IKUTAN KAMPANYE YUK,………
Menuliskan setiap yang terlintas dalam pikiran terkadang tidaklah selalu mudah bagi saya Seringkali saya bingung harus memulai darimana, karena seringnya pikiran saya meloncat dari satu topic ke topic yang lain begitu saja. Seperti saat ini, ketika kawan sedang seru-serunya membahas pokok panas kampanye saya malah berpikir tentang ide-ide untuk membuat bumi lebih hijau dan nyaman. Sebetulnya Ide ini muncul dalam perjalanan saya ke Bogor, disaat saya melihat banyaknya lahan-lahan kosong yang terbengkalai di sepanjang jalan. Andainya saja di lahan–lahan tersebut berdiri berjajar pohon-pohon kayu keras membentuk sebuah hutan rimbun, tentunya akan banyak hewan yang bisa mendiami ekosistem tersebut. Ah,.. tapi kan lahan itu menjadi tidak produktif secara ekonomis! Begitu kan kata-kata para kapitalis industri. Eit,…. Tunggu dulu! Siapa bilang hutan tidak memberi manfaat secara ekonomis? Andai saja hutan itu kaya akan keanekaragaman hayati kita bisa mendatangkan devisa melalui cara yang berbeda. Undang para wisatawan yang sekarang sedang haus akan wisata-wisata alam yang penuh tantangan. Kelola dengan professional. Maka keuntungan ganda yang kita peroleh.
Sebetulnya, sejak lama saya memiliki sebuah mimpi besar. Amat besar! Bermula pada tahun 1999, ketika saya tur keliling pulau jawa bersama Mba Kung (Alm) dan Mbah Janti, sepanjang perjalanan melihat begitu banyak potensi alam yang dimiliki oleh bangsa ini. Dalam pikiran saya bergaung-gaung kata-kata “Bangsa ini seharusnya menjadi bangsa agraris yang makmur andai saja sumberdaya alamnya dimanfaatkan dengan cerdas dan bijak” . Dari sinilah, kemudian saya bercita-cita suatu hari nanti akan mewujudkannya. Seiring berjalannya waktu, hari ke hari bahkan sampai hari ini, saya mencoba merumuskan keinginan besar itu.Walau pun belum dapat memulai langkah besar saat ini, setidaknya langkah-langkah kecil kelak akan berkumulasi.
Oh,.. betapa inginnya saya mempopularkan, Pisang Ambon, rambutan, Jeruk Bali, Duren Jawa, mangga golek, akh,… semua buah-buahan negri ini ke segala penjuru dunia. Ataupun ikan, udang, belut, daging, lobster, tripang, dan masih banyak lagi hasil budidaya ternak bangsa ini. Namun yang terjadi justru sebaliknya, kitalah yang diserbu oleh beraneka buah import, atau bahkan daging sapi atau ayam import! Akh,.. jujur saya tersinggung sebagai anak negri yang kaya ini, bayangkan jika ternyata jeruk saja kita harus import dari cina, padahal jeruk medan atau Pontianak itu rasanya bisa lebih enak dari sekedar jeruk Ponkan andai saja diteliti dan kembangkan dengan baik. Seharusnya Negara yang alamnya amat subur ini sungguh bisa membuat rakyatnya kaya raya dengan potensi yang ada. Seharusnya tidak ada kata gizi buruk atau busung lapar di bumi pertiwi ini! Bisakah kawan bayangkan, kalau Tanah, batu dan kayu jadi tanaman. Semestinya tidak harus orang Indonesia menjadi buruh pabrik dengan upah rendah hanya untuk makan sehari-hari! Dimana, dimana letak salahnya?….. negri ini telah salah kelola. Andai saja bangsa ini mampu memberdayakan sumber daya alam, mengolahnya dengan sebaik-baiknya hingga memiliki harga jual yang tinggi maka bangsa ini akan menjadi salah satu bangsa termakmur di dunia. Andaikan alam negri ini dikekola dengan benar dan bijak, maka setidaknya tidak terdapat seorang rakyatpun yang sulit mencari sesuap nasi.
Kerusakan alam memang bukan hanya terjadi di Negara kita ini, namun bukan berarti bahwa kita hanya berdiam diri saja alih-alih merasa senasib dengan seluruh manusia dunia yang sekarang sedang merasakan dampak global warming. Sebagai individu sekaligus anak bangsa yang juga penduduk bumi seharusnya tidak tidak hanya berdiam diri saja khan?!Selemah-lemahnya iman, maka cobalah ikut berpikir. Jadi, ya saya berpikir! J hingga muncullah ide untuk membuat sebuah program penyambutan bayi yang baru lahir dengan penanaman minimal sebuah pohon kayu dimanapun di lahan-lahan yang bisa ditanami! Kegiatan ini, secara tidak langsung menjadi sebuah program reboisasi bersama dan berkesinambungan. Selain itu secara filosofis juga bermakna proses tumbuh kembang anak linear dengan proses tumbuhnya pohon. Bayangkan ada berapa bayi yang lahir dalam satu hari? Bayangkan pula ada berapa pohon yang ditanam dalam satu hari?
Wah bagaimana kalau keluarga yang tidak punya lahan? Nanam pohon cabe aja atuh! J ya enggak gitu donk,… kalau memnag keluarga belum punya lahan, tanam saja pohon itu di pinggir sungai-sungai atau pemerintah menyediakan lahan-lahan kosong yang berfungsi sebagai taman sekaligus paru-paru kota kemudian warga bisa nimbrung menanam di sana, kemudian pohon itu diberi inisial dan tanda sehingga ketika anak sudah cukup mengerti maka dia bisa melihat pohon yang sengaja ditanam untuknya, diharapkan muncul juga perasaan memiliki dan keterikatan. Oh,.. so sweet. Membayang anak-anak kecil berkata, “Ayah,.. ini pohon milikku ya,… usianya sama dengan usiaku…”. (Khayalan tinggkat tinggi,.. ck..ck..ck…)
Andainya ide ini dapat terealisasi,…….. Hayoo siapa mau ikutan?…… ikutan yuk,….. para calon bunda dan ayah,…. Ayo realisasikan hijau bumiku……… ayoo ikut kampanye penghijauan……. Kalau belum punya kesempatan menanam,.. paling tidak ikutan kampanye-nya dulu……….
Kebetulan nih,.. sedang masa kampanye,… hayoo para jurkam! sekalian deh ikut dikampanyekan gerakan ini! J ajie mumpung euy,…..