinta

Sejatinya kecantikannya
bukan hanya paras semata
Namun akhlaknya yang mulia
Kecerdasannya menjadi lentera
di jalan dakwah
Kemanjaannya menjadi bunga
dalam rumah tangga  bahagia
dan kecemburuannya karena cinta semata
pantaslah Ia  menjadi  seorang
yang  paling dicinta
Baginda  Muhammad saw.

Sebuah Cermin Agung untukku
Seorang wanita biasa yang sering alpa
Bilakah Aku menjadi ‘Aisyah,
Untuk seorang Muhammad muda?

Gerlong, 17 Muharram 1429H

Sesungguhnya Aku tak sanggup mendifinisikan rasa ketika Kau  menyapa
hampir tak sanggup berkata apa-apa
demikian pula ketika gubaca setiap kata
yang ada hanya getar di dada
hingga sulit kurangkai kata untuk menjabarkan makna
setelah kubaca*) Aku hanya bisa membuat sebuah puisi sederhana untuk sesuatu yang sama sekali tak sederhana.

 *) Aisyah-The True Beauty, karya Sulaiman
An-Nadawi terjemahan dari Siirah as-sayyidah Aisyah Ummiil Mu’minin r.a

 

 

January 23rd, 2008

Sendu

Posted by faridoet in Hitam dan Kelabu, Sajak-Sajakku

Malam tlah datang

Lembut menyapa

Walau pias wajahnya

Ditatap nanar oleh rembulan

 

Rembulan menangis

Meraung menusuk kalbu

Tak kuasa ku tahan

Embun yang bergelayut

Di bibir mata

 

Aku pun terpaku

Bisu ………

Sayup kudengar kidung duka

Dukamu wahai punjangga

Menyayat hati setiap malam

Hingga luluhkan rembulan

 

Doamu bagai buluh perindu

Menyusup lembut di sela-sela hati

Senduku karena resahmu

 

Aku berlari

Mencari diri di muka Illahi

Berharap untuk selalu dapat kembali

Mensucikan hati tuk raih cinta hakiki

Penuh arti

 

Tuhan, ampuni aku untuk duka itu

Aku hamba yang tak berdaya

Atas Kuasamu aku mengiba

Agar duka tak menjadi lara

 

 

Bandung, 22 Januari 2008

Sadewa, Sorry for  the  inconvenient feeling

January 19th, 2008

Keindahan yang Tak Terjamah Indra

Posted by faridoet in Jingga, Sajak-Sajakku

Hakikat yang ada bukan 1, bukan 2, bukan
angka

Tapi sebuah, dua buah dan bilangan

Hakikat yang ada bukan bola bukan roda

Tapi seperti bola seperti lingkaran

Hakikat yang ada tak bergantung pada ruang

Tak bergantung pada waktu

 

Seperti seorang Platonis

Aku yakin semua telah ada

Dalam akal budi manusia

Tuhanlah yang mencipta

 

Keabstrakannya tak terjamah mata

Hanya dapat diraih oleh kreasi akal budi

Seperti Intusionis yang berkata

Keteraturan yang ada bukan kebetulan belaka

Tetapi keabstrakan dan keteraturan itu
nyata adanya

Dan Kau dapat bermain-main dengannya

Seperti perkataan para Formalis

 

Jika Engkau mau mencari,

Hakikatnya keindahan itu ada di sekitarmu

Bahkan menyatu dengan diri dan hidupmu

 

Itulah keindahan yang tak terjamah oleh
indra

Hanya dapat dinikmati dengan mencari
esensi sejati

Melalui akal budi dan konstruksi

Hingga keindahan itu mencapai nilai
pragmatisnya

Dan menjadi ratu di jagad raya

 

  

This
poem is dedicated for my beloved friend “The secret admired of Mr. Bana
Kartasasmita”

Happy
Birthday to You on

January,8
2008

May Allah bless every step that U make.

Studying Mathematics Philosophy is just like doing parasailing in
Bedugul, first U feel afraid to start but after U can fly in the air U will ask
more and more. Trust Me!

 

January 2nd, 2008

Saling Menunggu

Posted by faridoet in Merah Muda dan Ungu, Sajak-Sajakku

Suatu ketika tersirat kata
Esok atau lusa, kita  ingin bersua

Ketika tiba masanya,
Ternyata Aku hanya bisa menunggu
Karena terlalu malu
Menurutku,  Kau  pun begitu

Hingga kita tak jadi bertemu
Sepertinya kita memang lugu dan pemalu

Menggelikan dan sungguh lucu!

Bandung, 2 Januari 2008

January 2nd, 2008

Air Mata dan Kematian

Posted by faridoet in Biru

“Kenapa ya aku gak ngerasain apa-apa?” “iya sih sakit,
waktu kemarin aku denger dia menikah, tapi udah tuh, segitu aja”.

 “Iya teh, kalo bisa nangis kaya Teteh mah rasanya lega
kali ya,…..”

“Dadaku rasanya penuh banget tapi gak bisa nangis,
dipaksa juga airmatanya gak bisa keluar Teh, kenapa ya?”

Demikian sedikit cuplikan dua sahabatku yang baru saja
merasakan pengalaman pahitnya sebuah relasi antara pria dan wanita yang tidak
sesuai dengan harapan. Yang menarik adalah, mereka mengalami kesedihan namun
mereka tidak dapat menagis karenanya, walaupun mereka mengharapkannya. Mereka
bertanya padaku apa yang terjadi?

 

Dilain pihak, begitu mudahnya airmataku mengalir hanya
karena melihat kejadian-kejadian di sekitar yang bahkan tidak ada kaitannya
dengan diriku. Dari melihat berita bencana, melihat anak kucing yang
teriak-teriak memanggil induknya, menonton film drama yang sudah lebih dari 3
kali aku lihat, aku tetap menangis, mengetahui ada sahabat SD yang masih
mengingatku dan mencariku hanya untuk mengabarkan bahwa dia mau menikah, itupun
membuatku terharu dan menangis. Apalagi kejadian-kejadian yang jelas-jelas berhubungan
dengan relasi antara aku dengan Tuhan, aku dengan keluarga dan aku dengan
orang-orang yang memberi keindahan yang hanya dapat dilukiskan oleh hati dalam
hidupku.

Bagiku air mata mengalir bukan hanya karena kesedihan
semata, namun sering kali airmata mengalir karena aku malu, marah, tidak
berdaya, takut bahkan sering kali karena terlalu bahagia. Banyak perasaan yang
sulit diungkapkan dengan kata-kata, dan kadang hanya dapat diekspresikan saja.
Pada kasus-kasus seperti ini airmata sering kali digunakan untuk
mengekspresikan perasaan. Contohnya, pada prosesi akad nikah, walaupun belum
pernah mengalaminya
J, hampir pada setiap prosesi pernikahan yang aku lihat,
tidak sepatah katapun yang terucap kecuali bulir-bulir bening yang mengalir
ketika akad terucap.

 

Airmata dan wanita. “Biasanya wanita lebih mudah
meneteskan air mata” begitu pendapat banyak orang. Padahal sebenarnya tidak
juga, lihat Andy F Noya membawakan Kick Andy, berapa kali beliau tidak dapat
membendung airmatanya ketika membawakan acara dengan topik-topik yang sangat
menyentuh? Atau perhatikan saja ketika masa kanak-kanak, apakah anak lelaki
tidak lebih cengeng dari anak perempuan? Aku rasa mereka sama. Hanya saja
budaya sering kali menuntut pria untuk lebih kuat menahan airmatanya. Sehingga,
menurutku perbedaan antara airmata wanita dan pria adalah pada pemantik rasa
yang berbeda. Wanita lebih sering menangis karena mengaitkan kejadian dengan
dirinya, sedangkan pria menangis karena perasaannya memang terasah sehingga
tidak semua kejadian emosional dapat membuat pria menangis.

Kembali ke awal masalah, mengapa sampai tidak bisa
menangis ketika kekecewaan yang begitu dalam datang? Mungkin karena terlalu
kecewa sehingga menolak perasaan sendiri dan pada akhirnya hatinya menjadi
keras. Atau karena rasa empatinya hampir mati.

Ketika kepedihan datang dan air mata tidak dapat mengalir
yang ada adalah ekspresi kehampaan. Bagaimana jika itu semua terjadi? Bukankah
itu akan berakibat fatal pada akhirnya? Dapat muncul keacuhan, ketidakpedulian,
baik pada diri sendiri ataupun lingkungan. Bagaimana mengatasi hal ini?

Jika aku merasa hampa, biasanya aku merenung mencari
diri, kadang membaca cerita-cerita ‘true story’ yang banyak menggugah hati,
atau menonton film-film yang dapat menggugah hati seperti “Chilldren of Heaven”
dan “Hotel Rwanda” dll. Tiap orang pasti memiliki cara tersendiri yang bisa
membangkitkan emosi di hati. Namun yang paling ampuh untukku biasanya adalah
merenung mencari diri, bertanya tentang tujuan hidup, tentang nikmat yang telah
Allah berikan versus dosa yang telah diperbuat, tentang keberadaan Ayah, Ibu
dan adikku serta insan-insan yang memberi warna pada hatiku.

Selain itu ada satu hal yang dengan melakukannya dapat
menghidupkan hati. Apa itu? Mengingat kematian!

Seperti sabda Nabi; "Ingatlah kematian. Demi Zat yang nyawaku berada
dalam kekuasaan-Nya, kalau kamu mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kamu
akan tertawa sedikit dan banyak menangis".

Seorang sahabatku sangat takut pada kematian,
itu terjadi setelah dia membaca buku Gie yang menggambarkan kesepian yang
begitu hidup menjelang kematiannya, karena takutnya akan mati bahkan ia justru
tersirat ingin menyegerakannya. Namun dilain pihak, ia kesulitan untuk
menitikkan air mata walaupun hasratnya begitu besar untuk menangis. Ini bukan
sesuatu yang mudah aku pahami dan aku
mengerti. Bagiku, kematian hanya sebuah pintu gerbang dalam dimensi ‘kehidupan’
seperti juga kelahiran yang pasti adanya. Oleh karenanya aku lebih takut pada
kehidupan yang terdapat diantaranya. Karena kehidupan diantaranya penuh
ketidakpastian dan menurutku itu lebih menakutkan. Walaupun berlaku sebuah
implikasi dalam hal ini namun untuk membuat sebuah tautologi dari implikasi
tersebut agar selalu diperoleh konklusi yang bernilai benar bukanlah suatu hal
yang mudah.

 

Jika
kematian memang suatu hal yang menakutkan dan hal yang menakutkan dapat membuat
kita menangis, bukankah dengan mengingat kematian kita menangis karenanya?

Ataukah tidak semua orang yang ketakutan akan
menangis?

“Sahabat, aku pikir hanya diri sendiri yang
dapat mencari jawabnya”

 

                Namun tidak sama kasusnya, ketika putus cinta, putus asa,
kemudian menangis karena ingin bunuh diri. Meskipun sama-sama mengingat tentang
mati, namun jelas sekali perbedaannya. :P

                Jika air mata, salah satu pertanda hati yang hidup, maka
mohonlah pada Allah agar hati dihidupkan;

                “Yaa hayyu yaa Qayyumu yaa
badii’as-samaawaati wal ardhi ya dzal-jalaai wal-ikraaami. Yaa Allahu laa
ilaaha illaa Anta as-aluka an tuhyia qalbii binuuri hidayaatika ya
Arhamar-raahiimiina

                Wahai Dzat Yang Hidup dan Berdiri Sendiri, wahai Dzat
yang menciptakan langit dan bumi, wahai Dzat yang mempunyai kemuliaan dan
kemurahan, Ya Allah, tiada Tuhan melainkan Engkau, aku memohon kepadaMu agar
Engkau hidupkan hatiku dengan cahaya hidayah-Mu, wahai Dzat Yang Paling
Pengasih”

Untuk sahabat,

Bandung . 1 January 2008

 

  • Monthly

  • Blogroll

  • Meta: