Pagi yang Indah
Ya Rabbi,.. terima kasih atas hadiah yang indah dipagi ini. Sekali lagi aku merasakan keindahan persahabatan di pagi hari, berkah shubuh yang amat indah.
Haru dalam hati yang membuncah atas rasa bahagia sekaligus syukur yang tak terkira atas indahnya rasa tlah memanggil airmata dari sumbernya hingga berdesakan disepanjang kelopak mata ingin segra tumpah dan keluar membentuk sungai-sungai di pipiku. Beberapa waktu lalu, aku pun merasakan hal yang sama ketika selepas shubuh, aku menerima sms berikut;
“Ass. Pg ni ak ingn brtrma ksh, untk membntuku d saat sulit, menunjukkan indahnya brbagi, sejuknya angin subuh, berkahnya sepertiga mlm, nikmatnya brsyukur, dan bnyk hal yg membuatku merasakan smua karuniaNya dg melihatmu. Terima kasih sungguh tak berbilang…….”
Demikian bunyi sms dari Mba Evu, jujur aku tidak dapat mendeskripsikan perasaanku saat itu dengan untaikan kata-kata. Bahkan begitu takut untuk sekedar menulisnya. Takut kurang tepat sehingga menimbulkan intrepretasi yang berbeda bagi pembaca, takut bila hati menjadi tercemar hingga berujung pada keburukan semata. Namun, pagi ini sebagai rasa syukur atas indahnya pagi yang aku rasakan aku ingin berbagi lewat tulisan ini. Jangan pernah lewatkan shubuh yang indah begitu saja sahabat,….
Sejak di kos baru, shubuhku kini lebih indah karena jalan menuju mesjid DT (Daarut Tauhid) lebih asri dengan taman-taman halaman rumah-rumah besar yang tertata rapi, beberapa anak-anak kucing yang lucu bermain dan bercanda riang di perdu-perdu indah sepanjang jalan. Sepulang dari masjid aku bisa menyaksikan semburat merah sang surya yang masih malu untuk bersinar dari baik puncak gedung-gedung kampus yang menjulang tingga sebagai latar komplek perumahanku. Karena jalan yang cukup lebar maka sejuknya angin shubuh dapat kurasakan meronakan pipiku dengan ramahnya.
Dan pagi ini, sungguh-sungguh indah! Setibanya di kos dari masjid DT, suasana di kos sudah mulai “panas” tidak seperti biasa, karena beberapa teman-teman sedang bersiap untuk berangkat pagi pukul 05.30, mereka adalah saksi pilwalkot Bandung yang ditempatkan di TPS-TPS dari kandidat calon no 2. jadilah pagi itu seru sekali, mulai yang berdandan, setrika baju, buat sarapan di selingi gurauan-gurauan politik yang menggelitik.
“jangan lupa pilih calon yang memiliki Nurani ya,…”
“Ya sudah pasti itu mah calon no 2 atuh,…”
“kok bisa? Pede amat,…”
“ya iya lah,… istri ustad Taufikurahman kan namanya Nurani,……”
^_^ …. He…he..he…
Setelah mereka berangkat aku kembali ke kamar, ku cek HP ternyata ada satu sms dari sahabatku yang belum lama ini menikah, Unung. Beliau ketika mengundang juni kemarin meminta diriku agar bisa menikah di bulan yang sama dengannya yang hanya dapat kujawab dengan seulas senyuman saja
. Setelah hampir 3 bulan lamanya, akhirnya hari itu sms darinya tiba;
“Hari kmrn terasa amat singkat, sbg hdp qt yg pun sesaat, coba brhnt sjenak, brpkr dg bijak, prkelanaan qt kan dbw kmana smntara akhirt menanti adanya. Met pagi”
Sms ini singkat dan sederhana, tapi terbaca jelas tujuan dan maksudnya. Bendungan airmataku jebol oleh desakan rasa dari dalam hati ini. Tausiah yang singkat dan indah. Sahabat, smoga aku tidak berjalan terlalu jauh. Beberapa kali aku berhenti dan dan berkontemplasi benarkah jalan yang kutempuh ini adalah jalan yang benar menuju muara keridhoanNya. Entah bagaimana, sepertinya tanpa direncanakan akhir-akhir ini topik tentang “rehat sejenak” untuk kontemplasi diri dalam perjalanan hidup menjadi topik utama di sekitar kehidupanku. Mungkin benigilah salah satu cara Tuhan menuntun dan membimbing hambanya dalam melangkah, melalui sahabat-sahabat terdekat.
Sahabat, setelah pembicaraan kita ditelfon. Aku berolahraga pagi dengan teman baruku, kami bermain bulutangkis di depan kos kemudian ia mengajakku pergi melihat air terjun di belakang kampus UPI yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Kami menyusuri jalan setapak yang tajam dan curam selepas kampus hingga tiba sebuah ujung bukit dan di sanalah air terjun terlihat, walau tak seindah “grojokan sewu” atau “curug ngumpet” namun kebersamaan kami ditepi batu-batu untuk sekedar merenung menciptakan keindahan tersendiri dalam hatiku.
Pagi ini sungguh indah, penuh hikmah. Benar-benar indah! Akankah esok masih dapat kurasakan keindahan pagi?! Manusia tak pernah tahu kapan dan dimana perjalanannya akan berakhir,….. sahabat, mari rehat sejenak setidaknya sekejap hanya untuk menjangkau benak.
Sahabat, aku berharap kelak dapat kunikmati indahnya pagi tak hanya sendiri seperti dirimu pagi ini. Terimakasih Tuhan, Maha Suci Engkau yang tlah memberikan pagi yang Indah untukku!
*) dan bertasbihlah kepada-Nya pada beberapa saat di malam hari dan di waktu terbenam bintang-bintang (di waktu fajar). (Q.S Ath Thuur ayat 49)

