Bianglala Kehidupan

June 30th, 2008

Tentang rasa takut dan berani

Posted by faridoet in Uncategorized

Sebuah Pertanyaan
2

Kenapa dalam diri
manusia ada rasa berani & rasa takut…? Kenapa kita dituntut berani pada
saat kita merasakan takut…? Dan kenapa kita diwajibkan untuk takut pada saat
kita merasakan keberanian…? Entahlah… Pertanyaannya yang salah atau…

 

                     Demikian pertanyaan yang terdapat disalah satu blog milik teman saya, pertanyaan yang sepertinya sederhana namun sepertinya tidak demikian dengan jawabnya :)

Kenapa dalam diri manusia
ada rasa berani dan rasa takut? Sebuah pertanyaan yang sederhana namun penuh
makna. Kemana harus dicari jawab, bila bukan kembali pada Pemilik hidup yang
telah memberikan pedoman rambu-rambu kehidupan. Mari kita tengok

surat

Al-Baqoroh : 155;

Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu dengan
sedikit ketakutan, kelaparan dan kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan.Dan
berikanlah berita gembira pada orang yang sabar
”.

 

Rasa takut yang muncul
dalam hati adalah bagian dari cobaan yang diturunkan Allah kepada mahluknya
untuk menguji tingkat kesabarannya. Atau bisa jadi ketakutan itu hadir sebagai
akibat dari perbuatan manusia sebagaimana diungkapkan dalam Surat An-Nahl : 122
;

Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah
negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah
ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk) nya mengingkari nikmat-nikmat
Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan,
disebabkan apa yang selalu mereka perbuat
”.

 

Demikian pula dengan rasa berani,
keberanian tiada hadir tanpa campur tangan Pemilik Hati sebagaimana diungkapkan
dalam An-Nuur : 55 ;

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman
di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shaleh bahwa Dia sungguh-sungguh
akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan
orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi
mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan
menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi
aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu
apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu,
maka mereka itulah orang-orang yang fasik
”.

 

Maka Allah-lah yang menyematkan
keberanian dalam hati manusia dan hanya orang-orang terpilihlah yang
mendapatkannya, hal ini dijelaskan dalam Surat Saba:23 ;

 “Dan tiadalah
berguna syafaat di sisi Allah melainkan bagi orang yang telah diizinkan-Nya
memperoleh syafaat itu, sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan
dari hati mereka, mereka berkata: "Apakah yang telah difirmankan oleh
Tuhan-mu?
" Mereka menjawab: "(Perkataan) yang benar", dan
Dia-lah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar
.

Oleh karena itu sudah
semestinyalah sebagai manusia kita menyadari betapa rapuhnya diri ini hingga
terus sadar untuk menghamba pada-Nya, demikian pula yang tertera dalam
Kitabbullah

surat

Quraisy : 3-4 ;

 “Maka hendaklah
mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Kakbah).

Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan
lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan
”. 

 

Namun demikian, tidak
berarti bahwa keberanian(tentulah keberanian demi kebenaran bukan keberanian
yang asal-asalan alias nekat) semata-mata adalah pemberian cuma-cuma. Analog
dengan sebuah hidayah tentunya tidak datang begitu saja pada yang menunggu
tanpa usaha apa-apa melainkan datang pada mereka yang bermujahadah mencarinya
maka keberanianpun demikian adanya. Keberanian tentunya juga hasil dari
mujahadah sungguh-sungguh baik dengan menata hati maupun diri.

Bukti nyata bahwa
keberanian adalah hasil nyata sebuah usaha dapat dilihat dari para tentara.
Mereka, diawal mendaftar menjadi tentara tentunya tidak semua berani berperang,
namun karena latihan keras pada akhirnya dapat mengontrol rasa takut dan
beraninya sesuai keadaan. Keberanian yang berdasar pada logika berpikir yang
benar dan hati nurani tidak akan menjerumuskan seseorang pada perbuatan nekat.
Namun keberanian yang muncul karena nafsu, itulah yang dapat menjerumuskan
seseorang pada tindakan nekat.

Ketika rasa berani dan
takut muncul, maka telisiklah pada hati kecil, apa yang mendasari timbulnya
rasa tersebut, memiliki dasar yang cukup logis dan kuatkah? Atau sekedar rasa
tanpa alasan yang logis.

Kenapa kita dituntut berani
pada saat kita merasakan takut? Ketika ketakutan bersemanyam di hati, tentulah
secara otomatis upaya perlawanan dalam diri terjadi, Bukankah ini bagian dari
mujahadah dalam menaklukan rasa takut itu sendiri?! Yang hasilnya kemungkinan
ada dua yaitu rasa “berani” atau rasa “tidak takut”. Demikian pula dengan
pertanyaan; “kenapa kita diwajibkan untuk takut pada saat kita merasakan
keberanian?” untuk menjawab pertanyaan ini kembalilah bercermin pada hati apa
yang mendasari keberanian tersebut? Nafsu atau bukan? Inilah bagian dari
mujahadah dalam mengontrol diri agar tidak terjerumus pada tindakan nekat.

Justru pertanyaan yang
menggelitik yang muncul selanjutnya adalah; apakah “tidak takut” itu ekivalen
dengan “berani”? Ataukah ada kondisi dimana manusia dapat merasa tidak takut
sekaligus tidak berani? Atau bilakah rasa takut dan berani terjadi bersamaan?

Mari bermain-main dengan
logika dalam alam semesta untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut
:)

Wallahu a’lam bisshowab.

 

June 22nd, 2008

I am today

Posted by faridoet in Cerita

I have many things in my mind to write in but the fact i write nothing!

Ups,…… want more, more and more …

June 20th, 2008

Ketakberdayaan yang Menyedihkan

Posted by faridoet in Cerita

Setiap kali saya keluar dari kos dapat dipastikan saya
akan melalui gang sempit yang akan berujung di terusan jalan Gerlong Girang,
tepat di depan masjid Nurul Falah tempat saya biasa shubuhan berjamaah. Di
ujung gang sempit sebelah timur sedikit, persis dekat dengan tiang listrik
terdapat sebuah gerobak yang mangkal setiap hari di sana. Gerobak berteman
bangku panjang yang terlihat lusuh itu digunakan berjualan oleh seorang ibu yang sudah cukup sepuh.
Sepengetahuan saya beliau berjualan nasi kuning, lotek dan mungkin juga rujak.
Yang pasti, saya hanya sekali saja pernah membeli nasi kuning di tempat itu.

Setiap kali saya melewati gerobak itu, dan tanpa sengaja
melihat aktivitas si ibu sepuh tersebut setiap itu juga hati saya terenyuh
tiba-tiba. Memang secara fisik, wajah dan perawakan si Ibu ini merip dengan Ibu
dari salah seorang sahabat saya. Namun, saya rasa perasaan terenyuh itu tidak
hadir semata-mata karena itu. Karena, keadaan mereka berdua sungguh jauh
berbeda. Entahlah, apa yang saya baca dari raut wajah beliau, namun tidak lain
yang dapat saya lakukan kecuali menitikkan airmata dan mendoakan beliau dalam
hati. Hampir selalu begitu.

Saya beberapa kali melihat beliau harus berjuualan sambil
momong seorang anak kecil, entah cucunya atau anaknya, saya tidak tahu. Saya
sering juga mengamati gerobaknya yang lusuh dan melihat beberapa bahan untuk
dijual seperti 3 gulungan lontong
dibungkus daun pisang yang lusuh,
beberapa buah-buahan yang sudah tidak segar lagi, sayur-sayuran yang hanya
sejumput saja jumlahnya. Akh,… miris sekali saya melihatnya. Jarang sekali saya
lihat pembeli yang datang, paling-paling hanya satu-dua saja di pagi hari. Saya
sendiri hanya pernah beli sarapan di sana sekali saja, sudah itu tidak. Itu pun
karena Si Ibu penjual nasi kuning langganan saya tutup. Terus terang lidah saya
agak sulit menerima masakan beliau.

Sekali waktu, saya lihat ada seorang kakek sepuh yang
duduk di situ, kadang beliau menunggu gerobak itu ketika si Ibu tidak ada. Si
Ibu memang berjualan sejak pagi hingga menjelang sore. Saya menduga beliau
mungkin suaminya. Satu kali saya dapati si Ibu terdiam membisu ketika sang
kakek asyik berbicara sambil menghisap asap rokok. Belum pernah satu kalipun
saya melihat Ibu ini menyungingkan senyum, entah mengapa. Beliau lebih banyak
diam. Namun demikian wajah keriput tersebut masih saja meninggalkan sisa-sisa
kecantikan di masa muda dalam balutan jilbab yang menjuntai hingga dadanya,
wajah yang memancarkan semangat ketabahan dan kegigihan.

Saya tidak mengerti mengapa emosi saya selalu saja
tersedot habis jika saya melihat aktivitas beliau di gerobak dagangnya. Kadang,
sebelum tiba tempat itu saya berharap agar tidak melihatnya, namun saya menjadi
merasa lebih kejam. Dalam hati saya terbersit berbagai macam pikiran, saya
ingin membantu beliau namun saya tidak tahu caranya. Apakah dengan memberi
bantuan modal, tapi kan saya juga tidak mengenal siapa beliau dan sebaliknya,
jangan-jangan beliau nanti tersinggung, saya ingin mengenalnya lebih dekat,
berbicara dengannya dari hati-ke hati, tapi saya tidak tahu bagaimana
memulainya, karena saya tidak pernah membeli dagangan beliau. Akh,… entahlah
berbagai scenario sempat saya buat, namun entah mengapa tidak satupun bisa saya
jalankan.

Menurut pengalaman saya, biasanya ini bukan hal sulit
bagi saya. Pura-pura saja membeli sarapan di tempat itu, kemudian buka
percakapan hingga dapat saling mengenal setelah itu korek keterangan
sebanyak-banyaknya kemudian barulah tentukan tindakan selanjutnya, seperti yang
sudah-sudah. Tidak sulit, sesungguhnya. Namun entah mengapa, saya tidak sanggup
melakukannya, bahkan untuk sekedar berbelok sedikit saja membeli sarapan pagi,
saya belum mampu melakukannya. Ya,… sekarang ini saya sering beli sarapan pagi
di warteg tidak jauh dari tempat Ibu sepuh ini berjualan. Hati saya belum mampu menggerakkkan anggota tubuh yang lain agar bersinergi berbuat sesuatu untuknya, Saya hanya sanggup
berdoa saja. Sebatas berdoa. Semoga Allah memberikan kemurahan rizki yang halal
serta barokah untuknya, meringankan beban hidupnya, menjadikan keturunannya
anak-anak yang sholeh serta sholehah. Inilah selemah-lemahnya diri. Ya,.. Rabb
Ampuni hamba yang belum mampu berbuat apa-apa untuknya.

Perasaan tidak berdaya menghantui saya sudah hampir
setahun selama saya kos di sini. Bahkan hingga saya mau pindah pun saya belum
mampu melakukan satu hal kecil untuk beliau. Saya sedih sekali, sungguh sungguh
sedih. Terlebih tadi siang ketika saya keluar melewati gerobaknya saya lihat
salah satu kaca gerobaknya ada yang pecah dan hanya diganti dengan selembar
platik kusut untuk menutupi bagian gerobak yang biasanya digunakan untuk
menyimpan beberapa lontongnya. Sekali lagi saya hanya bisa menitikan air mata
dan berdoa untuknya. Sungguh, selemah-lemah diri, hanya itu yang saya punya.
Menyedihkan sekali,……

Wahai Ibu yang tabah dan gigih maafkan diri ini, Semoga
Allah memberikan kemulian untukmu baik di dunia maupun di akherat kelak. Amiin.

*) Ku tulis ketika sudah tak mampu lagi melepas belenggu ini sendiri,….Ketakberdayaan ini sungguh-sungguh menyedihkan


 

 

June 19th, 2008

Kepergian Pak Jafar dan Rasa Kehilangan

Posted by faridoet in Hitam dan Kelabu

Tanggal 11 juni 2008 lalu, sahabat dan rekan perjuangan kami satu kelas, Bapak
Jafar Sdidik meninggal dunia dalam usia yang masih sangat muda. 36 tahun.
Beliau meninggalkan seorang istri dan tiga orang anak yang masih kecl-kecil.
Kepergian beliau sungguh mengejutkan kami, karena siang itu kami masih
bersama-sama hadir dalam kuliah terakhir. Bahkan beberapa dari kami sempat
berbincang-bincang cukup dalam dan lama dengan beliau. Saya dan teman-teman
yang belajar bersama pun sempat berseloroh dengan beliau berjanji untuk
bersilahturahmi ke rumahnya kembali di daearah lembang untuk memetik stroberi
lagi. Ya,. Beliaulah yang mengundang kami ke rumahnya untuk bersilahturahmi
sekaligus refreshing ke kebun stroberi dekat rumahnya tahun lalu*).

Hari itu justru sayalah yang kondisi kesehatannya buruk
sepulang dari bekasi, sedang beliau terlihat sehat walafiat. namun petang hari
ba’da magrib kami mendapat kabar mengejutkan itu melalui sms berantai. Saya
sendiri sempat tidak percaya karena teman-teman sekelas emmang kadang suka bercanda
berlebihan. Untuk itu saya konfirmasi dengan telfon balik ke ketua kelas. Dan
kabar itu memang benar. Beliau telah dipanggil oleh Allah swt. Beliau yang
selama hidupnya tidak pernah mengidap penyakit jantung, hari itu ketika bermain
bulu tangkis mengeluh sejenak dadanya sesak kemudian sempat dipijat
rekan-rekannya di stadion, namun ketika sedang bercakap-cakap tiba-tiba saja
beliau terjatuh dalam keadaan ruku. Rekan-rekannya menduga bahwa belaiu
pingsan, kemudian Almarhum dilarikan ke RS Sespin namun setibanya di R, jantung
beliau dipacu bebeapa kali tak bereaksi. Menurut analisa dokter beliau
meninggal dunia di tempat. 

Seluruh kesan kami teman satu kelas kepada beliau adalah
baik, beliau pribadi yang ramah, sederhana, gigih, tulus dan apa adanya. Saya
sendiri memiliki kesan mendalam kepada belaiu karena pertanyaan-pertanyaan yang
sering kali beliau lontarkan sungguh polos, apa adanya. Mungkin orang lain
tidak akan bertanya tentang hal itu karena gengsi atau malu namun beliau tidak
pernah berpikir demikian, jika belaiu merasa ingin tahu ya,.. jujur saja
bertanya apa adanya. Sebuah kejujuran yang langka dalam bertanya, beliau telah
membuka mata saya bahwa bahkan untuk bertanyapun butuh kejujuran.

Setelah hampir satu tahun berjuang bersama, kepergian
seorang rekan saja membuat kami benar-benar merasa kehilangan yang cukup berat.
Suasana kelas seringkali sepi bila tiba-tiba salah satu dari kami tiba-tiba
teringat, entah gaya Almarhum ataupun kata-kata Almarhum.

Sepulang ujian Analisis Real, kami semua kembali
bersilahturahmi ke rumah beliau bersama Pak Rizky, dosen Real kami**).
Terrenyuh ketika melihat kembali putra-putra beliau, Fikri Syarifudin,
Salsabila Fitria dan si kelcil Aliyah yang baru saja sembuh dari cacar. Semoga
kalian kelak menjadi anak yang sholeh dan sholehah agar dapat menjadi pribadi
yang kelak memberikan manfaat baik untuk agama, umat dan bangsa. Ya Allah,
kabulkanlah permohonan kami.

Kepergian Almarhum yang tiba-tiba, lagi-lagi menjadi
alarm bagi kita untuk terus memperbaiki diri, kematian datang tanpa kabar
berita lebih dulu. Bisa sekarang, nanti, besok, lusa atau kapanpun kita tidak
pernah tahu. Sebuah ungkapan yang indah terlontar dari adik ipar Almarhum,
“Bapak, Ibu, Kakak saya yang juga Istri beliau serta anak-anak beliau kan
memang bukan pemilik beliau, kami hanya dititipi saja. Sekarang beliau sudah
diambil oleh Pemiliknya, walaupun merasa kehilangan ya InsyaAllah kami
sekeluarga sudah ikhlas” sesaat ketika kami hendak berpamitan.

Bisa jadi kalimat itu terdengar biasa, namun bagi saya
itu memberikan makna luar biasa, mengingatkan saya kembali bahwasannya segala
sesuatu yang seolah-olah kita miliki ini hanyalah titipan. Titipan semata. Kita
tidak memiliki apapun, bahkan sehelai rambutpun tidak! Kami tidak kehilangan
karena kami memang tidak pernah memiliki beliau. Namun kami merasakan
kehilangan. Rasa kehilangan ini adalah buah dari kebersamaan yang memang pernah
kami rasakan. Kami pernah merasa memiliki rasa kebersamaan, oleh karenanya kami
merasa kehilangan.

Ya Allah, Ampunilah dosa-dosa beliau, terimalah segala
amal-amalnya, limpahkan rahmat serta karuniamu selalu untuk Almarhum. Ya Allah,
hamba mohon pada-Mu, berikan ketabahan dan kesabaran bagi keluarga yang
ditinggalnya.

*) Pak Jafar, hari ini kami memenuhi undanganmu untuk
bersilahturahmi melihat kamar barunya. Undanganmu telah benar-benar kami penuhi
walau kita tak bersua lagi.

**) Saya sungguh terkesan ketika Beliau bertanya pada
kuliah terakhir Analisis Real Real, “Pak, sampai saat ini saya bingung tentang
tugas membuat poster dan makalahnya bisa minta tolong dijelaskan lagi, maaf pak
ini masih mengenai tugas.” padahal saat itu jelas-jelas pak Rizky sudah
mengatakan boleh bertanya asalkan tidak berkaitan dengan tugas. Namun beliau
tetap saja bersikukuh untuk bertanya hal itu, saya sempat geli dalam hati
karena merasa seperti anak kecil yang merengek minta permen walaupun orangtua
kami melarang dengan tegasnya. Tapi itulah Almarhum, gigih! Sedangkan saya saja
urung bertanya tentang itu.

June 15th, 2008

Sebuah Percakapan

Posted by faridoet in Hitam dan Kelabu, Sajak-Sajakku

Aku:

“Aku
merasa kau menguntitku selalu,
Menatapku
lekat-lekat bahkan dari dekat!
Benarkah
demikian?”

 Kau:

“Aku
memang dikirim khusus untukmu
bersama
dengan sang waktu
aku
setia mengikuti setiap langkahmu”

 Aku:

“Aku
tak pernah yakin dengan perasaanku
kadang
aku bertanya-tanya bilakah engkau datang menjemputku
bila
terbayang betapa indahnya Perjumpaan itu
bila
terbayang betapa indahnya Kasih Sayang itu
bila
teringat kerinduan yang tiada duanya pada kampung keabadian 

namun,…
tunggu,…tunggu,…tunggu
dulu!
janganlah
datang dulu menjemputku
catatan
hitamku itu menumpuk
seperempat
abad lebih tumpukan itu,
memasung
jiwaku pada harapan sebuah pengampunan,……
sedangkan
bekalku belum cukup
bahkan
mungkin tak cukup untuk mencegah sehelai buluku
agar
tak terbakar api yang berkobar-kobar

Yakinkah
diriku bahwa tiket itu sudah aku dapatkan?
Tidak,..tidak,…
tidak,…..”

Kau:

“Apakah
kau takut padaku?” 

Aku:

“Takut?
Apakah
jika aku takut padamu engkau tak

kan

datang menjemputku?”

Kau:

“Kau
tahu aku akan tetap datang menjemputmu
dan
mengantarkanmu ke pintu gerbang belakang kehidupan” 

Aku:

“Apakah
sang waktu tahu kapan kau akan menjemputku?
Mengapa
engkau selalu datang bersamanya?”

 Kau:

“sekalipun
sang waktu tahu ia akan membisu untukmu
karena
ia adalah saksi setiap kejadian
Tahukah
kau? Aku menatapmu lekat-lekat
Agar
kau selalu terjaga,
tak
lena walau sekejap mata”

 
Aku:


Apakah kau bayang-bayang kematian itu?” 

Kau:


———————————“

 
Some
days on June, Bekasi -

Bandung

a dialogue between you, The Shadow of the death, and me

 
“Every soul shall have a taste of
death: And only on the Day of Judgment shall you be paid your full recompense.
Only he who is saved far from the Fire and admitted to the Garden will have
attained the object (of Life): For the life of this world is but goods and
chattels of deception.”

Q.S 3: 185

“Nor can a soul die except by
Allah’s leave, the term being fixed as by writing. If any do desire a reward in
this life, We shall give it to him; and if any do desire a reward in the
Hereafter, We shall give it to him. And swiftly shall We reward those that
(serve us with) gratitude.”

Q.S. 3 :145

“Verily We shall give life to the
dead, and We record that which they send before and that which they leave
behind, and of all things have We taken account in a clear Book (of evidence).”

Q.S 36 :12

Allah,
Please forgives me
                                                                   

 

 

 

Next Page »
  • Monthly

  • Blogroll

  • Meta: