Gaza dalam Mimpiku
Berita di berbagai media memperlihatkan kecemasan akan perang yang sepertinya kembali bergolakdi Gaza. Di pampang gambar ekspresi bocah-bocah korban perang Palestina di halaman-halaman utama surat kabar dunia.Perlahan, gambar-gambar di Koran itu memudar, siluet-siluet pun bermunculan. Nyata! Begitu nyata! Karena aku berada di dalamnya. Di sana. Di Palestina!
Sebuah flat kecil, biru kumuh, di sebuah pinggiran kota. Suram! Kudapati onggokan-onggokan mayat berserakan. Tak utuh lagi. berbagai penggalan anggota tubuh berserakan. Potongan tangan, kaki, kepala yang sudah jauh dari kata utuh.Ya Allah,… kulihat mayat seorang bayi mungil, ya… yang bahkan usianya tidak lebih dari 3 bulan saja. Lengannya sudah terpisah berserakan. Putih! Masih putih seperti hatinya yang suci. Tak ada bau anyir. Dan aku masih tegar.
Aku bergerak. Melanjutkan perjalanan. Di depan sebuah rumah. Kulihat tentara-tentara Yahudi terlaknat sedang berpesta. Mereka mengerumuni seorang lelaki Palestina yang sudah terkapar bersimbah darah, sambil tertawa mengejek mereka menyayi, memaki bahkan menendang-nendang sosok yang entah masih bernyawa atau tidak itu. mata-mata bengis dan keji itu tak kan kulupakan. Seperti sekelompok srigala yang berpesta atas mangsa buruannya. Seperti itulah Yahudi berpesta. Seorang Palestina yang teraniaya, bahkan di tanahnya sendiri.
Semakin jauh perjalananku, kulihat kekejian yang tak berperi. Lebih jauh menyayat hati. Kulihat tubuh-tubuh yang hancur tak berbetuk tergantung di tiang-tiang. Akh,.. entah tiang atau sekedar tali saja. Tua, muda, bahkan anak-anak! Tubuh mereka benar-benar hancur! Hancur bagai daging cincang di pasar! namun kudapati wajah-wajah mereka tanpa duka Subhanallah,…..
Ya Allah, jiwa manusia macam apa yang sanggup melakukannya,……
Tiba di sebuah rumah. Sang ayah dan seorang lelaki di ruang depan tengah diintrogasi oleh beberapa Tentara Israel. Dihardik! Dengan moncong senjata di kepala. Tak berdaya, namun masih tegar dan berani! Tiba- tiba perbatan memanas. Maki dan cacian mulai memanas. Anak lekaki berlari ke dalam, ketika seorang tentara Israel merasuk masuk ke dalam kamar. Sang ibu dan kakak perempuan sedang berdiri, sholat. Berusaha melindungi, bertanggungjawab atas keselamatan kedua perempuan di rumah tersebut.
“Tidak nak, usah kau risau. Syahid adalah impian ayah. Juga impian kami. Mengapa harus risau. Perjumpaan itu telah kami rindukan”
“Ibu maafkan aku dan ayah yang tak dapat melindungimu dan saudara perempuanku”
“anakku, Siapakah penguasa jiwa-jiwa kita? Bila bukan dirimu maka Allah yang akan menjaga kami. Pergilah. Jemput syahidmu wahai anakku”
Aku terpaku. Diam! Mencerna rasa takut yang bergolak dalam perutku.
Kulihat sang ayah, saudara lelaki dan ibu dari perempuan muda yang seusia denganku menjemput syahidnya dengan berani. Dalam tajamnya ujung pedang dan desing peluru mesiu yang meraung-raung tak hentinya.
Meradang! Ia sendiri di dalam kamar tak tertata. Seornag tentara setengah baya menghapirinya.
Oh,.. degup jantungku semakin keras. Tak terbayang penderitaan apa yang telah menantinya.
Ditatapnya dengan lantang wajah tentara itu. seringainya menjijikan. Dikeluarkannya sebuah tube yang dengan kasarnya diteteskan pada kulit perempuan yang halus itu. pakaiannya sudah tak lagi utuh, tercabik-cabik.
Aku menjerit dalam hati. Bergetar. Menduga-duga apa yang hendak dilakukan tentara itu.
Tiba-tiba dengan kasar tangan pperempuan itu direngkuh dengan kuat. Dan jari-jarinya dipotong. Caci makinya meluncur deras dari bibir biadab itu.
“Perempuan bodoh, hina, tidak berguna! Bangsa yang bodoh, hina, menjijikan, menyedihkan!!!! ###$@%^*&^%$#@……..
Aku Marah! Namun seluruh tubuh terasa lumpuh! Lemas! Jantungku berdegup amat keras! Tuhan, aku tidak sanggup menyaksikan ini. ya Allah,.. Allah,.. Allah,..
Tersentak! Mataku tiba-tiba saja terbuka. Kurasakan jantungku masih berdegup kencang dan amarahku masih bersisa. Kusapu peluh di dahiku, berkali-kali mencoba pejamkan kembali mataku. Bukan karena kantuk, melainkan aku ingin mengetahui nasib perempuan itu. Hanya gagal yang kudapati.
Pukul 03.00 . Aaku terjaga. Benar-benar terjaga. Kucoba untuk pejamkan mata kembali, namun hanya gagal yang kudapatkan. Jantungku masih berdegup dengan kencang. Rasa takut itu pun masih lekat kuingat. Amarahku masih bergolak, mendesir mengalir dalam darahku yang merah. Merah! Seperti air mata anak-anak tak berdosa itu!
Segera bangkit, berwudhu, dan bersujud.
Tuhan ampuni aku, yang sempat lena dan melupakan nasib saudara seiman. Ampuni aku yang tidak peka, hingga harus diingatkan oleh mimpi yang amat menyayat hati. Ampuni aku yang tak sempurna membaca hikmah dibalik mimpi ini. Ampuni ke-egoisanku sebagai seorang muslimah. Ampuni aku yang belum sanggup berbuat banyak bagi saudara-saudaraku. Tuhan, jagalah mereka saudaraku di Palestina, kuatkan iman dan islamnya, berikan berkah serta rahmatMu pada setiap keluarga Palestina, berikan keberanian di setiap hati pejuang Palestine. Satukan hati para pemimpin negri muslim agar kami dapat menghancurkan kekuatan musuh-musuh Mu.
Basah! Mataku basah, hatiku basah, jiwaku basah, oleh airmata duka. Malam ini dalam tidurku yang singkat, kusaksikan dari dekat nasib bangsa Palestina. Begitu nyata! Hingga masih bersisa rasa di dalam jiwa ini.
Akh,.. mimpi ini tak biasa. Mimpiku kali ini, benar-benar nyata. Sedekat desahan nafas. Memang akhir-akhir ini aku sempat terlena dengan berbagai kesibukan yang berorientasi personal sekali. Bahkan sempat berhenti mengikuti perkembangan terkini dari Gaza. Beberapa email-email yang berisi gambar nyata kekejian perang di Gaza belum kulihat. Bukan karena tidak penting, berdasar pengalaman pertama, aku tak kuasa, tak punya hati untuk melihat kekejian-kekejian itu. Malam ini, aku tidak hanya melihat foto dan gambar, namun aku langsung merasakannya. Berada di Gaza, berhadap-hadapan langsung dengan korban dan tentara. Ya,.. aku di Gaza walau hanya dua jam saja.
Hingga kini, masih kucoba selami makna mimpi dalam tidur yang singkat ini. Mimpi burukkah ini? atau………..
Entahlah,……… masih meninggalkan sejuta tanya untukku.