“Kenapa ya aku gak ngerasain apa-apa?” “iya sih sakit,
waktu kemarin aku denger dia menikah, tapi udah tuh, segitu aja”.
“Iya teh, kalo bisa nangis kaya Teteh mah rasanya lega
kali ya,…..”
“Dadaku rasanya penuh banget tapi gak bisa nangis,
dipaksa juga airmatanya gak bisa keluar Teh, kenapa ya?”
Demikian sedikit cuplikan dua sahabatku yang baru saja
merasakan pengalaman pahitnya sebuah relasi antara pria dan wanita yang tidak
sesuai dengan harapan. Yang menarik adalah, mereka mengalami kesedihan namun
mereka tidak dapat menagis karenanya, walaupun mereka mengharapkannya. Mereka
bertanya padaku apa yang terjadi?
Dilain pihak, begitu mudahnya airmataku mengalir hanya
karena melihat kejadian-kejadian di sekitar yang bahkan tidak ada kaitannya
dengan diriku. Dari melihat berita bencana, melihat anak kucing yang
teriak-teriak memanggil induknya, menonton film drama yang sudah lebih dari 3
kali aku lihat, aku tetap menangis, mengetahui ada sahabat SD yang masih
mengingatku dan mencariku hanya untuk mengabarkan bahwa dia mau menikah, itupun
membuatku terharu dan menangis. Apalagi kejadian-kejadian yang jelas-jelas berhubungan
dengan relasi antara aku dengan Tuhan, aku dengan keluarga dan aku dengan
orang-orang yang memberi keindahan yang hanya dapat dilukiskan oleh hati dalam
hidupku.
Bagiku air mata mengalir bukan hanya karena kesedihan
semata, namun sering kali airmata mengalir karena aku malu, marah, tidak
berdaya, takut bahkan sering kali karena terlalu bahagia. Banyak perasaan yang
sulit diungkapkan dengan kata-kata, dan kadang hanya dapat diekspresikan saja.
Pada kasus-kasus seperti ini airmata sering kali digunakan untuk
mengekspresikan perasaan. Contohnya, pada prosesi akad nikah, walaupun belum
pernah mengalaminya J, hampir pada setiap prosesi pernikahan yang aku lihat,
tidak sepatah katapun yang terucap kecuali bulir-bulir bening yang mengalir
ketika akad terucap.
Airmata dan wanita. “Biasanya wanita lebih mudah
meneteskan air mata” begitu pendapat banyak orang. Padahal sebenarnya tidak
juga, lihat Andy F Noya membawakan Kick Andy, berapa kali beliau tidak dapat
membendung airmatanya ketika membawakan acara dengan topik-topik yang sangat
menyentuh? Atau perhatikan saja ketika masa kanak-kanak, apakah anak lelaki
tidak lebih cengeng dari anak perempuan? Aku rasa mereka sama. Hanya saja
budaya sering kali menuntut pria untuk lebih kuat menahan airmatanya. Sehingga,
menurutku perbedaan antara airmata wanita dan pria adalah pada pemantik rasa
yang berbeda. Wanita lebih sering menangis karena mengaitkan kejadian dengan
dirinya, sedangkan pria menangis karena perasaannya memang terasah sehingga
tidak semua kejadian emosional dapat membuat pria menangis.
Kembali ke awal masalah, mengapa sampai tidak bisa
menangis ketika kekecewaan yang begitu dalam datang? Mungkin karena terlalu
kecewa sehingga menolak perasaan sendiri dan pada akhirnya hatinya menjadi
keras. Atau karena rasa empatinya hampir mati.
Ketika kepedihan datang dan air mata tidak dapat mengalir
yang ada adalah ekspresi kehampaan. Bagaimana jika itu semua terjadi? Bukankah
itu akan berakibat fatal pada akhirnya? Dapat muncul keacuhan, ketidakpedulian,
baik pada diri sendiri ataupun lingkungan. Bagaimana mengatasi hal ini?
Jika aku merasa hampa, biasanya aku merenung mencari
diri, kadang membaca cerita-cerita ‘true story’ yang banyak menggugah hati,
atau menonton film-film yang dapat menggugah hati seperti “Chilldren of Heaven”
dan “Hotel Rwanda” dll. Tiap orang pasti memiliki cara tersendiri yang bisa
membangkitkan emosi di hati. Namun yang paling ampuh untukku biasanya adalah
merenung mencari diri, bertanya tentang tujuan hidup, tentang nikmat yang telah
Allah berikan versus dosa yang telah diperbuat, tentang keberadaan Ayah, Ibu
dan adikku serta insan-insan yang memberi warna pada hatiku.
Selain itu ada satu hal yang dengan melakukannya dapat
menghidupkan hati. Apa itu? Mengingat kematian!
Seperti sabda Nabi; "Ingatlah kematian. Demi Zat yang nyawaku berada
dalam kekuasaan-Nya, kalau kamu mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kamu
akan tertawa sedikit dan banyak menangis".
Seorang sahabatku sangat takut pada kematian,
itu terjadi setelah dia membaca buku Gie yang menggambarkan kesepian yang
begitu hidup menjelang kematiannya, karena takutnya akan mati bahkan ia justru
tersirat ingin menyegerakannya. Namun dilain pihak, ia kesulitan untuk
menitikkan air mata walaupun hasratnya begitu besar untuk menangis. Ini bukan
sesuatu yang mudah aku pahami dan aku
mengerti. Bagiku, kematian hanya sebuah pintu gerbang dalam dimensi ‘kehidupan’
seperti juga kelahiran yang pasti adanya. Oleh karenanya aku lebih takut pada
kehidupan yang terdapat diantaranya. Karena kehidupan diantaranya penuh
ketidakpastian dan menurutku itu lebih menakutkan. Walaupun berlaku sebuah
implikasi dalam hal ini namun untuk membuat sebuah tautologi dari implikasi
tersebut agar selalu diperoleh konklusi yang bernilai benar bukanlah suatu hal
yang mudah.
Jika
kematian memang suatu hal yang menakutkan dan hal yang menakutkan dapat membuat
kita menangis, bukankah dengan mengingat kematian kita menangis karenanya?
Ataukah tidak semua orang yang ketakutan akan
menangis?
“Sahabat, aku pikir hanya diri sendiri yang
dapat mencari jawabnya”
Namun tidak sama kasusnya, ketika putus cinta, putus asa,
kemudian menangis karena ingin bunuh diri. Meskipun sama-sama mengingat tentang
mati, namun jelas sekali perbedaannya.
Jika air mata, salah satu pertanda hati yang hidup, maka
mohonlah pada Allah agar hati dihidupkan;
“Yaa hayyu yaa Qayyumu yaa
badii’as-samaawaati wal ardhi ya dzal-jalaai wal-ikraaami. Yaa Allahu laa
ilaaha illaa Anta as-aluka an tuhyia qalbii binuuri hidayaatika ya
Arhamar-raahiimiina”
Wahai Dzat Yang Hidup dan Berdiri Sendiri, wahai Dzat
yang menciptakan langit dan bumi, wahai Dzat yang mempunyai kemuliaan dan
kemurahan, Ya Allah, tiada Tuhan melainkan Engkau, aku memohon kepadaMu agar
Engkau hidupkan hatiku dengan cahaya hidayah-Mu, wahai Dzat Yang Paling
Pengasih”
Untuk sahabat,
Bandung . 1 January 2008