Bianglala Kehidupan

October 30th, 2008

Lawan Main Badminton

Posted by faridoet in Cerita, Hijau

Udara Bandung, setelah dibasuh hujan yang cukup deras beberapa hari ini cukup membuatku kembali membutuhkan selimut tebal, kaoskaki tidur dan konicare yang sempat aku tinggalkan sebelumnya. Beruntunglah hari ini, dingin yang menggigit dapat aku tepis dengan mengajak salah satu teman satu kos, Amel, untuk tanding badminton denganku di depan kos.

Selama ini, beberapa teman satu kos yang menjadi lawan mainku mayoritas membuatku berkeringat karena tertawa dan mondar-mandir mengambil kok. Tapi, pagi ini aku benar-benar berkeringat karena bermain bandminton lho. wah,.. senangnya akhirnya aku mendapat lawan yang imbang. Amel yang secara fisik lebih tinggi dariku beberapa centi ini, selain piawai dalam urusan bekam ternyata juga berbakat menepis smash dariku. hebat deh,…. bukan berarti aku jago main badminton lho,… hanya sekedar senang olahraga saja dan kebetulan di kos tersedia perangkatnya, walaupun tanpa net, pagi ini aku dan Amel bertanding tanpa juri. sungguh mengasyikan sekali, setelah sekian lama tidak merasakan nikmatnya oleh raga.

Yaa,… biasanya aku berolahraga renang minimal 1 minggu satu kali, namun di Bandung ini aku belum menemukan kolam renang khusus perempuan yang mudah dijangkau dari tempat tinggalku. Kebetulan di kota Solo terdapat sebuah kolam renang yang menyediakan hari khusus untuk perempuan saja yaitu selasa dan jumat. Padahal, di Iran sudah tersedia sebuah taman plus prasarana olah raga lengkap yang disediakan khusus untuk kaum hawa saja. Asyik ya kalau di seluruh wilayah Indonesia disediakan tempat seperti ini, kaum perempuan kan juga butuh olahraga untuk menjaga kebugaran, kesehatan dan tentu saja kecantikan he..he..he..(dasar wanita! :))

Sedih deh,… :( jadi selama tinggal di Bandung ini, nyaris aktivitas olahragaku terhenti total kecuali satu! jalan kaki! :)
Sayangnya, malang tak dapat ditolak untung tak dapat diraih. minggu depan Amel harus meninggal kos kami karena akan ditempatkan di daerah tangerang. kebetulan Amel seorang terapis bekam. Selamat buat Amel dan Nur yang lulus sebagai terapis bekam, semoga ilmunya berkah dan bermanfaat bagi umat.

Hm,… kira-kira aku bakal dapat lawan main yang sehebat Amel lagi gak ya? !

October 29th, 2008

Tentang Wisuda

Posted by faridoet in Cerita

Tanggal 28 Oktober kemarin bertepatan dengan hari “Sumpah Pemuda”, untuk kali pertama saya mengikuti prosesi wisuda para mahasiswa SPS UPI. Hari itu, saya memenuhi ajakan kawan untuk mendampingi seorang teman asal Riau yang keluarganya berhalangan hadir. Yah,… karena kebetulan bada dhuhur saya punya waktu luang, kenapa tidak saya ikut menemani beliau. Kebetulan, saya agak telat karena harus mampir dulu ke kampus untuk kirim email sebentar. Wisuda dilaksanakan di gymnasium, sepanjang perjalanan dari kampus –gymnasium saya terheran-heran dengan suasana kampus yang tidak beda dengan pasar malam. Sepanjang jalan berderet-deret penjual kakilima, dari penjual makanan dan minuman, mainan, pakaian, bunga segar, sampai perabot dapur! Komplit plit. Oya penjual sepatu juga ada deh kayaknya. Saya rasa semua penjual mingguan di Gasibu pindah tempat ke UPI J

Setibanya di gymnasium, saya disuruh masuk dari pintu 3 “khusus undangan SPS” begitu tulisan di atas pintu masuknya! Tapi sungguh aneh bin ajaib, walaupun kami sudah membawa undangan ternyata kami belum masuk juga, jadilah antrean berdesak-desakan seperti mau nonton konser atau pertandingan sepak bola saja. Sempat juga saya mengurungkan niat untuk masuk, namun saya kok tidak sampai hati ya ketika mengingat kondisi wisudawan. Setelah berdiri dengan ransel laptop di punggung kurang lebih satu jam, barulah kami dapat masuk ke dalam gymnasium dan duduk di balkon ketiga. Saya, Ana dan Bu Asmida, menjadi keluarga dadakan sang wisudawan.

Berhubung acaranya SSG (Sungguh Sangat Garing!) .Sepanjang prosesi berlangsung, kami lebih asyik berdiskusi sendiri dan menjadi pengamat sekitar dari A sampai Z kami analisa. Hingga tibalah kami bercerita tentang prosesi wisuda kami masing-masing.

Saya sendiri ketika wisuda S1 di UNS walaupun kondisinya jauh lebih baik daripada yang saya alami hari itu, sebetulnya memilih untuk tidak mengikuti prosesinya jika saja ortu tidak bersedih karenanya. Selesai ujian skripsi bulan Maret itu, saya sempat bertanya pada pembimbing saya tentang asal usul prosesi wisuda berserta makananya, kenapa baju wisuda seperti itu? Kenapa kelulusan harus ditandai dengan pemindahan tali toga? Apa maknanya secara filosofi? Dan beliaupun kala itu belum dapat memberi penjelasan yang cukup bagi saya. Selain itu, saya cari informasi sana-sinipun tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan, padahal jika saya cermati prosesi wisuda itu tidak lain tidak bukan sebetulnya tidak banyak manfaatnya bagi saya ataupun bagi para wisudawan itu sendiri selain sekedar rasa bangga dan puas semata.

Untuk sekedar melihat lengkungan bibir Bapak dan Mama akhirnya saja ikut juga menjalani prosesi wisuda. Jika teman-teman saya sibuk melakukan persiapan awal bahkan sejak hari ujian skripsi, dari merancang kebaya, memilih jilbab, mencari sandal, hingga bereksperimen tata rias, saya justru sibuk untuk membuat lamaran kerja, melamar dan akhirnya mempersiapkan diri untuk segera melaksanakan pekerjaan Saya sebagai guru SD Islam Al-Azhar 28 Solo baru. Yup,… sebelum wisuda Alhamdulillah saya sudah diterima sebagai guru kelas I, setelah lulus tes seleksi masuk bertahap yang jauh lebih sulit daripada ujian PNS Dosen! J (menyisihkan kurang lebih 600 pelamar lainnya).

Jika kawan-kawan saya mengenakan gaun terindah di hari itu, bahkan ada yang seperti pengantin, ck..ck..ck… saya hanya mengenakan kain sarung songket merah dan kaos oblong berlengan pendek yang tertutup jubah wisuda (he..he..he.., kebayang dunk udara kota solo yang puanaasss kalau pakai kebaya pressbody,…rasanya kayak di neraka dunia he..he..he) dengan sedikit bedak dan lipstick merah muda, saya tambahkan selendang songketnya untuk hiasan jilbab (hmm,… selain berbakat menjadi hair-stylish ternyata saya berbakat juga jadi perias lho,… J). Walaupun saya tidak senang bersolek, namun di kos saya kerap kali menjadi tukang potong rambut dan perias para mba-mba yang mau wisuda bahkan sampai merias pengantin wanita, jadi untuk urusan make-up pun saya lakukan sendiri. Tak perlu shubuh-shubuh antri di salon kawan! J (sepertinya keahlian ini saya dapatkan secara tidak langsung dengan melakukan pengamatan yang intensif pada para tukang rias ketika saya masih aktif menjadi penari pada masa SD-SMU ditambah referensi dari majalah-majalah mode)

Keluarga yang datangpun hanya Bapak, Mama, adek, tante, seorang sepupu dan pakde yang menjadi sopir sekaligus guide di Solo. Yah,.. jadilah saya ikut wisuda, kemudian jepret sana-sini dengan kawan-kawan. He..he..he..

Kembali ke ulasan awal tentang makna prosesi wisuda, Bila tradisi seremonial akademik lainnya banyak yang berakar dari Belanda, ternyata prosesi wisuda ini tidak demikian. Karena perguruan tinggi di Belanda ataupun Negara eropa lainnya tidak mengenal prosesi ini. Wisuda ini ternyata berakar dari budaya Amerika. Jika di Amerika Serikat terdapat “graduation day” yang maknanya sebagai sebuah pesta penutupan tahun akademis, sehingga walaupun mahasiswa belum belum lulus 100% pun, tetap saja sah untuk ikut pesta tersebut karena periode tahun berikutnya mereka sudah tidak ikut kuliah lagi.

Di Indonesia sendiri, hanya mereka yang sudah lulus dan mengantongi ijasah yang dapat ikut wisuda. Oyaa,.. ditambah satu syarat lagi yaitu mereka yang telah melunasi uang wisuda tentu saja J. Padahal uang wisuda ini biasanya jumlahnya tidak murah lho,… bukan karena saya tidak nyaman berada di acara yang terlalu ramai seperti wisuda yang membuat saya kurang sepaham dengan ritual ini, namun jujur saja saya tidak menemukan esensi yang sreg dalam hati saya sehingga dimata saya acara ini lebih banyak mudaratnya. Jika di UNS acara wisuda memang disetting pada hari libur sabtu atau minggu dan hanya dilaksanakan dalam satu hari saja, sedangkan di UPI wisuda bisa dilaksanakan selama tiga hari berturut-turut dan bukan pada hari sabtu. Seringkali perkuliahan terpaksa diliburkan pula. Selain itu, ketika saya menyaksikan sedereten guru besar duduk di jajaran pangung selama satu hari penuh hanya sekedar duduk dan menonton para wisudawan yang maju silih berganti satu persatu yang bahkan mungkin tidak mereka kenal sama sekali, akh…. alangkah sayangnya waktu yang mereka habiskan itu. Alangkah lebih bermanfaatnya jika mereka 2 jam berada dalam satu kelas untuk mengajar para mahasiswa yang haus ilmu. Kegembiraan sesaat yang semu, begitulah sepertinya kegembiraan yang dirasakan di hari yang disakralkan tersebut. Selepas wisuda tantangan akan kehidupan pada dunia nyata jauh lebih berat. Persaingan kerja yang ketat, peluang usaha yang terbatas, ruang aktualisasi diri yang sempit dan masih segudang tantangan yang membentang membentang di hadapan para wisudawan. Untuk menghadapi itu semua, ijasah saja tidak cukup menjadi modal untuk berjuang kawan, namun esensi dari ilmu itulah yang sangat bermanfaat dalam mengahadapi tantangan-tantangan tersebut.

Akankah saya akan bernasib sama dengan para wisudawan di ruang gymnasium hari ini tahun depan? Entahlah, jika saja keluarga dan orang-orang terdekat dpat menerima dengan legawa saya memilih untuk membuat acara perayaan kelulusan sendiri saja dengan berkumpul bersama keluarga, orang-orang terdekat dan sahabat. Rasanya lebih masuk akal. J

Terlepas dari pro-kontra wisuda yang saya ulas, selamat kepada para wisudawan SPS UPI semoga ilmu yang diperoleh dapat memberi manfaat sebesar-besar bagi kemaslahatan masyarakat serta kemajuan bangsa. Amiin.

October 17th, 2008

Akhirnya Aku Nonton Laskar Pelangi

Posted by faridoet in Cerita

Film “Laskar Pelangi” dilaunching ketika saya masih dalam masa liburan di Bekasi, niatnya saya ingin menontonnya bersama Adek dan Mama, namun setelah bersilahturahim ke kerabat ternyata ada yang mau ikutan nonton bareng. Rencana berubah dunk,… tapi tetap saja tugas saya sebagai pencari tiket tidak bergeser :) hik,..hik,…hik,…

Meskipun saya saat itu belum sehat betul dari sakit yang diderita sejak Ied tiba, namun semangat untuk menonton Laskar Pelangi bersama tetap berkobar-kobar (Seingat saya, inilah Ied pertama kali saya ditinggal sendirian terbaring di kamar berteman airmata karena sakit :( ).

Kami memilih hari senin, 6 Oktober 2008 dengan prediksi bahwa bioskop sudah lebih sepi. tapi ketika saya ke Giant XXI yang kebetulan tidak berapa jauh dari rumah. Bioskop yang baru buka satu minggu itu ternyata masih disesaki oleh pengunjung yang antri mendapatkan tiket nonton Laskar Pelangi, antrean luar biasa banyak hingga saya tidak bisa masuk ke dalam lobby bioskop karena penuh sesak oleh para remaja, ibu-ibu, anak-anak, bapak-bapak bahkan nenek-nenek :)

Jika saja, kondisi saya sedang fit, saya mungkin masih mau ikut serta berdesakan mencari tiket. Namun mengingat kondisi saya yang tidak mendukung maka saya putuskan utnuk pulang lagi dengan tangan hampa,….. hik..hik..hik… Rencana kami gagal total!

Tiba di Bandung, saya merencanakan untuk menonton dengan teman sekamar, namun karena dia ditraktir nonton bos-nya dikantor akhirnya rencana saya batal lagi:). Rencana ketiga, saya akan menonton dengan teman satu kos yang kebetulan guru TK, bersama teman-teman satu sekolahnya, lagi-lagi gagal karena jadwalnya tidak cocok. Rencana terakhir masih dengan teman satu kos yang lain, kandas kembali karena dia harus ke luar kota mengunjungi kakaknya. hik…hiks…. (disaat-saat begini, saya ingat Mba Lindut yang selalu setia mengajak dan mendampingi saya dengan penuh pegertian menonton film-film kesukaan saya di bioskop ketika saya di Solo. I miss her! a lot!)

Setahun di Bandung, belum pernah sekalipun saya pergi menonton di bioskop! (he..he..he…). biasanya saya hanya memincam CD itupun terbatas dari teman-teman yang dekat saja. bisa dibilang aktifitas menonton ini jauh berkurang (mengingat dulu hampir tiap minggu meminjam CD dari rental langganan, tentu aja berdua Mba Lindut yang maniak nonton :))

Akhirnya telur itu pecah juga kemarin hari Jum’at, dengan tekad bulat saya mau nonton Laskar Pelangi. (jarang-jarang film Indonesia bisa membuat saya begitu ingin menontonnya,…) bukan karena tidak cinta buatan dalam negri, namun karena seringkali saya tidak sreg dengan temanya. Seringkali tidak mempunyai daya tarik sama sekali bagi saya. (Hanya 2 film indonesia yang saya tonton di bioskop, Gie dan Laskar Pelangi, walaupun masih ada beberapa film anak negri yang saya kagumi seperti “Naga Bonar jadi dua”) Saya memang agak selektif dalam memilih film yang ingin ditonton, karena cukup banyak waktu yang dihabiskan untuk melihatnya, sayang khan kalau ternyata tidak ada manfaat yang diperoleh dari kegiatan itu?!

Kembali ke topik utama,… akhirnya saya sendiri saja melangkah dengan pasti ke XXI di Ci Walk. (Ups ini kali pertama saya ke Co Walk…finally,..). pede aja lagi,… saya melangkah mengikuti rambu-rambu lokasi yang, untungnya, dapat dengan mudah saya lihat di lokasi ini. setibanya di loket, saya memilih jadwal yang mulai pukuk 14.30 dengan pertimbangan waktu sholat Ashar. Alhamdulillah, dapat sebuah tiket meskipun harus duduk di barisan depan pojok sebelah kanan, tapi it’s ok lah,… asal dapat menonton Laskar Pelangi.

Walau tidak sedasyat bukunya, namun film ini tidak mengecewakan. Jika dalam bukunya lebih berpusat pada anak-anak anggota Laskar Pelangi itusendiri namun dalam filmnya peran orang-orang dewasa lebih menonjol. Satu karakter yang cukup kuat dalam penokohan itu adalah tokoh “Mahar” saya suka dengan aktingnya. Kueren abiz! Sesuai dengan imagi sayaketika membaca bukunya. Film ini memang pas untuk ditonton oleh keluarga Indonesia dari anak-anak sampai nenek-nenek. Banyak pesan yang dapat diambil dari alur film ini sesuai dengan usia penontonnya masing-masing. Mungkin anak-anak usia sekolah, dapat melihat bagaimana semangat belajar para anggota “LP” , namun para orang out dan pendidik dapat melihatnya dari sudut pandang yang lain, yaitu bahwa mendidik itu perlu dengan “hati” bahwa kita berharap anak-anak harus cerdas hatinnya. Sedang, para remaja dapat melihat bagaiman pengaruh virus merah jambu dapat diejawantahkan dalam hal yang lebih baik, bahkan dalam menyikapi soal patah hati. Selain itu, yang paling saya kagumi dari film ini adalah setting lokasi yang, Subhanallah sangat indah! Betapa indahnya bumi Nusantara ini, stttt.. bukan hanya indah namun juga luar biasa kaya lho…..

Ups,… sepertinya tulisannya kok ngalurngidul ya,… J he..he..he… tak apalah,… yang penting khan inti utamanya sudah tersampaikan khan,….? Setelah perjuangan panjang akhirnya saya bisa juga nonton Laskar Pelangi di bioskop!

October 13th, 2008

Sabar dan Syukur

Posted by faridoet in Gradasi, Religion

Selepas kuliah pertama pasca liburan Iedul fitri, saya keluar kelas agak telat karena berdiskusi dulu dengan kawan untuk tugas presentasi minggu depan. Sendirian menyusuri koridor lantai 4 gedung SPS UPI menuju Lift yang masih tertutup, saya teringat bahwa kebetulan hari ini lift yang beroperasi hanya satu pintu, karena yang lain sedang rusak. Dari layar monitor lift tertera bahwa lift sedang berada di lantai 1, segera saya pencet tombol untuk turun. Mungkin penumpang dari lantai 1 cukup penuh sehingga butuh waktu agak lama untuk layar monitor mau menunjukkan bahwa lif bergerak ke lantai 2. “Huh,… hm.. ck…ck..” saya mulai mendesah. Bukan hanya itu, ternyata di setiap lantai lift terusa saja berhenti. Dalam hati saya mulai menggerutu,…. “Lama banget sih,… heh….ehm..”. parahnya lagi, setelah lantai 3 ternyata tidak langsung berhenti dilantai 4 melainkan ke lantai 6 dan mampir dulu di lantai 5.

Ketika saya sedang menunggu, ada beberapa orang yang langsung memutuskan untuk menggunakan tangga saja daripada menunggu seperti saya. Sendiri sepanjang menunggu itu, membuat saya dapat merenung hingga akhirnya masuk ke dalam lift yang kosong. Tiba-tiba saya teringat akan peringatan Allah dalam surat Ibrahim ayat 7;

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih”.”

Segera saya beristigfar, “Astagfirullahaladziim,…. Betapa sedikitnya sabar dan syukur yang saya miliki”. Ketika satu tahun yang lalu tidak ada lift, saya mengeluh karena harus mendaki anak tangga hingga lantai 4, dan sekarang sudah ada liftnya saya masih mengeluh juga karena menunggunya agak lama sedikit. Akh,.. dasar manusia!

Tapi, sisi gelap saya yang lain mengatakan, wajar saja mengeluh, karena menunggu itu memang hal yang tidak menyenangkan bukan?! Apalagi sendirian! Jadi kalau kau mengeluh, itu hal yang wajar, manusiawi! Sepertinya setan sedang meniupkan bisikan-bisikannya ke telingaku. Tepat sesuai dengan yang tertera dalam Al-A’raaf:17;

“kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” Begitulah somasi yang iblis ajukan pada Allah SWT.

“Hush..hush,… a’udzubillahiminasyaitonirrojiim. Pergi kau jauh-jauh setan terlaknat!” kutepis bisikan-bisikan itu. Ternyata sabar dan syukur yang saya miliki memang masih terlalu sedikit, padahal baru saja sebulan training untuk melatih kesabaran dan bersyukur. “Ya Allah,… ampuni saya, bukankah ibadah yang dilakukan saat Ramadhan itu untuk melatih diri agar dapat diterapkan pada 11 bulan berikutnya?!” saya berbicara pada diri sendiri.Rasanya saya harus terus berlatih belajar untuk lebih bersabar dan bersyukur. Alhamdulillah,.. hari ini diberikan hikmah yang tiada terkira.

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat) -Ku.” (Al-Baqoroh :152)

October 5th, 2008

Aku Juga Wanita Biasa

Posted by faridoet in Hitam dan Kelabu, Sajak-Sajakku

Tuhan,…

setegar-tegarnya diriku

sesabar-sabarnya diriku

setabah-tabahnya diriku

Aku hanya seorang wanita biasa

mahlukMu yang lemah dan hina

tanpa Rahmat dan Kasih SayangMu,

MUSTAHIL aku dapat bertahan.

  • Monthly

  • Blogroll

  • Meta: