Bianglala Kehidupan

November 5th, 2008

La Tahzan Mama

Posted by faridoet in Hitam dan Kelabu

La Tahzan Mama,

Usah risaukan diriku, serahkan segalanya pada Tuhan Mama

Syafakillah Mama

Aku pulang

November 2nd, 2008

Buah Hati Pertiwi

Posted by faridoet in Sajak-Sajakku

Aku tidaklah pergi,

Kecuali tengah menempa diri

Percayalah, kalian masih tetap di hati

Janji tlah terpatri

Tuk hantarkan kalian

Suburkan bumi pertiwi

Menjunjung harkat dan martabat negri

Tebarkan aroma wangi Pertiwi

Ke segala penjuru bumi

Oh,… buah hati Pertiwi,

Kerinduan kalian adalah pelita di hati

Bandung, 2 november 2008

Special dedicated to all my students who miss me, I do miss all of u too.

November 1st, 2008

Mbah Janti

Posted by faridoet in Cerita, Putih

Jika saya ditanya, “Siapa salah satu orang yang paling berpengaruh dalam hidupmu?”. Selain Bapak dan Mama yang telah merawat, membesarkan dan mendidik saya dengan penuh pengorbanan dan airmata tentulah jawabnya adalah “Mbah Janti”. Mukti Hardjanti, begitu nama lengkapnya, beliau adalah seorang anak wanita tertua di keluarganya. Beliau menikah dengan Alm. Mbah Mawardi sebagai istri kedua setelah Mbah Kung ditinggalkan untuk selamanya oleh Almarhumah Mbah Putri Suwanah. Saat menikah dengan Mbah Kung, beliau adalah gadis berusia 40 tahun lebih dan sudah dilangkahi oleh dua adik lelakinya. Terlahir dari sebuah keluarga sederhana di Slawi, selepas SMA beliau langsung merantau ke Jakarta untuk bekerja dan membantu keluarga, membiayai sekolah adik-adiknya hingga ke jenjang Master bahkan ada yang sampai ke luar negri. Pernikahan beliau dengan Mbah Kung, diperantarai oleh tante Mimi sebagai teman sekantor Mbah Janti di Dinas Kesehatan kabupaten Bekasi.

Mbah Kung Mawardi sendiri sebetulnya bukan kakek kandung saya, melainkan paman dari Mama. Sejak SD Mama memang sudah ikut dengan keluarga Mbah Kung yang menikah dengan wanita asli Bekasi. Pernikahan Mbah Kung dengan Mbah Janti menurut saya adalah pernikahan yang membawa banyak kebaikan bagi Mbah Kung. Mbah Janti dimata saya adalah seorang wanita sholehah yang luar biasa. Dengan segala kelebihan rizki yang dimiliki, Mbah Janti membimbing Mbah Kung dalam beribadah, walaupun Mbah Kung sudah berhaji sebelum menikah dengan Mbah Janti, namun soal ibadah lainnya seperti zakat, infaq, shodaqoh, puasa sunat, qurban dan lainnya Mbah Jantilah yang memprakarsai lebih dulu. Mbah kung dulu juga terkenal kurang dekat dengan kerabat di Klaten, namun keberadaan Mbah Janti justru merekatkan kembali. Sepetinya sifat penyanyang dan dermawan, sangat melekat erat dalam jiwa Mbah janti, dan ini rupanya lambat laun menular pada orang di sekitarnya. Kepekaan Mbah Janti terhadap lingkungannya baik saudara, kerabat ataupun tetangga sekitar sungguh luar biasa. Siapapun yang sedang mengalami kesulitan, beliau akan membantunya sedapat mungkin baik di waktu sempit apalagi lapang.

Saya sendiri, awalnya kurang dekat Mbah kung namun sejak menikah dengan Mbah Janti, saya menjadi cucu keponakan paling dekat dengan mereka hingga saat ini bahkan ketika Mbah Kung sudah tiada. Selain sering diajak pesiar local bersama, saya juga sering kali berbicang-bincang dari hati ke hati dengan keduanya. Secara terpisah, Mbah Janti pernah mengungkapkan kebahagiaan hatinya bersuamikan Mbah Kung, walaupun harus menanti panjang dan tidak dikaruniani keturunan namun pernikahan yang mereka miliki adalah pernikahan yang sangat indah begitu Mbah Janti mengungkapkan pada saya. Dilain pihak, Mbah Kung sendiri pernah suatu kali memanggil saya (saat itu saya baru saja selesai kuliah), beliau berpesan demikian, “Coba deh Ida lihat Mbah Ti, walaupun wajahnya tidak secantik Tamara Blezenky namun hatinya itu luar biasa kan?! Kamu contoh tuh Mbah Ti mu, Mbah ini kan laki-laki (Tampan lagi,….st..st… versi kami berdua lho…:) ) da tapi mbah dah tahu gimana rasanya, menikah dengan perempuan yang cantik hatinya jauh lebih baik daripada perempuan yang hanya cantik wajahnya. Apalagi jika cantik dua-duanya,….”. Kadang di sela perbincangan kami di kamar, ketika berbicara tentang kematian Mbah Kung sering bilang pada Mbah Ti, Ma kalau saya dipanggil duluan, Mama jangan tinggalin Al-Quran ya, supaya kita bisa ketemu lagi di syurga. Subhanallah,…. Mbah Ti memang rutin tilawah, sehingga kebiasaan itu menular pada Mbah Kung, setelah pensiun semakin aktif mentadabburi Quran bahkan berlanjut hingga akhir hayat mbah Kung.

Mbah Janti, selain beliau seorang wanita sholeh beliau juga seorang pebisnis yang ulung. Sejak masih lajang, selain sebagai seorang PNS, untuk membiayai kuliah adik-adiknya beliau juga memiliki beberapa usaha yang cukup menjanjikan dari bidang fashion, makanan, alat-alat kesehatan sampai perabotan, walaupun sempat sedikit mengurangi bisnis pribadinya setelah menikah dengan Mbah Kung namun kini sepeninggal Mbah Kung, Mbah mulai aktif kembali berbisnis, salah satunya bisnis makanan bersama Mama. Selain untuk menghalau rasa kesepian yang kadang sering menyerang, saya tahu Mbah Ti juga masih ingin membantu Mama yang jenuh terus berada di rumah padahal dulu Mama juga perempuan yang ulet berusaha. Alhamdulillah,.. usaha mereka cukup menjanjikan. Mama dan Mbah Ti adalah perpaduan yang sempurna dalam usaha makanan, Mama yang pandai memasak dan Mbah Ti yang pakar membuat segala macam kue tlah membuat lidah para dokter di kantor dinas kesehatan Pemda Kabupaten Bekasi ketagihan karenanya, sejak saat itu mereka memutuskan untuk melanjutkan dan memperluas bisnis yang berakar dari hobby tersebut.

Figur Mbah Ti telah mengajarkan saya, makna pengorbanan, makna kesabaran serta indahnya semangat berbagi. Telfon dari Mama pagi tadi menggugah Saya untuk menuliskan cerita ini. Terima kasih Mbah Ti, Ida sayangMbah Ti. Moga Allah senantiasan melimpahkan kasih sayang, Rahmat serta karunianya untuk Mbah Ti. Amiin.

November 1st, 2008

“Besok”-nya Orang Jawa

Posted by faridoet in Cerita

Teh Amel berangkat dulu ya,… “

“Ok hati-hati Mel,… eh besok kita badminton lagi ya Mel”

“Hm,.. besok Amel ada THB di BRC Teh,…” sambil berdiri di balik pintu Amel berhenti sejenak untuk konfirmasi.

“Oh,.. Ya suah,. Besok kapan-kapan ya Mel,…” dengan ringannya aku menanggapi Amel yang masih serius berdiri mau keluar Kos.

“Tuh kan, dasar orang jawa! Buat mereka orang jawa besok itu artinya ‘kapan-kapan’ ya Teh”. tiba-tiba Teh Tika, mahasiswa S2 ITB nyeletuk.

“Dulu juga waktu Tika di jogja begitu, ada temen yang bilang mau maen besok ke kos, padahal aku tuh udah mempersiapkan penyambutan tapi ternyata dia tidak datang. Ternyata maksudnya besok itu sama dengan kapan-kapan” . Teh Tika yang aslinya dari Sumatera bercerita sambil masih bersungut-sungut.

Sejenak Saya terdiam dan mencoba menyelam dalam long term memory, apakah Saya pernah mengalami hal ini. Jangan-jangan dikatakan oleh Teh Tika memang benar, kebiasaan orang Jawa (tengah. Red) untuk basa-basi sering kali membuat hati orang keki. Meskipun “besok” dan“kapan-kapan” yang saya ucapkan barusan tidak bermaksud demikian. Namun kata “besok” yang dipakai oleh kawannya teh Tika memang sebuah basa-basi belaka yang diucapkan untuk mengatakan bahwa “Ya kapan-kapan bila saya punya waktu” tanpa menyinggung perasaan lawan bicara.

Tiba-tiba Saya teringat dengan pertanyaan kerabat dekat saya, saat silaturahim Iedul Fitri lalu,

“Jadi, Kapan kapan mau maen ke rumah?”

“IA habis lebaran”

“Iya habis lebaran, bisa minggu depan, bulan depan, tahun depan atau bahkan beberapa tahun lagi” beliau menimpali jawaban saya panjang lebar sambil sedikit menyindir.

Pemilihan kata yang digunakan untuk menyatakan konsep waktu memang agaknya dapat dijadikan patokan untuk mengukur seberapa jauh disiplin seseorang terhadap waktu. Saya sendiri seringkali jika berjanji menggunakan kata “jam 8an” itu bermakna sekitar jam 8 dapat kurang dapat pula lebih. Tapi seringkali artinya lebih J. Sepertinya harus segera introspeksi diri nih,…. J harus mulai menggunakan kata-kata yang tepat agar tidak membuat keki hati orang lain, selain tentu saja berusaha sedapat mungkin memenuhi janji yang sudah dibuat dan menghindari basa-basi yang tak perlu hanya tuksekedar menyenangkan lawan bicara sesaat saja.

Kembali pada bahasan awal tentang kata “besok” dalam bahasa jawa, jika saya pikir-pikir mungkin kata “besok” memang memiliki makna yang lebih luas artinya dalam bahasa jawa. Saya teringat, dulu Mbah sering kali mengatakan “Sinau sing sregep gen besuk gede dadi wong pinter yo Nduk” makna kata “besok” dalam kalimat tersebut kurang lebih sama dengan kata “nanti”, tidak sama artinya dengan kata “besok” yang maknanya hari setelah hari ini. Nah, mungkin inilah akar dari kenapa jika orang jawa (tengah) bilang “besok” sering kali tidak sama artinya dengan “besok” dalam konteks Bahasa Indonesia. Sehingga Teh Tika yang sempat tinggal di Yogyakarta 5 tahun memiliki asumsi seperti tertulis di atas.

Jadi kesimpulannya,… hati-hati bila orang jawa bilang “besok”. Oh,… bukan, bukan itu deh,… tapi kesimpulannya hati-hati memilih kata yang berkaitan dengan waktu terutama jika sudah berkaitan dengan membuat janji, jangan sampai membuat hati orang keki karena janji yang tak pasti. :)

  • Monthly

  • Blogroll

  • Meta: