Bianglala Kehidupan

December 2nd, 2008

Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.

Posted by faridoet in Hitam dan Kelabu

Bandung, 2 Desember dinihari.

Setelah genap satu minggu berlalu rupanya saya baru sanggup mengungkapkan perasaan hati dalam sebuah tulisan untuk berbagi tanpa berniat mencari simpati sama sekali (ya,.. tentu saja karena saya bukan caleg khan?!). Jika kesedihan tlah membuat airmata saya membeku beberapa waktu, maka barulah malam kemarin ia luluh mencair dalam sujud yang panjang.

Setelah tanggal 14-16 bulan lalu saya menjenguk Simbah Putri secara mendadak pasca mendengar kondisi kesehatan beliau yang agak menurun karena tidak mau makan, maka kemarin hari senin malam selasa 24 November saya dikejutkan dengan berita duka kepergian Simbah Putri yang amat dekat dengan saya. Memang pada minggu pertama bulan November, Simbah sudah mengutarakan keinginannya secara tidak langsung untuk dijenguk oleh saya, namun karena berbagai kesibukan saya belum sempat ke Cilacap dan baru terwujud seminggu kemudian maju satu minggu dari rencana yang saya buat sebelumnya.

Waktu itu, saya mendapat kabar dari Bapak sekitar pukul 7 lewat beberapa menit di hari Jum’at, entah mengapa saya langsung memutuskan ke Cilacap hari itu juga. Bapak bilang Simbah ingin makan kelengkeng, sehingga saya berusaha untuk mendapatkan buah tersebut lebih dulu sebelum berangkat menggunakan bis dari terminal Caheum. Namun, entah mengapa yang biasanya kelengkeng mudah didapat, hari itu rasanya begitu sulit. Saya pergi ke beberapa supermarket tapi hasilnya nihil, walhasil saya baru mendapatkan buah tersebut di salah satu supermarket yang letaknya dekat terminal Caheum setelah sempat masuk di 4 supermarket, itupun kualitas kelengkengnya tidak seberapa bagus.

Setibanya di rumah Doplang, Simbah sempat terkejut melihat kedatangan saya yang tiba-tiba, seperti ketika beliau di ruang ICU dulu. Wajahnya terlihat masih pias, tidak sesegar biasanya. Malam itu juga saya langsung berkesempatan menyiapkan makan malam untuk beliau, bubur sumsum. Alhamdulillah,… beliau menghabiskan bubur satu mangkok itu dan sejak malam itu hingga wafatnya beliau, nafsu makan beliau kembali normal bahkan membaik, begitulah Om saya bercerita. Malam itu saya menemani beliau tidur dikamarnya, malam itu semua aktifitas beliau masih dilakukan di tempat tidur. Alhamdulillah,… pagi harinya beliau sudah dapat ke kamar mandi untuk wudhu dan sholat di tempat sholat walaupun masih harus duduk. Kami banyak menghabiskan waktu untuk bercerita. Simbah bilang, sebelumnya beliau malas bicara namun kehadiran saya membuatnya bersemangat lagi untuk bercerita. Dari cerita pada masa Bapak kecil sampai membicarakan keadaan semua sepupu dan keponakan saya yang jumlahnya 19 orang. Tidak dari keluarga Mama ataupun Bapak, saya memang cukup dekat dengan Simbah-simbah dan senang mendengarkan cerita-cerita mereka yang kadang seringkali diulang hingga berkali-kali J. Mungkin inilah yang menyebabkan saya dekat dengan para Simbah, karena bersedia mendengarkan cerita mereka walaupun sudah diulang berkali-kali. Namun, tidak jarang pula saya bertukar pendapat dengan para Simbah, walaupun hanya sebatas cucu seringkali saya membantu memecahkan masalah-masalah mereka baik tentang keluarga hingga soal teknik semisal, memilih pakaian demikian pula sebaliknya banyak masalah saya yang dapat diselesaikan dengan bantuan mereka.

Simbah Putri Cilacap adalah sosok yang amat penyabar dan penyayang, ahli ibadah yang tekun dengan keistiqomahan yang luar biasa. Kesabaran beliau dapat saya ilustraikan dalam kisah pilu yang baru saja kami lalui. Saat Ramadhan lalu, salah satu putranya yang juga adalah Om yang paling dekat dengan saya dan Bapak harus pergi mendahului beliau disaat beliau terbaring lemah di ICU. Seluruh anggota keluarga sepakat untuk menyembunyikan berita duka ini dari beliau hingga berlalunya Idul Fitri karena kekhawatiran yang berlebihan akan kondisi beliau. Namun, sungguh diluar dugaan beliau justru terlihat begitu tegar dan kuat bahkan lebih kuat dari pada Om-om dan tante-tante saya. Komentar beliau hanya, “Oh,.. jadi Lukman sudah lulus ujian lebih dulu ya,… syukurlah… Alhamdulillah Moga-moga amal ibadahnya di terima Gusti Allah”. Subhanallah,…..

Beliaulah yang mengenalkan pada saya betapa nikmatnya memakmurkan masjid sejak usia saya balita. Setiap kali saya mudik ke Cilacap, saya menjadi satu-satunya cucu yang selalu ikut beliau sholat di masjid yang dibangun oleh Almarhum Simbah buyut, Mbah H. Dulatif yang tidak seberapa jauh dari rumah. Saya ingat betul tempat favorit beliau di pojok depan dekat tembok yang jauh dari hijab, bahkan dulu saya menghapal surat-surat pendek dari kebiasaan mendengarkan puji-pujian yang sering dibaca dengan cara didendangkan sehabis sholat berjamaah. Sepeninggal Mbah Kakung pada tahun 2004 lalu, mbah putri lebih sering menghabiskan waktu di Bekasi, bergantian dari satu rumah anaknya ke rumah yang lain. Aktivitas beliau sehari-hari hanya ibadah, dari yang wajib hingga yang sunnah. Tidak satu malampun beliau lewatkan untuk bertahajud jika kesehatannyabaik, bahkan pada saat beliau di ICUpun sembari tidur tetap berusaha istiqomah untuk ibadah. Beliau juga mengingat dengan baik setiap keinginan putra-putrinya dan cucunya dan memperhatikan setiap doa yang terkabul atas keinginan tersebut. Menjelang Ramadhan tahun ini, beliau baru kembali ke Doplang dan sempat mengutarakan keengganan beliau untuk kembali ke Bekasi karena ingin istirahat di Doplang. Setiap Ramadhan, Mbah Putri dan Mbah Kakung punya kebiasaan itikaf di sepuluh hari terakhir di suatu pesantren di daerah yang Saya tidak tahu namanya. Ternyata, Ramadhan ini menjadi Ramadhan terakhir bagi beliau.

Rupanya saat berpamitan pulang ke Bandung itulah perjumpaan terakhir saya dengan beliau. Dua malam yang saya lalui bersamanya menjadi malam terakhir kami bercengkrama dan bercerita. Semenjak saya kecil, selain di rumah sakit baru itulah kali pertama saya tidur satu ranjang dengan beliau. Rupanya tahu-masak itulah makan malam terakhir yang saya siapkan untuk beliau. Hari itu saya perpamitan dengan tergesa-gesa mencium tangannya, memeluknya dan mencium kedua pipinya sambil menatap dalam matanya yang menyimpan berjuta makna. Hampir saja saya tertinggal kereta hari itu.

Setahun ini, saya kehilangan empat anggota keluarga dekat berturut-turut dan tiga diantaranya adalah sosok-sosok yang amat dekat dengan saya. Sumber insprirasi dalam menjalani hidup. Ya Allah, Wahai Pemilik Hidup Ampunilah dosa-dosa mereka, terimalah amal ibadahnya dan pertemukan kami kembali kelak di jannah-Mu. Amiin

“Sesungguhnya kita adalah milik Allah, dan sesungguhnya kita akan kembali kepada-Nya. Ya Allah, dihadapan-Mu-lah aku memperhitungkan musibahku, maka berilah aku pahala karena musibahku itu dan berilah aku ganti yang lebih baik daripadanya. Amiin”



4 Responses to ' Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. '

Subscribe to comments with RSS or TrackBack to ' Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. '.

  1.    tokbatinsenoi said,

    on December 16th, 2008 at 3:17 am

    Bagaiman kita harus kembali? ‘KEKEMBALIAN’ telah tetap pada azali.

  2.    faridoet said,

    on December 16th, 2008 at 9:22 pm

    Yang kembali adalah mereka yang mempunyai tempat asal. Bila tak punya asal, kemana hendak kembali?

    Pertanyaan tersebut mungkin dapat dijawab bila kita dapat menjawab pertanyaan, “mengapa kita harus kembali?”

  3.    erlin said,

    on December 31st, 2008 at 3:33 am

    innalillahi wa innalillahi rojiun…
    afwan da, baru tau. semoga diterima amal ibadah simbah n semua yang mendahului kita oleh Allah SWT. Amiin.

  4.    erlin said,

    on December 31st, 2008 at 3:45 am

    innalillahi wa inna ilaihi rojiun…
    afwan da, baru tau. semoga diterima amal ibadah simbah n semua yang mendahului kita oleh Allah SWT. Amiin.

Leave a reply

  • Monthly

  • Blogroll

  • Meta: