Bianglala Kehidupan

December 26th, 2008

Little Pussy Sahabat Shubuhku

Posted by faridoet in Cerita, Putih

Sejak pindah di kos baru ini, 6 bulan yang lalu, saya benar-benar menikmati setiap waktu shubuh yang saya lewati. Ritualnya hampir selalu sama, bangun malam 1-1/2 jam sebelum adzan berkumandang walau harus melawan dingin yang menggigit, namun kehangatan suasana sepertiga malam mengalahkan dinginnya udara Bandung utara. Tepat bersamaan dengan suara adzan berkumandang biasanya lolong anjing-anjing tetangga depan rumahpun sahut menyahut, bahkan terkadang bersahutan dengan anjing di kompleks sebelah. Ya,.. Ku amati hampir setiap shubuh selalu saja anjing-anjing itu menggogong atau melolong saat adzan berkumandang, bahkan ketika manusia masih terlelap tidur mereka dengan setia menyambut seruan sholat itu. Mungkin begitulah cara binatang bertasbih pada Tuhannya. Suara adzan itu adalah parameter bagiku untuk langsung bergegas ke masjid. Sendiri, kususuri jalangerlong girang baru 2, khidmat, sesekali kulihat anjing pudel depan rumahku sudah hampir terlelap lagi kadang dia menatapku tanpa menggogong, rupanya dia sudah kenal dan hapal juga ritual shubuhku. Dulu awal-awal tidak begitu adanya, aku yang notabene amat takut dengan mahluk yang sebenarnya amat lucu itu sempat dibuatnya keder, walau kecil tapi ngonggongannya bisa menyiutkan nyali seketika. Biasanya selain menatap langit shubuh, aku seringkali menggunakan momen perjalananku ke masjid untuk berpikir dan merenung, kesunyian pagi disertai belaian lembut angin shubuh sungguh mujarab untuk membasuh hati dan pikiranku.

Seperti pagi tadi, kunikmati langkah demi langkah dari depan kos-ku menuju masjid DT (Daarut Tauhid). Setibanya di ujung jalan gerlong girang baru 2, aku berbelok ke kiri jalan gerlong girang baru. Begitu asyiknya aku menyesap suasana shubuh, tiba-tiba dikagetkan dengan sentuhan-sentuhan kecil di rok-ku. Rupanya si Pussy, kucing belang yang berdomisili di kompleksku, menyapaku. Aku sempat heran, tumben sekali dia sudah bangun, karena biasanya dia menyambutku pulang dari masjid, dengan gaya genit dan lincah biasanya kucing imut ini menantiku tidak jauh dari portal kompleks. Dan dengan setia berlari-lari kecil menemaniku sampai tiba di kos. Lucunya, dia tidak pernah minta imbalan atas kerelaannya menyambut dan mengantarku setiap shubuh, hampir setiap pagi sepulang dari masjid aku sekalian membeli sarapan dan ketika kucoba memberinya makanan sebagai imbalan, dia tidak antusias, dia lebih senang diajak bercanda dan bermain-main daripada diberi makan. Memang dia kucing yang cukup sehat dan gemuk, karena tidak sulit bagi kucing mencari makan di komplek kami. Ada banyak kucing liar di komplekku, mungkin kurang lebih ada 10 ekor, kadang ibu kosku,yang tinggal di rumah nomor 1 seringkali memberikan makan kucing-kucing liar itu karena beliaupun memelihara beberapa kucing di rumahnya. Lucunya lagi jika siang hari, walaupun aku bertemu dengannya dan kupanggil-panggil, dia hanya sebatas melempar senyum dan mengibaskan ekornya saja.

Pagi tadi dia mengantarkanku hingga ke portal, aku khawatir dia akan ikut terus sampai ke Masjid. Itu terlalu jauh, aku takut dia tidak kembali. Setibanya di portal aku harus belok kanan di jalan gerlong girang, Pussy kecil kusuruh untuk kembali, tapi rupanya dia ragu, kami sempat diam sesaat, untunglah shubuh tadi tidak ada orang yang lihat, hm,… mungkin satpam saja yang memperhatikan, tapi aku pun mengabaikannya. Dia diam dan menatapku, akh,… sorot matanya mengatakan banyak hal padaku. Kukibaskan tanganku menyuruhnya kembali, sambil berkata dalam hatiku, “kembalilah nantipun aku pulang, aku khawatir kau nanti tersesat, usah mengantarku hingga ke Masjid”. Akhirnya dia kembali, rupanya ia mengerti apa yang kusampaikan melalui hati. Aku menyebutnya bahasa jiwa.

Pagi tadi jamaah masjid cukup padat, tidak seperti shubuh kemarin yang lebih sepi. Hm,.. tentu saja karena semalam kan malam jum,at ada jadwal pengajian mingguan rutin di Masjid DT, biasanya banyak juga yang sekalian bermalam di Masjid, itulah penjelasan mengapa jamaah pagi tadi lebih ramai. Aku senang dengan keberadaan Imam masjid yang baru ini, hm,,… sudah tidak benar-benar baru sih. Sudah beberapa bulan yang lalu beliau menjadi Imam di Masjid DT, beliau seorang hafidz , nah salah satu program masjid adalah mengkhatamkan Al-Quran dengan membaca surat-surat dengan urut dari juz pertama hingga juz 30 dalam sholat-sholat yang bacaannya di jahr-kan. Aku sebagai salah satu jamaah jadi turut termotivasidengan adanya program ini. Selepas shubuh, biasanya aku berdiam di masjid hingga pukul 5 atau 5.15, selain ikut berdzikir dan sempat tilawah sebentar, sekalian aku menanti tukang nasi uduk atau bubur ayam langganan sarapan, setelah itu aku pulang. Sepanjang perlajanan pulang yang sedikit menanjak, aku senang memandang langit di sebelah timur, sebelum aku berbelok ke utara. Terkadang aku dapat melihat semburat jingga pendaran sinar mentari pagi yang indah, atau gumpalan-gumpalan awal putih dan kelabu dikala mendung, sering aku berimaji dengan bentuk awan-awan itu.

Berbelok ke utara, merunduk melewati portal yang belum dibuka, disana sudah kulihat pussy kecil berlenggak-lenggok di depan sebuah mobil yang biasa diparkir di sebelah kanan jalan. Ekornya dikibas-kibaskan sesaat sebelum melesat berlari dengan kencangnya menyambut kedatanganku. Angin pagi yang dingin meronakan wajahku, berjalan beriringan dengan si Pussy, menikmati pagi bersama kicau burung-burung yang biasa bertengger di pohon cengkeh kiri jalan dan kembali berakhir di depan pagar kos-ku. Shubuh tadi, Pussy, kucing belang lucu itu tlah menunjukkan padaku kepekaan seorang sahabat melalui bahasa jiwa, bahasa dunia. Ini bukan kali pertama Ia menjelma menjadi sesosok mahlukyang sepertinya mengerti apa yang sedang kualami. Aku teringat pada kucing-kucingku, semasa kecil dan remaja. Kami seolah punya bahasa jiwa hingga dapat saling memahami suasana hati kami masing-masing, mereka menghiburku disaat duka dan demikian pula sebaliknya seperti seorang sahabat saja. Mungkin, ini salah satu bentuk bahasa jiwa, bahasa dunia seperti yang diuraikan dalam “The Alkemis” oleh Paulo Coelho. Dengan bahasa jiwa, Pussy kecil menghalau kabut hatiku. Terima kasih Tuhan, tlah mengirimkan seekor kucing lucu di setiap shubuhku.

December 2nd, 2008

Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.

Posted by faridoet in Hitam dan Kelabu

Bandung, 2 Desember dinihari.

Setelah genap satu minggu berlalu rupanya saya baru sanggup mengungkapkan perasaan hati dalam sebuah tulisan untuk berbagi tanpa berniat mencari simpati sama sekali (ya,.. tentu saja karena saya bukan caleg khan?!). Jika kesedihan tlah membuat airmata saya membeku beberapa waktu, maka barulah malam kemarin ia luluh mencair dalam sujud yang panjang.

Setelah tanggal 14-16 bulan lalu saya menjenguk Simbah Putri secara mendadak pasca mendengar kondisi kesehatan beliau yang agak menurun karena tidak mau makan, maka kemarin hari senin malam selasa 24 November saya dikejutkan dengan berita duka kepergian Simbah Putri yang amat dekat dengan saya. Memang pada minggu pertama bulan November, Simbah sudah mengutarakan keinginannya secara tidak langsung untuk dijenguk oleh saya, namun karena berbagai kesibukan saya belum sempat ke Cilacap dan baru terwujud seminggu kemudian maju satu minggu dari rencana yang saya buat sebelumnya.

Waktu itu, saya mendapat kabar dari Bapak sekitar pukul 7 lewat beberapa menit di hari Jum’at, entah mengapa saya langsung memutuskan ke Cilacap hari itu juga. Bapak bilang Simbah ingin makan kelengkeng, sehingga saya berusaha untuk mendapatkan buah tersebut lebih dulu sebelum berangkat menggunakan bis dari terminal Caheum. Namun, entah mengapa yang biasanya kelengkeng mudah didapat, hari itu rasanya begitu sulit. Saya pergi ke beberapa supermarket tapi hasilnya nihil, walhasil saya baru mendapatkan buah tersebut di salah satu supermarket yang letaknya dekat terminal Caheum setelah sempat masuk di 4 supermarket, itupun kualitas kelengkengnya tidak seberapa bagus.

Setibanya di rumah Doplang, Simbah sempat terkejut melihat kedatangan saya yang tiba-tiba, seperti ketika beliau di ruang ICU dulu. Wajahnya terlihat masih pias, tidak sesegar biasanya. Malam itu juga saya langsung berkesempatan menyiapkan makan malam untuk beliau, bubur sumsum. Alhamdulillah,… beliau menghabiskan bubur satu mangkok itu dan sejak malam itu hingga wafatnya beliau, nafsu makan beliau kembali normal bahkan membaik, begitulah Om saya bercerita. Malam itu saya menemani beliau tidur dikamarnya, malam itu semua aktifitas beliau masih dilakukan di tempat tidur. Alhamdulillah,… pagi harinya beliau sudah dapat ke kamar mandi untuk wudhu dan sholat di tempat sholat walaupun masih harus duduk. Kami banyak menghabiskan waktu untuk bercerita. Simbah bilang, sebelumnya beliau malas bicara namun kehadiran saya membuatnya bersemangat lagi untuk bercerita. Dari cerita pada masa Bapak kecil sampai membicarakan keadaan semua sepupu dan keponakan saya yang jumlahnya 19 orang. Tidak dari keluarga Mama ataupun Bapak, saya memang cukup dekat dengan Simbah-simbah dan senang mendengarkan cerita-cerita mereka yang kadang seringkali diulang hingga berkali-kali J. Mungkin inilah yang menyebabkan saya dekat dengan para Simbah, karena bersedia mendengarkan cerita mereka walaupun sudah diulang berkali-kali. Namun, tidak jarang pula saya bertukar pendapat dengan para Simbah, walaupun hanya sebatas cucu seringkali saya membantu memecahkan masalah-masalah mereka baik tentang keluarga hingga soal teknik semisal, memilih pakaian demikian pula sebaliknya banyak masalah saya yang dapat diselesaikan dengan bantuan mereka.

Simbah Putri Cilacap adalah sosok yang amat penyabar dan penyayang, ahli ibadah yang tekun dengan keistiqomahan yang luar biasa. Kesabaran beliau dapat saya ilustraikan dalam kisah pilu yang baru saja kami lalui. Saat Ramadhan lalu, salah satu putranya yang juga adalah Om yang paling dekat dengan saya dan Bapak harus pergi mendahului beliau disaat beliau terbaring lemah di ICU. Seluruh anggota keluarga sepakat untuk menyembunyikan berita duka ini dari beliau hingga berlalunya Idul Fitri karena kekhawatiran yang berlebihan akan kondisi beliau. Namun, sungguh diluar dugaan beliau justru terlihat begitu tegar dan kuat bahkan lebih kuat dari pada Om-om dan tante-tante saya. Komentar beliau hanya, “Oh,.. jadi Lukman sudah lulus ujian lebih dulu ya,… syukurlah… Alhamdulillah Moga-moga amal ibadahnya di terima Gusti Allah”. Subhanallah,…..

Beliaulah yang mengenalkan pada saya betapa nikmatnya memakmurkan masjid sejak usia saya balita. Setiap kali saya mudik ke Cilacap, saya menjadi satu-satunya cucu yang selalu ikut beliau sholat di masjid yang dibangun oleh Almarhum Simbah buyut, Mbah H. Dulatif yang tidak seberapa jauh dari rumah. Saya ingat betul tempat favorit beliau di pojok depan dekat tembok yang jauh dari hijab, bahkan dulu saya menghapal surat-surat pendek dari kebiasaan mendengarkan puji-pujian yang sering dibaca dengan cara didendangkan sehabis sholat berjamaah. Sepeninggal Mbah Kakung pada tahun 2004 lalu, mbah putri lebih sering menghabiskan waktu di Bekasi, bergantian dari satu rumah anaknya ke rumah yang lain. Aktivitas beliau sehari-hari hanya ibadah, dari yang wajib hingga yang sunnah. Tidak satu malampun beliau lewatkan untuk bertahajud jika kesehatannyabaik, bahkan pada saat beliau di ICUpun sembari tidur tetap berusaha istiqomah untuk ibadah. Beliau juga mengingat dengan baik setiap keinginan putra-putrinya dan cucunya dan memperhatikan setiap doa yang terkabul atas keinginan tersebut. Menjelang Ramadhan tahun ini, beliau baru kembali ke Doplang dan sempat mengutarakan keengganan beliau untuk kembali ke Bekasi karena ingin istirahat di Doplang. Setiap Ramadhan, Mbah Putri dan Mbah Kakung punya kebiasaan itikaf di sepuluh hari terakhir di suatu pesantren di daerah yang Saya tidak tahu namanya. Ternyata, Ramadhan ini menjadi Ramadhan terakhir bagi beliau.

Rupanya saat berpamitan pulang ke Bandung itulah perjumpaan terakhir saya dengan beliau. Dua malam yang saya lalui bersamanya menjadi malam terakhir kami bercengkrama dan bercerita. Semenjak saya kecil, selain di rumah sakit baru itulah kali pertama saya tidur satu ranjang dengan beliau. Rupanya tahu-masak itulah makan malam terakhir yang saya siapkan untuk beliau. Hari itu saya perpamitan dengan tergesa-gesa mencium tangannya, memeluknya dan mencium kedua pipinya sambil menatap dalam matanya yang menyimpan berjuta makna. Hampir saja saya tertinggal kereta hari itu.

Setahun ini, saya kehilangan empat anggota keluarga dekat berturut-turut dan tiga diantaranya adalah sosok-sosok yang amat dekat dengan saya. Sumber insprirasi dalam menjalani hidup. Ya Allah, Wahai Pemilik Hidup Ampunilah dosa-dosa mereka, terimalah amal ibadahnya dan pertemukan kami kembali kelak di jannah-Mu. Amiin

“Sesungguhnya kita adalah milik Allah, dan sesungguhnya kita akan kembali kepada-Nya. Ya Allah, dihadapan-Mu-lah aku memperhitungkan musibahku, maka berilah aku pahala karena musibahku itu dan berilah aku ganti yang lebih baik daripadanya. Amiin”

  • Monthly

  • Blogroll

  • Meta: