Bianglala Kehidupan

February 27th, 2008

Sadar akan Kekhilafan

Posted by faridoet in Putih, Sajak-Sajakku

Tuhan Ampuni aku,….
Ampuni ketidaksabaranku dalam menempuh ujian ini
hingga langkahku sempat tak tentu arah
Ampuni kenaifanku yang membuatku terjebak
dalam persimpangan kebijaksanaan
Tuhan ampuni aku, ampuni aku, ampuni aku, ampuni aku Tuhan.

*)Ditulis ketika tersadar, angin emosi sempat singgah di hati seorang wanita yang bertahan dan berjuang arungi badai kehidupan

February 27th, 2008

Ayah, Ibu, Percayalah,……

Posted by faridoet in Putih, Sajak-Sajakku

Ayah, Ibu,
Usah sendu karena resahku
Rengkuh saja Aku dalam untaian doamu
Agar Aku setegar karang
Yang tak lekang dihantam gemuruh ombak

Ayah, Ibu,
Aku akan bertahan dan terus berjuang
karena yakin akan prinsip yang Kupengang

Ayah, Ibu,
Yakinkan diri Kalian
Akan ketegaranku dalam kesendirian
Percayalah,…
Tuhan akan menjadikan segalanya indah
pada saat yang telah ditentukan

*) Ditulis Ketika merenungi badai yang datang silih berganti,
   terseok-seok mengukuhkan dan menguatkan hati.
   Labkom SPS UPI, 27 feb 2008 17.10

February 23rd, 2008

BEBEK GORENG MEMBAWA HIKMAH

Posted by faridoet in Cerita

Beberapa hari yang lalu, seorang sahabat, teman sekelasku yang sedang
berbunga-bunga karena “jatuh cinta” mentraktir makan bebek goreng depan Rumah
Sakit Baromius yang terkenal “top markotop pake sirop minumnya dikokop
di kota Bandung ini (kata dia lho,….:) tapi memang tidak meleset sih, pasalnya
untuk makan satu porsi bebek goreng di sana atriiiiinya luar biasa,
sampai-sampai harus pake nomor antrean segala. Serius lho! Kita dapat nomor
antrean 11 sore itu.

Kebetulan yang ditraktir cuma 4 orang aja, 3 orang wanita dan seorang pria.
Seorang pria dan salah satu dari ketiga wanita itu baru saja mendeklarasikan
hubungan mereka di kelas. Nah, Jadi kami semua ada berapa orang hayo? (loh kok,
malah kayak soal cerita gini ya?^_^) Ya jelas kami berlima dunk! Kami berangkat
dari Panorama selepas Ashar, naik angkot Ledeng-Caheum, turun di ITB trus, kami
memilih untuk menyusuri jalan yang teduh ke arah Dago menuju Halte bus Baromius
dimana kami berjanji bertemu dengan pasangan baru yang sudah menunggu di halte
tersebut untuk selanjutnya bertolak ke tujuan Utama bersama “Bebek Goreng di
depan RS Baromius”.

Setelah menunggu kurang lebih 30
menit, hingga menghabiskan 5 bungkus kerupuk yang tersedia di meja sambil diskusi
and ngobrol ngalor-ngidul dari topik usaha, makanan, Analisis Real, dunia maya
sampai masalah perang saudara di Sampit, akhirnya yang kami tunggu-tunggu
datang juga. Hm,…. Bebek goreng yang teksturnya lembut, empuk, gurih, dari
aromanya saja sudah mengundang selera, benar-benar tidak mengecewakan! Seperti
kebiasaan di kelas, selera diskusi kami langsung lenyap tak meninggalkan jejak
ketika makanan datang, mulut langsung bungkam, masing-masing kami dengan
khidmad menikmati sajian bebek goreng yang lezat. “Hmm…. Nyam..nyam…nyam..” Jadi
ada pelajaran penting tentang teman-teman sekelasku, jika mereka luar biasa ribut
hingga membuat kepalamu pening, maka
bawakan saja makanan apalagi yang enak untuk membungkam mulut mereka. Metode
ini benar-benar sudah terbukti efektif. “Peace Man!” (jangan lupa sodorkan jari
telunjuk dan tengahmu,…^_^)

Selesai makan, kami tidak dapat bercakap-cakap lebih lama karena antrean
bertambah banyak, ketika kami pulang antrean sudah mencapai nomor 79 dalam
hitungan menit! Menakjubkan! Oleh karenanya kami harus segera meninggalakan
meja untuk memberi kesempatan pada para antrean yang berwajah memelas menahan
lapar dan sabar. Kami pulang bertiga lagi, sebut saja dengan Suci, yang
mentraktirku dan Teh Fulanah yang sama senangnya denganku karena baru terpilih
menjadi orang beruntung dari 20 mahasiswa dikelas untuk ditraktir makan bebek
goreng enak yang gratis
J. Sedangkan pasangan yang baru jadian itu
pulang berdua ke arah yang berbeda dengan kami.

Suci orang Bandung asli yang sedang semangat-semangatnya memperbaiki diri,
periang, cantik(belum lama ini sempat di kira sebagai Naysila Mirdad lho,…)  dan murah hati (karena baru saja mentraktir
kami bebek goreng he..he..he..). Karena rumahnya agak jauh di daerah ujung
berung, maka dia kos di daerah gerlong tengah, satu-satunya teman sekelas yang ke
kampus bawa mobil kijang putih atau naik mio putih yah pokoknya kendaraannya
serba putih lah,…. Nah, kalo musim tugas atau ujian dia sering main ke kosku.
Itu dulu, waktu Ibu kos masih baik (atau pura-pura baik ya?! Astagfirullahal
adhim……setan pasti senang telah berhasil menghasutku karena belum bisa
membuang prasangka buruk
), tapi sejak teman-teman sekelas lainnya mengalami
perlakuan buruk dari ibu kos baik sepengetahuanku ataupun tidak, sekarang tidak
satupun yang sudi main ke kos ku lagi, kecuali kepepet (seperti si Ana)
L itupun sambil bersungut-sungut seperti baru saja
tersengat lebah hutan jantan!

Sedangkan Teh Fulanah, asalnya dari garut salah satu dosen di perguruan
tinggi swasta di garut. Awalnya aku kurang intim sama dia, namun sore itu akhirnya
aku bisa mengenal dia lebih dekat. Dan ternyata kebersamaan itu membuahkan
hikmah (setidaknya) untukku (semoga untuk dirinya juga).

Sepanjang perjalanan, kami ngobrol tentang topic-topic yang sedang panas di
kelas, dari masalah mata kuliah, nilai, tugas, sampai urusan pribadi. Suci
bercerita tentang perasaan yang sedang berbunga-bunga karena sejak tiga minggu
yang lalu sedang dekat dengan salah satu teman guru di sekolah tempatnya
mengajar, dan sepertinya dia benar-benar jatuh cinta padanya. Hal ini yang
membuat Suci gundah gulana, merah merona dan kadang-kadang melakukan hal tidak
terduga yang membuatku ternganga. Akhir-akhir ini kami sering bertukar pendapat
tentang masalah orientasi pada saat dekat dengan seorang pria, bagi Suci,
kedekatan dengan pria itu identik dengan membina sebuah hubungan yang biasa
dikenal “pacaran” yang tujuan akhirnya belum pasti menuju pernikahan. Sedang
aku sendiri tidak sepaham dengannya, bagiku jika ada pria yang mengetuk pintu
hatiku maka ia adalah calon qowam dalam rumah tanggaku.dan selanjutnya
jika Tuhan berkenan, perkenalan itu kelak akan konvergen pada satu titik pasti
“pernikahan”. Nah, sejak diskusi kami yang terakhir, Suci benar-benar tersentuh
dengan statemen ini. Meskipun aku tidak mengutarakannya sama persis dengan
kalimat tersebut.

Suci turun lebih dulu di dekat warung “Surabi Imut” yang terkenal itu lho,…
sedang aku dan teh Fulanah turun
kemudian di Panorama. Karena sudah tiba waktu magrib, aku memutuskan untuk
numpang sholat di kos teh fulanah. Sekalian dalam rangka ihktiar mencari kos
baru. Kos Teh Fulanah mewah, nyaman sekali, khusus untuk perempuan, bayarnya bulanan,
dan aman sepertinya cocok buat alternatif aku pindah, tapi sayang sungguh
sayang, kamar yang kosong hanya tersisa satu yang paling besar dengan harga
yang paling mahal 600 ribu per bulan. Sayang sekali,……. jangan-jangan
karena nyaman-nya aku jadi males untuk meninggalkan kamarku,…..menikmati
setiap jengkal kamar yang aku sewa begitu mahalnya setiap waktu,…..(Ups!
Rasanya aku tertular penyakitnya Ibu kos deh,……menghitung-hitung sesuatu
yang tak perlu dihitung ow!..ow!….)

Setelah sholat, aku duduk sebentar di atas kasurnya, karena kamarnya memang
agak sempit, aku sempat membayangkan jika aku yang tinggal di kamar itu, untuk
tempat buku-bukuku saja rasanya tidak muat deh,…bisa-bisa aku tidur di atas
buku atau bahkan aku tidur berdiri! Karena ukuran kamarnya hanya setengah dari
ukuran kamar yang aku tempati sekarang.

udah sholatnya da?”

Teh Fulanah masuk ke kamar, karena tadi sempat keluar sebentar supaya aku
bisa sholat dengan lebih leluasa.

udah teh, sok atuh gantian

Saya mah lagi gak sholat, ini sepertinya ada masalah tidak sesuai
jadwal datangnya

hm,… Kecapekan barang kali teh,… atau lagi stress ya?”

“Iya nih Ida, tau aja deh,.. emang sih saya sedang ada yang dipikirin”

“Ah, Cuma nebak aja Teh. Kira-kira ada yang bisa Ida bantu gak teh?”

“Begini ceritanya,…..”

Teh fulanah bercerita bahwa dia telah terlibat sebuah hubungan dengan
seorang pria beristri teman satu kantornya sejak tiga tahun yang lalu. Sang
pria ini, adalah seorang ikhwan qodhul bashor yang mendapatkan istrinya
yang juga akhwat sejati berjilbab lebar melalui sebuah proses
perjodohan, namun setelah menikah ternyata ada banyak hal yang tidak ditemukan
pada istrinya, hingga dia kecewa dan pada saat yang bersamaan bertemu dengan
Teh Fulanah di kantor. Entah bagaimana bermulanya, namun pada akhirnya seiring
berlalunya waktu mereka berdua sama-sama punya rasa ketertarikan dan pada
akhirnya bahasa tubuh mengisyaratkan bahwa mereka memiliki rasa ketertarikan
satu dengan lainnya. Bahkan sang pria telah mengutarakan secara lisan pada teh
fulanah berniat untuk menikahinya hanya saja dia tidak mampu menceraikan istrinya
sebagaimana disyaratkan teh fulanah walaupun ia tidak berkebaratan untuk
merawat dua anaknya. Istri beliau pun berkerja di tempat kerja yang sama.
Sehingga susana sering kali panas dan kacau di kantor. Bahkan sang pria ini
juga sudah berterus terang pada istrinya bahwa dia memang tertarik pada teh
fulanah, namun sang istri tidak bisa terima. Bahkan sampai-sampai sang istri
merubah penampilannya yang dulu berjilbab sangat lebar dan berjubah, sekarang
tidak lagi. Beberapa hari yang lalu sang pria ini kembali mengatakan bahwa
dirinya tidak bisa melupakan teh fulanah dan bertanya apakah mau menikah
dengannya. Nah, Teh Fulanah sekarang ini
sedang bingung mau mengambil keputusan apa. Pasalnya mereka pernah mencoba
untuk saling menjauh, namun ternyata mereka tidak dapat bertahan. (“hm…hm…cinta
oh cinta serba tak terduga,……”
sambil menggeleng-gelengkan kepala)

Benar-benar masalah yang amat rumit, Aku prihatin sekali. Susah ya, menjadi
orang dewasa?! Kadang-kadang kata-kata si Ana ada benarnya juga. Pantas dia
belum mau jadi dewasa,…. cukup puas dengan status BSD (Baru Setengah Dewasa)^_^

Bukankah salah satu bedanya orang dewasa dan anak-anak adalah bahwa orang
dewasa bertanggung jawab pada setiap pilihan yang dibuatnya berikut
konsekunsinya. Jadi kesimpulan yang ditarik dari premis dan antiseden-nya harus
ditanggung sendiri. Selain itu, orang dewasa itu juga sudah dapat memilih kan?
Tentu dengan pertimbangan segala resiko yang sanggup ia tanggung. Dalam kasus
ini, satu yang harus disadari adalah bahwa jangan sampai terjadi “mengharamkan
yang halal dan menghalalkan yang haram” hanya karena beban sosial yang
mengikuti sebagai akibat dari pilihan yang sudah diambil. “Nah Lho! Jadi ruwet
khan?!” Tentu saja saran pertama saya adalah kembalikan dulu masalsah ini pada
Dia Sang Maha Kuasa, karena timbulnya masalah tidak lain tidak bukan juga atas
seijin-Nya. Kemudian minta petunjuk, dan pada akhirnya buat pilihan dengan
mempertimbangkan segala resikonya. Sok dewasa yah?!,…. padahal mah bukan
dewasa tapi tua aja! ….. ^o^

Nah,… kurang lebih begitulah saranku (yang terlihat sok bijaksana itu) padanya.
Hingga tidak terasa ternyata sudah pukul 20.00, kontan bikin aku panik untuk
cepat-cepat pulang. Karena rumah dimana tempat aku kos sudah terkunci sejak
pukul 20.00. meskipun aku diberi kunci pintu rumah utama, tapi seringkali pintu
utama juga dislot dari dalam dan slotnya itu bukan slot bisa tapi slot otomatis
aku juga baru lihat yang model begitu,
aku juga tidak diberi kunci gembok pagar walaupun aku sudah minta
berulang-ulang, hingga mba evu pernah manjat pagar itu untuk keluar dari rumah
kosku setelah gagal dalam usaha membangunkan penghuni rumah berkali-kali dan
akupun pernah dikunci di luar rumah beberapa kali hingga harus bermalam dengan
terpaksa di rumah teman, karena meskipun kau pencet bel itu seratus kali pintu
tidak akan terbuka  tanpa konfirmasi
apapun. Esok pagi akan berlalu seolah-olah semalam tidak ada orang yang
terkunci diluar. So… pathetic!. Aku juga pernah menangis terisak-isak
di depan pagar karena terkunci di rumah tidak bisa sholat shubuh ke masjid
karena pagarnya di gembok dan kuncinya yang cuma satu itu dibawa Bapak kos ke
Masjid. Tadinya mau ikutan manjat pager, tapi aku kan pake mukena, (alasan
sesungguhnya aku takut lah yau,…
) ya udah akhirnya aku nagis aja balik ke
kamar,…. hik..hik..hik…. sedihnya kos sendirian tidak punya teman
untuk memberontak, jika saja ada, aku akan menyusun strategi untuk melakukan
pemberontakan yang dasyat dan luar biasa! Aku kan konsumen! Yang seharusnya mendapatkan pelayanan sesuai kesepakatan
akad jual beli di awal…. (kalau sedang begini biasanya tanduk dan taringku
keluar dari tempat persembunyiannya, dan setan-setan tertawa riang…..
:) dapat kau bayangkan tidak?

Akhirnya aku pamit, jalan sambil setengah berlari dari panorama ke kos,
lumayan jauh lho,.. untuk waktu normal 15-20 menit, tapi malam itu aku tempuh
dalam waktu 7 menit, ngos-ngosan, wah! bebek gorengku akhirnya menjelma menjadi
energi yang menggerakkan kaki-kakiku untuk menempuh perjalanan panjang itu. (Agar
berkesan daramatis!)

Sampai di rumah kos, benar saja sudah gelap gulita, tapi aku masih
beruntung karena pagar belum di gembok. Akhirnya dengan meraba-raba aku naik
tangga menuju kamarku, wudhu, sikat gigi, sholat isya, (Ayo tebak, aku mandi
gak?… tapi jawab dalam hati aja ya…
) trus,….. berbaring
mengistirahatkan kakiku yang rasanya masih senut-senut,… dalam
pembaringan itu, mozaik-mozaik kejadian melintas dalam benakku, dari pengaturan
jadwal yang ketat, masalah penggagasan pengajian kelas, nilai-nilai semester
ini yang belum keluar semua, bibit ikan lele buat Bapak, sms dan email dari
mahasiswa-mahasiswaku yang butuh bantuan dari soal Aljabar linear sampai soal
pribadi, sampai kegiatan belajar bersama untuk memfasilitasi teman-teman
sekelas yang butuh bantuan, nah masalah yang terakhir ini mengingatkanku akan
masalah yang sedang aku hadapi dengan Ibu kos(berhubung biasanya koskulah yang
dijadikan tempat kami belajar bersama). Tiba-tiba Aku menjadi malu, pada
Tuhanku dan diriku sendiri karena merasa begitu cengeng menghadapi masalah
begini sepele seperti dunia mau runtuh saja, padahal masalah lain yang lebih
berat dan terkait hajat orang banyak masih bertumpuk (“Sok peduli deh,…..”)
(jadi inget pertanyaan-pertanyaan Ummi Emma Khainsi ketika pertama kali kami
berjumpa, tentang bidang minatku “wah aku
jadi tambah malu deh,….. Kelihatan gak wajahku merah
?”), selain itu ada
teman(lebih dari satu) yang punya masalah lebih berat dariku masih tegar, Eh,..
aku malah ingin menyerah begitu saja dan pergi meninggalkan kos ini, (walaupun
ini saran terbanyak yang aku dapatkan dari ortu dan sahabat, any way thanks to
all)
, padahal mungkin dengan pindah ke kos baru yang belum aku ketahui
kondisinya bisa menambah masalah baru. Seminggu ini, Aku pontang panting cari
kos yang nyaman dan bulanan dari ujung panorama hingga Geger Arum tapi belum
dapat jua. Sayang sungguh sayang pilihan yang ada justru di depan rumah yang
dulu bahkan jilakaupun ada kamar kosong  aku menolaknya karena harus campur cowok-cewek.
Aku terpekur lagi. Berulang kali bertanya pada diri sendiri apa yang harus aku
lakukan? Apa yang sedang Tuhan ajarkan padaku? Setelah aku renungkan lagi, aku
mendapatkan jawab (setidaknya untuk sementara ini) bahwa dalam setiap masalah,
ikhtiar dalam menyelesaikannya harus maksimal, hati-hati dalam mengambil
keputusan jangan sampai emosi mengalahkan rasio, masalah yang berhubungan
dengan muamalah itu bukan terkait pada pribadi orangnya melainkan perilakunya,
dan yang jelas setiap masalah itu pada dasarnya adalah alat ukur indeks
kesabaran kita. (he..he…he… yang terakhir ini memang tidak mudah
sobat,….) setidaknya butuh perjuangan dan pengorbanan namun Aku yakin akan
berbuah manis diakhirnya.

Akhirnya untuk sementara waktu aku putuskan untuk bertahan, berjuang dan
bersabar sambil ikhtiar maksimal dan tidak lupa tawakal. Oya, kemarin akhirnya
Teh Fulanah memberitahukanku bahwa pada akhirnya mereka sepakat untuk
berpisah,…..Alhamdulillah

Rabbi
a’innii wa la tu’in ‘alayya,wanshunii wa laa tanshur ‘alayya, wamkurli wa laa
tamkur ‘alayya, wa yassir hudaayawanshurnii ‘alaa manbagho ‘alayya.
Rabbij’alnii laka syaakiran, laka dzaakiran, laka raahiban, laka mithwaa’an,
ilaika mujiban au muniiban. Rabbi taqobbal taubatii, waghsil haubatii, wa ajib
da’watii, wa tsabbit hujjatii, wahdi qalbi, wa saddid lisaanii, waslul
sakhiimata qalbii”.

 

Ya Allah ya
Tuhanku bantulan Aku dan janganlah Engkau membantu menyulitkan Aku, tolonglah
Aku dan janganlah Engkau menolong untuk menyengsarakan Aku, berilah Aku siasat
dan jangan Engkau beri siasat untuk mengalahkan Aku, mudahkanlah petunjukku dan
tolonglah Akuterhadap orang yang menganiayaku. Ya Tuhanku jadikanlah aku orang
yag bersyukur kepadaMu, ingat padaMu, takut padaMu, taat padaMu, memenuhi
perintahMu dan kembali padaMu. Ya Tuhanku terimalah taubatku, cucilah dosaku,
perkenankanlah doaku, tetapkanlah hujjahku, tunjukilah hatiku, luruskanlah
ucapanku dan lenyapkanlah kedengkian hatiku.

(dikutip dari Risalah Doa-Doa Makbul, Drs.
Moh Anwar dan hadijah Shaleh. 1989. Husaini. Bandung)

 

*) Buat Ana dan Bu Neneng,
ikutan sabar ya,… jangan diambil hati deh,.. tapi pahanya aja, kan dagingnya
juga banyak
J Buat Yanri, Insya Allah
akan ada solusi tentang tempat yang paling baik buat kita. Thanks berat,
menjadi teman seperjuangan dalam mencari kebaikan(memang hilang dimana ya?), Mari saling menguatkan!
Oya,.. Ana, Thanks udah nemenin muter2 cari kosan, semoga menjadi amalmu
deh,….

**) Cerita ini dimuat atas dasar persetujuan beberapa tokoh utama yang terlibat.

 

February 23rd, 2008

Visi dan Aymtot Abadi

Posted by faridoet in Merah Muda dan Ungu, Sajak-Sajakku

Semenjak Aku difinisikan fungsi

Fungsiku bukan fungsi rasional pecah namun fungsi polinomial

Tak ingin Kudapatkan satu
pun titik diskontinu

Hingga memungkinkan terbentuknya sebuah asymtot

Apalagi yang abadi,…

 

Aku berharap fungsi tersebut kontinu

Di sepanjang interval dalam bidang kartesius

Hingga dapat ditemukan titik kekonvergenannya

Bila perlu dengan derajat kekonvergenan yang paling tinggi

 

Mari kita berbicara tentang visi pendifinisian fungsi

Agar tak terbentuk asymtot abadi yang jauh dari ridho
Illahi.

 

February 21st, 2008

Berbicara Tentang Koordinat

Posted by faridoet in Merah Muda dan Ungu, Sajak-Sajakku

Bidang Kartesius tidak berhingga dan tak terbatas luasnya

Tentulah tidak sederhana menentukan koordinat dimana dua garis berbeda konvergen pada titik yang sama

Hingga Aku tidak tahu bagaimana harus mulai membicarakannya

Next Page »
  • Monthly

  • Blogroll

  • Meta: