Bianglala Kehidupan

February 19th, 2009

Gaza dalam Mimpiku

Posted by faridoet in Hitam dan Kelabu

Berita di berbagai media memperlihatkan kecemasan akan perang yang sepertinya kembali bergolakdi Gaza. Di pampang gambar ekspresi bocah-bocah korban perang Palestina di halaman-halaman utama surat kabar dunia.Perlahan, gambar-gambar di Koran itu memudar, siluet-siluet pun bermunculan. Nyata! Begitu nyata! Karena aku berada di dalamnya. Di sana. Di Palestina!

Sebuah flat kecil, biru kumuh, di sebuah pinggiran kota. Suram! Kudapati onggokan-onggokan mayat berserakan. Tak utuh lagi. berbagai penggalan anggota tubuh berserakan. Potongan tangan, kaki, kepala yang sudah jauh dari kata utuh.Ya Allah,… kulihat mayat seorang bayi mungil, ya… yang bahkan usianya tidak lebih dari 3 bulan saja. Lengannya sudah terpisah berserakan. Putih! Masih putih seperti hatinya yang suci. Tak ada bau anyir. Dan aku masih tegar.

Aku bergerak. Melanjutkan perjalanan. Di depan sebuah rumah. Kulihat tentara-tentara Yahudi terlaknat sedang berpesta. Mereka mengerumuni seorang lelaki Palestina yang sudah terkapar bersimbah darah, sambil tertawa mengejek mereka menyayi, memaki bahkan menendang-nendang sosok yang entah masih bernyawa atau tidak itu. mata-mata bengis dan keji itu tak kan kulupakan. Seperti sekelompok srigala yang berpesta atas mangsa buruannya. Seperti itulah Yahudi berpesta. Seorang Palestina yang teraniaya, bahkan di tanahnya sendiri.

Semakin jauh perjalananku, kulihat kekejian yang tak berperi. Lebih jauh menyayat hati. Kulihat tubuh-tubuh yang hancur tak berbetuk tergantung di tiang-tiang. Akh,.. entah tiang atau sekedar tali saja. Tua, muda, bahkan anak-anak! Tubuh mereka benar-benar hancur! Hancur bagai daging cincang di pasar! namun kudapati wajah-wajah mereka tanpa duka Subhanallah,…..

Ya Allah, jiwa manusia macam apa yang sanggup melakukannya,……

Tiba di sebuah rumah. Sang ayah dan seorang lelaki di ruang depan tengah diintrogasi oleh beberapa Tentara Israel. Dihardik! Dengan moncong senjata di kepala. Tak berdaya, namun masih tegar dan berani! Tiba- tiba perbatan memanas. Maki dan cacian mulai memanas. Anak lekaki berlari ke dalam, ketika seorang tentara Israel merasuk masuk ke dalam kamar. Sang ibu dan kakak perempuan sedang berdiri, sholat. Berusaha melindungi, bertanggungjawab atas keselamatan kedua perempuan di rumah tersebut.

“Tidak nak, usah kau risau. Syahid adalah impian ayah. Juga impian kami. Mengapa harus risau. Perjumpaan itu telah kami rindukan”

“Ibu maafkan aku dan ayah yang tak dapat melindungimu dan saudara perempuanku”

“anakku, Siapakah penguasa jiwa-jiwa kita? Bila bukan dirimu maka Allah yang akan menjaga kami. Pergilah. Jemput syahidmu wahai anakku”

Aku terpaku. Diam! Mencerna rasa takut yang bergolak dalam perutku.

Kulihat sang ayah, saudara lelaki dan ibu dari perempuan muda yang seusia denganku menjemput syahidnya dengan berani. Dalam tajamnya ujung pedang dan desing peluru mesiu yang meraung-raung tak hentinya.

Meradang! Ia sendiri di dalam kamar tak tertata. Seornag tentara setengah baya menghapirinya.

Oh,.. degup jantungku semakin keras. Tak terbayang penderitaan apa yang telah menantinya.

Ditatapnya dengan lantang wajah tentara itu. seringainya menjijikan. Dikeluarkannya sebuah tube yang dengan kasarnya diteteskan pada kulit perempuan yang halus itu. pakaiannya sudah tak lagi utuh, tercabik-cabik.

Aku menjerit dalam hati. Bergetar. Menduga-duga apa yang hendak dilakukan tentara itu.

Tiba-tiba dengan kasar tangan pperempuan itu direngkuh dengan kuat. Dan jari-jarinya dipotong. Caci makinya meluncur deras dari bibir biadab itu.

“Perempuan bodoh, hina, tidak berguna! Bangsa yang bodoh, hina, menjijikan, menyedihkan!!!! ###$@%^*&^%$#@……..

Aku Marah! Namun seluruh tubuh terasa lumpuh! Lemas! Jantungku berdegup amat keras! Tuhan, aku tidak sanggup menyaksikan ini. ya Allah,.. Allah,.. Allah,..

Tersentak! Mataku tiba-tiba saja terbuka. Kurasakan jantungku masih berdegup kencang dan amarahku masih bersisa. Kusapu peluh di dahiku, berkali-kali mencoba pejamkan kembali mataku. Bukan karena kantuk, melainkan aku ingin mengetahui nasib perempuan itu. Hanya gagal yang kudapati.

Pukul 03.00 . Aaku terjaga. Benar-benar terjaga. Kucoba untuk pejamkan mata kembali, namun hanya gagal yang kudapatkan. Jantungku masih berdegup dengan kencang. Rasa takut itu pun masih lekat kuingat. Amarahku masih bergolak, mendesir mengalir dalam darahku yang merah. Merah! Seperti air mata anak-anak tak berdosa itu!

Segera bangkit, berwudhu, dan bersujud.

Tuhan ampuni aku, yang sempat lena dan melupakan nasib saudara seiman. Ampuni aku yang tidak peka, hingga harus diingatkan oleh mimpi yang amat menyayat hati. Ampuni aku yang tak sempurna membaca hikmah dibalik mimpi ini. Ampuni ke-egoisanku sebagai seorang muslimah. Ampuni aku yang belum sanggup berbuat banyak bagi saudara-saudaraku. Tuhan, jagalah mereka saudaraku di Palestina, kuatkan iman dan islamnya, berikan berkah serta rahmatMu pada setiap keluarga Palestina, berikan keberanian di setiap hati pejuang Palestine. Satukan hati para pemimpin negri muslim agar kami dapat menghancurkan kekuatan musuh-musuh Mu.

Basah! Mataku basah, hatiku basah, jiwaku basah, oleh airmata duka. Malam ini dalam tidurku yang singkat, kusaksikan dari dekat nasib bangsa Palestina. Begitu nyata! Hingga masih bersisa rasa di dalam jiwa ini.

Akh,.. mimpi ini tak biasa. Mimpiku kali ini, benar-benar nyata. Sedekat desahan nafas. Memang akhir-akhir ini aku sempat terlena dengan berbagai kesibukan yang berorientasi personal sekali. Bahkan sempat berhenti mengikuti perkembangan terkini dari Gaza. Beberapa email-email yang berisi gambar nyata kekejian perang di Gaza belum kulihat. Bukan karena tidak penting, berdasar pengalaman pertama, aku tak kuasa, tak punya hati untuk melihat kekejian-kekejian itu. Malam ini, aku tidak hanya melihat foto dan gambar, namun aku langsung merasakannya. Berada di Gaza, berhadap-hadapan langsung dengan korban dan tentara. Ya,.. aku di Gaza walau hanya dua jam saja.

Hingga kini, masih kucoba selami makna mimpi dalam tidur yang singkat ini. Mimpi burukkah ini? atau………..

Entahlah,……… masih meninggalkan sejuta tanya untukku.

February 1st, 2009

Wisata Alam Gunung Tangkupan Perahu

Posted by faridoet in Cerita, Gradasi

Hari sabtu pagi, dipenghujung bulan januari 2009, saya, Ana dan adik lelakinya, Adam berkesempatan menikmati keindahan taman wisata alam gunung Tangkupan Perahu. Kami bertiga berangkat dari gerlong pukul 6.00 pagi telat 30 menit dari jadwal yang kami rencanakan. Dari gerlong kami naik angkot lembang-ST.Hall, Rp. 3000,- sampai terminal Lembang. Duh,… dasar kami tidak mudeng, ternyata sebetulnya ada angkutan langsung dari terminal ledeng ke subang yang pastinya lewat gerbang Tangkuban Perahu dan ongkosnya Cuma Rp. 5000,- murah bukan?! Namun, kami mengetahuinya ketika pulang J. Lucunya lagi, kami tidak tahu kalau ternyata terminal lembang itu hanya sebuah pasar, jadi ketika angkot sudah mau putar balik kami masih belum turun sampai akhirnya ditanya sang sopir, akhirnya sang sopir men-stop sebuah angkot jurusan cikole, dengan inilah kami akhirnya tiba di tangkupan perahu. Dalam angkot saya dan Ana duduk di belakang dengan seorang kernet sedangkan Adam duduk dibangku depan, sebelah sopir. Kami melewati jalur cikole, pusat perkemahan. Sepanjang jalan kami disuguhi pemandangan deretan pohon pinus dalam hutan yang tidak seberapa lebat, semakin ke atas udara semakin dingin, walau begitu saya menikmatinya, saya buka satu kaca untuk menyesap udara pagi pegunungan, maklum masih pagi. Dari balik pohon-pohon pinus di selatan tergambar pemandangan menakjubkan, gugusan gunung berwarna kebiru-biruan yang dihiasi putihnya awan. Walau pagi itu mendung masih bergelayut pasca hujan gerimis semalam, namun tak sedikitpun pesona keindahan alam ini berkurang.

Kami tiba di daerah kawah utama, kawah Ratu sekitar pukul 7.30. angkot berhenti tepat di dekat pagar kawah, sangat dekat. Awalnya kami berencana untuk jalan kaki dari Cikole ke atas, namun karena angkot terusa saja melaju dan jujur ya, kami ndak tahu kalau ternyata itu inisiatif sang sopir semata untuk mendapatkan bayaran lebih. Awalnya sang sopir mematok ongkos Rp 47.500 per orang dari lembang sampai kawah sudah termasuk harga tiket Rp. 12.000, namun setelah tawar menawar kami boleh membayar Rp. 120.000 untuk bertiga. Hm…. Saya sendiri tidak tahu pasti berapa ongkos sebetulnya dari gerbang bawah sampai kawah, tapi yah sudahlah…. Walau demikian kami merasa beruntung diantar angkot tersebut sehingga tiba di lokasi masih sangat pagi. Masih sepi hanya ada kami dan serombongan pemuda yang sudah asyik membidik keelokan alam pagi dari bibir jurang.

Subhanallah,…. Sungguh keindahan yang tak terbantah dan kecantikan nan amat eksotik. Kami bertiga benar-benar takjub menyaksikan pagi di sini. Hamparan pegunungan biru bergradasi, hutan puspa, saninten dan kihujan memberikan nuansa hijau berbaur dengan putihnya awan bersinergi dengan warna permukaan tanah yang membentuk nuansa dari berbagai material hasil erupsi gunung yang konon ceritanya terbentuk karena kemarahan Sangkuriang kepada ibunya, Dayang Sumbi. sebuah lukisan pagi yang sempurna terhampar di depan mata walau matahari belum lagi memberikan cahayanya. Brr… entah angin lembah atau angin gunung yang berhembus menembus tiap helai benang dari baju yang kami kenakan. Dingin! Tangan kami sampai-sampai mati rasa. Walau saya sendiri sudah berkali-kali ke tempat ini sejak usia tujuh tahun tapi baru kali ini saya dapat menyaksikan lukisan pagi dari tempat ini.

Dari gambar sketsa kawah gunung tangkupan perahu yang sudah dimodifikasi oleh Stehn tahun 1929 setidaknya terdapat 10 kawah yang terdapat di gunung ini yaitu, kawah Ratu, kawah domas, kawah upas, kawah baru, kawah siluman, kawah jung dan kawah pangguyangan badak, kawah jaran, kawah ecoma dan kawah badak. Hari itu kami berkesempatan melihat tiga kawah saja, kawah Ratu sebagai kawah utama, kawah Upas yang sudah mati dan membentuk danau kecil serta kawah domas yang menghasilkan sumber air panas serta aman untuk berinteraksi diatasnya. Setelah perlahan lukisan pagi memudar kami mulai menjelajah kawah pertama, kawah Ratu, kawah yang terletak dikawasan utama taman wisata alam gunung tangkupan perahu ini. Dulu kawah ini masih sangat aktif dan bau belerang sangat menyengat namun sekarang ini sepertinya kawah ini hampir mati dan bau dari gas-gas yang bisa membayakan ini; CO2, H2S, HCL, SO2 dan CO sudah banyak berkurang. Kemudian perjalanan kami lanjutkan mendaki jalan setapak ke kawasan kawah Upas yang terletak di sebelah barat kawah Ratu dan Ecoma. Kawah Upas kami nikmati dibibir jurang dimana terdapat titian batas antara kawah Ecoma dengan kawah Upas. Di kawah Upas pun sepertinya sudah mati karena tidak lagi mengeluarkan asap, terlihat dikejauhan kerlip dari air jernih dalam danau kecil yang terdapat di dasar kawah. Indah! Setelah puas menikmati keindahannya dan potret sana sini perjalanan kami lanjutkan ke sumber air kahuripan. Awalnya saya dan Adam tertarik untuk menjelajahi jalan setapak dalam hutan namun Ana memilih untuk meniti jalan umum saja guna sampai ke sumber air kahuripan, jalannnya jauh lebih menanjak memasuki hutan yang lebih lebat. Setibanya di sana, ternyata sumber air ini sudha dibuat dalam bentuk MCK sederhana dan airnya dialirkan untuk memenuhi kebutuhan air kepada masyarakat yang mengais rejeki di kawasan wisata ini.

Dari sini, perjalanan kami lanjutkan ke kawah domas dengan jalur kembali ke timur kemudian turun sejauh 12Km dari pelataran kawah Ratu ke arah utara timur laut. Jalan menurun dengan tangga-tangga terbuat dari batang kayu pakis yang ujungnya masih tumbuh tunas dan daun-daun hijau sedikit melemahkan lutut saya. Sejak dulu perjalanan turun selalu lebih sulit saya tempuh dibandingkan mendaki. Nafas kami sudah mulai tersengal-sengal dan langkah semakin lambat, namun tetap saja masih sanggup mendahului rombongan turis dari Kuala Lumpur yang berada di depan kami, kira-kira di KM 6 kami istirahat sejenak di persinggahan dan sempat menyaksikan kawah Upas dikejauhan mengepulkan asap putih berbaur dengan kabut pekat yang tiba-tiba saja datang. Adam sempat membeli telur untuk kami rebus dibawah nanti. Setelah tenaga dan semangat kami pulih, perjalanan terasa lebih cepat kami tempuh sesaat sebelum tiba dilokasi ternyata kami disusul oleh dua turis dari arab Saudi yang menyapa kami dengan salam, rupanya mereka menempuh jalur yang berbeda dengan kami, yang akan kami tempuh saat pulang nanti. Setibanya di kawah, segera kami menjelajah kawah, menapak batu-batu dengan hati-hati, karena jika lalai kaki dapat terpercik air panas yang bermunculan dan mengalir diantara sela-sela batu. Di bagian depan tersebut terdapat tiga sumber air panas besar yang sudah dikelilingi batuan agar kita bisa melihat lebih dekat, dua sumber air panas yang tenag dan satu sumber air panas yang bergolak seperti air mendidih, disini kami memasak telur yang tadi kami belik di atas. Sebetulnya kami ingin terus mendaki keatas dan memutari kawasan kawah seperti dua orang turis Arab dengan guide-nya namun tertinggal saja kami sebentar tiba-tiba kabut dan asap berbaur menutup jalan di depan kami, akhirnya kami putusakan untuk turun kembali dan menanti telur matang. Ups, dasar saya yang kurang sabar, begitu diangkat ternyata telurnya baru setengah matang,… he..he…he…kami sempat mencoba untuk bermain air di sumber kolam air panas yang tenang,.. hm,… rasanya enak sekali hangatnya pas untuk mandi,… andainya air mandi saya hangatnya seperti ini tiap hari,.. hm,… pasti saya rajin mandi he..he..he.. tak berapa lama setelah membasuh tangan kami, ternyata kami merasakan tangan kami menjadi lebih halus. Serius lho,… sampai-sampai kami balik lagi ingin membasuh wajah dan memutuskan untuk mengambil air dan kami bawa pulang, barangkali karena kandungan belerang yang cukup tinggi dalam air ini sehingga kulit kami menjadi lebih halus. Setelah sekian lama, akhirnya rombongan turis kuala lumpur tiba juga menyusul kami, beberapa diantaranya langsung merendam kaki mereka di sumber air panas ketiga yang juga tenang, rupanya merekamemang ingin memanfaatkan air belerang ini untuk pengobatan kulit, sang guide mengambil tanah gosong yang terdapat di atas bukit untuk dijadikan masker di kaki mereka yang sakit.

Puas bermain-main air panas dan uap belerang kami akhirnya naik dan pulang, rupanya dua turis Arab tadi sudah di depan kami. Kami mengambil jalur berbeda karena memang ingin sekalian turun ke bawah untuk pulang, entah berapa kilo meter jalan setapak yang kami lewati menembus hutan yang pekat dan basah. Namun jalannya tidak seberapa curam dan tak berundak-undak. Jalan ini tembus pada parkiran bawah, memang khusus parkiran untuk kawah domas saja. Dari sini, untuk bisa ke jalan raya utama, kami masih harus berjalan kaki beberapa kilometer lagi hingga tembus di jalan raya Lembang-Subang.Ck..ck… jangan kalian tanya bagaimana rasanya, pagal-pegal, capek pasti karena entah berapa kilometer sudah yang kami tempuh. Tapi semua itu tidak seberapa bila dibandingkan dengan apa yang kami dapatkan, lukisan alam dari kuas-kuas Yang Maha Sempurna tlah membius penglihatan kami. Dan kami ingin kembali lagi dan lagi………..

  • Monthly

  • Blogroll

  • Meta: