Tanggal 28 Oktober kemarin bertepatan dengan hari “Sumpah Pemuda”, untuk kali pertama saya mengikuti prosesi wisuda para mahasiswa SPS UPI. Hari itu, saya memenuhi ajakan kawan untuk mendampingi seorang teman asal Riau yang keluarganya berhalangan hadir. Yah,… karena kebetulan bada dhuhur saya punya waktu luang, kenapa tidak saya ikut menemani beliau. Kebetulan, saya agak telat karena harus mampir dulu ke kampus untuk kirim email sebentar. Wisuda dilaksanakan di gymnasium, sepanjang perjalanan dari kampus –gymnasium saya terheran-heran dengan suasana kampus yang tidak beda dengan pasar malam. Sepanjang jalan berderet-deret penjual kakilima, dari penjual makanan dan minuman, mainan, pakaian, bunga segar, sampai perabot dapur! Komplit plit. Oya penjual sepatu juga ada deh kayaknya. Saya rasa semua penjual mingguan di Gasibu pindah tempat ke UPI J
Setibanya di gymnasium, saya disuruh masuk dari pintu 3 “khusus undangan SPS” begitu tulisan di atas pintu masuknya! Tapi sungguh aneh bin ajaib, walaupun kami sudah membawa undangan ternyata kami belum masuk juga, jadilah antrean berdesak-desakan seperti mau nonton konser atau pertandingan sepak bola saja. Sempat juga saya mengurungkan niat untuk masuk, namun saya kok tidak sampai hati ya ketika mengingat kondisi wisudawan. Setelah berdiri dengan ransel laptop di punggung kurang lebih satu jam, barulah kami dapat masuk ke dalam gymnasium dan duduk di balkon ketiga. Saya, Ana dan Bu Asmida, menjadi keluarga dadakan sang wisudawan.
Berhubung acaranya SSG (Sungguh Sangat Garing!) .Sepanjang prosesi berlangsung, kami lebih asyik berdiskusi sendiri dan menjadi pengamat sekitar dari A sampai Z kami analisa. Hingga tibalah kami bercerita tentang prosesi wisuda kami masing-masing.
Saya sendiri ketika wisuda S1 di UNS walaupun kondisinya jauh lebih baik daripada yang saya alami hari itu, sebetulnya memilih untuk tidak mengikuti prosesinya jika saja ortu tidak bersedih karenanya. Selesai ujian skripsi bulan Maret itu, saya sempat bertanya pada pembimbing saya tentang asal usul prosesi wisuda berserta makananya, kenapa baju wisuda seperti itu? Kenapa kelulusan harus ditandai dengan pemindahan tali toga? Apa maknanya secara filosofi? Dan beliaupun kala itu belum dapat memberi penjelasan yang cukup bagi saya. Selain itu, saya cari informasi sana-sinipun tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan, padahal jika saya cermati prosesi wisuda itu tidak lain tidak bukan sebetulnya tidak banyak manfaatnya bagi saya ataupun bagi para wisudawan itu sendiri selain sekedar rasa bangga dan puas semata.
Untuk sekedar melihat lengkungan bibir Bapak dan Mama akhirnya saja ikut juga menjalani prosesi wisuda. Jika teman-teman saya sibuk melakukan persiapan awal bahkan sejak hari ujian skripsi, dari merancang kebaya, memilih jilbab, mencari sandal, hingga bereksperimen tata rias, saya justru sibuk untuk membuat lamaran kerja, melamar dan akhirnya mempersiapkan diri untuk segera melaksanakan pekerjaan Saya sebagai guru SD Islam Al-Azhar 28 Solo baru. Yup,… sebelum wisuda Alhamdulillah saya sudah diterima sebagai guru kelas I, setelah lulus tes seleksi masuk bertahap yang jauh lebih sulit daripada ujian PNS Dosen! J (menyisihkan kurang lebih 600 pelamar lainnya).
Jika kawan-kawan saya mengenakan gaun terindah di hari itu, bahkan ada yang seperti pengantin, ck..ck..ck… saya hanya mengenakan kain sarung songket merah dan kaos oblong berlengan pendek yang tertutup jubah wisuda (he..he..he.., kebayang dunk udara kota solo yang puanaasss kalau pakai kebaya pressbody,…rasanya kayak di neraka dunia he..he..he) dengan sedikit bedak dan lipstick merah muda, saya tambahkan selendang songketnya untuk hiasan jilbab (hmm,… selain berbakat menjadi hair-stylish ternyata saya berbakat juga jadi perias lho,… J). Walaupun saya tidak senang bersolek, namun di kos saya kerap kali menjadi tukang potong rambut dan perias para mba-mba yang mau wisuda bahkan sampai merias pengantin wanita, jadi untuk urusan make-up pun saya lakukan sendiri. Tak perlu shubuh-shubuh antri di salon kawan! J (sepertinya keahlian ini saya dapatkan secara tidak langsung dengan melakukan pengamatan yang intensif pada para tukang rias ketika saya masih aktif menjadi penari pada masa SD-SMU ditambah referensi dari majalah-majalah mode)
Keluarga yang datangpun hanya Bapak, Mama, adek, tante, seorang sepupu dan pakde yang menjadi sopir sekaligus guide di Solo. Yah,.. jadilah saya ikut wisuda, kemudian jepret sana-sini dengan kawan-kawan. He..he..he..
Kembali ke ulasan awal tentang makna prosesi wisuda, Bila tradisi seremonial akademik lainnya banyak yang berakar dari Belanda, ternyata prosesi wisuda ini tidak demikian. Karena perguruan tinggi di Belanda ataupun Negara eropa lainnya tidak mengenal prosesi ini. Wisuda ini ternyata berakar dari budaya Amerika. Jika di Amerika Serikat terdapat “graduation day” yang maknanya sebagai sebuah pesta penutupan tahun akademis, sehingga walaupun mahasiswa belum belum lulus 100% pun, tetap saja sah untuk ikut pesta tersebut karena periode tahun berikutnya mereka sudah tidak ikut kuliah lagi.
Di Indonesia sendiri, hanya mereka yang sudah lulus dan mengantongi ijasah yang dapat ikut wisuda. Oyaa,.. ditambah satu syarat lagi yaitu mereka yang telah melunasi uang wisuda tentu saja J. Padahal uang wisuda ini biasanya jumlahnya tidak murah lho,… bukan karena saya tidak nyaman berada di acara yang terlalu ramai seperti wisuda yang membuat saya kurang sepaham dengan ritual ini, namun jujur saja saya tidak menemukan esensi yang sreg dalam hati saya sehingga dimata saya acara ini lebih banyak mudaratnya. Jika di UNS acara wisuda memang disetting pada hari libur sabtu atau minggu dan hanya dilaksanakan dalam satu hari saja, sedangkan di UPI wisuda bisa dilaksanakan selama tiga hari berturut-turut dan bukan pada hari sabtu. Seringkali perkuliahan terpaksa diliburkan pula. Selain itu, ketika saya menyaksikan sedereten guru besar duduk di jajaran pangung selama satu hari penuh hanya sekedar duduk dan menonton para wisudawan yang maju silih berganti satu persatu yang bahkan mungkin tidak mereka kenal sama sekali, akh…. alangkah sayangnya waktu yang mereka habiskan itu. Alangkah lebih bermanfaatnya jika mereka 2 jam berada dalam satu kelas untuk mengajar para mahasiswa yang haus ilmu. Kegembiraan sesaat yang semu, begitulah sepertinya kegembiraan yang dirasakan di hari yang disakralkan tersebut. Selepas wisuda tantangan akan kehidupan pada dunia nyata jauh lebih berat. Persaingan kerja yang ketat, peluang usaha yang terbatas, ruang aktualisasi diri yang sempit dan masih segudang tantangan yang membentang membentang di hadapan para wisudawan. Untuk menghadapi itu semua, ijasah saja tidak cukup menjadi modal untuk berjuang kawan, namun esensi dari ilmu itulah yang sangat bermanfaat dalam mengahadapi tantangan-tantangan tersebut.
Akankah saya akan bernasib sama dengan para wisudawan di ruang gymnasium hari ini tahun depan? Entahlah, jika saja keluarga dan orang-orang terdekat dpat menerima dengan legawa saya memilih untuk membuat acara perayaan kelulusan sendiri saja dengan berkumpul bersama keluarga, orang-orang terdekat dan sahabat. Rasanya lebih masuk akal. J
Terlepas dari pro-kontra wisuda yang saya ulas, selamat kepada para wisudawan SPS UPI semoga ilmu yang diperoleh dapat memberi manfaat sebesar-besar bagi kemaslahatan masyarakat serta kemajuan bangsa. Amiin.