Tentang rasa takut dan berani
Sebuah Pertanyaan
2
Kenapa dalam diri
manusia ada rasa berani & rasa takut…? Kenapa kita dituntut berani pada
saat kita merasakan takut…? Dan kenapa kita diwajibkan untuk takut pada saat
kita merasakan keberanian…? Entahlah… Pertanyaannya yang salah atau…
Demikian pertanyaan yang terdapat disalah satu blog milik teman saya, pertanyaan yang sepertinya sederhana namun sepertinya tidak demikian dengan jawabnya
Kenapa dalam diri manusia surat Al-Baqoroh : 155;
ada rasa berani dan rasa takut? Sebuah pertanyaan yang sederhana namun penuh
makna. Kemana harus dicari jawab, bila bukan kembali pada Pemilik hidup yang
telah memberikan pedoman rambu-rambu kehidupan. Mari kita tengok
“Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu dengan
sedikit ketakutan, kelaparan dan kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan.Dan
berikanlah berita gembira pada orang yang sabar”.
Rasa takut yang muncul
dalam hati adalah bagian dari cobaan yang diturunkan Allah kepada mahluknya
untuk menguji tingkat kesabarannya. Atau bisa jadi ketakutan itu hadir sebagai
akibat dari perbuatan manusia sebagaimana diungkapkan dalam Surat An-Nahl : 122
;
“Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah
negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah
ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk) nya mengingkari nikmat-nikmat
Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan,
disebabkan apa yang selalu mereka perbuat”.
Demikian pula dengan rasa berani,
keberanian tiada hadir tanpa campur tangan Pemilik Hati sebagaimana diungkapkan
dalam An-Nuur : 55 ;
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman
di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shaleh bahwa Dia sungguh-sungguh
akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan
orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi
mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan
menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi
aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu
apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu,
maka mereka itulah orang-orang yang fasik”.
Maka Allah-lah yang menyematkan
keberanian dalam hati manusia dan hanya orang-orang terpilihlah yang
mendapatkannya, hal ini dijelaskan dalam Surat Saba:23 ;
“Dan tiadalah
berguna syafaat di sisi Allah melainkan bagi orang yang telah diizinkan-Nya
memperoleh syafaat itu, sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan
dari hati mereka, mereka berkata: "Apakah yang telah difirmankan oleh
Tuhan-mu?" Mereka menjawab: "(Perkataan) yang benar", dan
Dia-lah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar” .
Oleh karena itu sudah surat Quraisy : 3-4 ;
semestinyalah sebagai manusia kita menyadari betapa rapuhnya diri ini hingga
terus sadar untuk menghamba pada-Nya, demikian pula yang tertera dalam
Kitabbullah
“Maka hendaklah
mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Kakbah).
Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan
lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan”.
Namun demikian, tidak
berarti bahwa keberanian(tentulah keberanian demi kebenaran bukan keberanian
yang asal-asalan alias nekat) semata-mata adalah pemberian cuma-cuma. Analog
dengan sebuah hidayah tentunya tidak datang begitu saja pada yang menunggu
tanpa usaha apa-apa melainkan datang pada mereka yang bermujahadah mencarinya
maka keberanianpun demikian adanya. Keberanian tentunya juga hasil dari
mujahadah sungguh-sungguh baik dengan menata hati maupun diri.
Bukti nyata bahwa
keberanian adalah hasil nyata sebuah usaha dapat dilihat dari para tentara.
Mereka, diawal mendaftar menjadi tentara tentunya tidak semua berani berperang,
namun karena latihan keras pada akhirnya dapat mengontrol rasa takut dan
beraninya sesuai keadaan. Keberanian yang berdasar pada logika berpikir yang
benar dan hati nurani tidak akan menjerumuskan seseorang pada perbuatan nekat.
Namun keberanian yang muncul karena nafsu, itulah yang dapat menjerumuskan
seseorang pada tindakan nekat.
Ketika rasa berani dan
takut muncul, maka telisiklah pada hati kecil, apa yang mendasari timbulnya
rasa tersebut, memiliki dasar yang cukup logis dan kuatkah? Atau sekedar rasa
tanpa alasan yang logis.
Kenapa kita dituntut berani
pada saat kita merasakan takut? Ketika ketakutan bersemanyam di hati, tentulah
secara otomatis upaya perlawanan dalam diri terjadi, Bukankah ini bagian dari
mujahadah dalam menaklukan rasa takut itu sendiri?! Yang hasilnya kemungkinan
ada dua yaitu rasa “berani” atau rasa “tidak takut”. Demikian pula dengan
pertanyaan; “kenapa kita diwajibkan untuk takut pada saat kita merasakan
keberanian?” untuk menjawab pertanyaan ini kembalilah bercermin pada hati apa
yang mendasari keberanian tersebut? Nafsu atau bukan? Inilah bagian dari
mujahadah dalam mengontrol diri agar tidak terjerumus pada tindakan nekat.
Justru pertanyaan yang
menggelitik yang muncul selanjutnya adalah; apakah “tidak takut” itu ekivalen
dengan “berani”? Ataukah ada kondisi dimana manusia dapat merasa tidak takut
sekaligus tidak berani? Atau bilakah rasa takut dan berani terjadi bersamaan?
Mari bermain-main dengan
logika dalam alam semesta untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut
Wallahu a’lam bisshowab.