Bianglala Kehidupan

February 19th, 2009

Gaza dalam Mimpiku

Posted by faridoet in Hitam dan Kelabu

Berita di berbagai media memperlihatkan kecemasan akan perang yang sepertinya kembali bergolakdi Gaza. Di pampang gambar ekspresi bocah-bocah korban perang Palestina di halaman-halaman utama surat kabar dunia.Perlahan, gambar-gambar di Koran itu memudar, siluet-siluet pun bermunculan. Nyata! Begitu nyata! Karena aku berada di dalamnya. Di sana. Di Palestina!

Sebuah flat kecil, biru kumuh, di sebuah pinggiran kota. Suram! Kudapati onggokan-onggokan mayat berserakan. Tak utuh lagi. berbagai penggalan anggota tubuh berserakan. Potongan tangan, kaki, kepala yang sudah jauh dari kata utuh.Ya Allah,… kulihat mayat seorang bayi mungil, ya… yang bahkan usianya tidak lebih dari 3 bulan saja. Lengannya sudah terpisah berserakan. Putih! Masih putih seperti hatinya yang suci. Tak ada bau anyir. Dan aku masih tegar.

Aku bergerak. Melanjutkan perjalanan. Di depan sebuah rumah. Kulihat tentara-tentara Yahudi terlaknat sedang berpesta. Mereka mengerumuni seorang lelaki Palestina yang sudah terkapar bersimbah darah, sambil tertawa mengejek mereka menyayi, memaki bahkan menendang-nendang sosok yang entah masih bernyawa atau tidak itu. mata-mata bengis dan keji itu tak kan kulupakan. Seperti sekelompok srigala yang berpesta atas mangsa buruannya. Seperti itulah Yahudi berpesta. Seorang Palestina yang teraniaya, bahkan di tanahnya sendiri.

Semakin jauh perjalananku, kulihat kekejian yang tak berperi. Lebih jauh menyayat hati. Kulihat tubuh-tubuh yang hancur tak berbetuk tergantung di tiang-tiang. Akh,.. entah tiang atau sekedar tali saja. Tua, muda, bahkan anak-anak! Tubuh mereka benar-benar hancur! Hancur bagai daging cincang di pasar! namun kudapati wajah-wajah mereka tanpa duka Subhanallah,…..

Ya Allah, jiwa manusia macam apa yang sanggup melakukannya,……

Tiba di sebuah rumah. Sang ayah dan seorang lelaki di ruang depan tengah diintrogasi oleh beberapa Tentara Israel. Dihardik! Dengan moncong senjata di kepala. Tak berdaya, namun masih tegar dan berani! Tiba- tiba perbatan memanas. Maki dan cacian mulai memanas. Anak lekaki berlari ke dalam, ketika seorang tentara Israel merasuk masuk ke dalam kamar. Sang ibu dan kakak perempuan sedang berdiri, sholat. Berusaha melindungi, bertanggungjawab atas keselamatan kedua perempuan di rumah tersebut.

“Tidak nak, usah kau risau. Syahid adalah impian ayah. Juga impian kami. Mengapa harus risau. Perjumpaan itu telah kami rindukan”

“Ibu maafkan aku dan ayah yang tak dapat melindungimu dan saudara perempuanku”

“anakku, Siapakah penguasa jiwa-jiwa kita? Bila bukan dirimu maka Allah yang akan menjaga kami. Pergilah. Jemput syahidmu wahai anakku”

Aku terpaku. Diam! Mencerna rasa takut yang bergolak dalam perutku.

Kulihat sang ayah, saudara lelaki dan ibu dari perempuan muda yang seusia denganku menjemput syahidnya dengan berani. Dalam tajamnya ujung pedang dan desing peluru mesiu yang meraung-raung tak hentinya.

Meradang! Ia sendiri di dalam kamar tak tertata. Seornag tentara setengah baya menghapirinya.

Oh,.. degup jantungku semakin keras. Tak terbayang penderitaan apa yang telah menantinya.

Ditatapnya dengan lantang wajah tentara itu. seringainya menjijikan. Dikeluarkannya sebuah tube yang dengan kasarnya diteteskan pada kulit perempuan yang halus itu. pakaiannya sudah tak lagi utuh, tercabik-cabik.

Aku menjerit dalam hati. Bergetar. Menduga-duga apa yang hendak dilakukan tentara itu.

Tiba-tiba dengan kasar tangan pperempuan itu direngkuh dengan kuat. Dan jari-jarinya dipotong. Caci makinya meluncur deras dari bibir biadab itu.

“Perempuan bodoh, hina, tidak berguna! Bangsa yang bodoh, hina, menjijikan, menyedihkan!!!! ###$@%^*&^%$#@……..

Aku Marah! Namun seluruh tubuh terasa lumpuh! Lemas! Jantungku berdegup amat keras! Tuhan, aku tidak sanggup menyaksikan ini. ya Allah,.. Allah,.. Allah,..

Tersentak! Mataku tiba-tiba saja terbuka. Kurasakan jantungku masih berdegup kencang dan amarahku masih bersisa. Kusapu peluh di dahiku, berkali-kali mencoba pejamkan kembali mataku. Bukan karena kantuk, melainkan aku ingin mengetahui nasib perempuan itu. Hanya gagal yang kudapati.

Pukul 03.00 . Aaku terjaga. Benar-benar terjaga. Kucoba untuk pejamkan mata kembali, namun hanya gagal yang kudapatkan. Jantungku masih berdegup dengan kencang. Rasa takut itu pun masih lekat kuingat. Amarahku masih bergolak, mendesir mengalir dalam darahku yang merah. Merah! Seperti air mata anak-anak tak berdosa itu!

Segera bangkit, berwudhu, dan bersujud.

Tuhan ampuni aku, yang sempat lena dan melupakan nasib saudara seiman. Ampuni aku yang tidak peka, hingga harus diingatkan oleh mimpi yang amat menyayat hati. Ampuni aku yang tak sempurna membaca hikmah dibalik mimpi ini. Ampuni ke-egoisanku sebagai seorang muslimah. Ampuni aku yang belum sanggup berbuat banyak bagi saudara-saudaraku. Tuhan, jagalah mereka saudaraku di Palestina, kuatkan iman dan islamnya, berikan berkah serta rahmatMu pada setiap keluarga Palestina, berikan keberanian di setiap hati pejuang Palestine. Satukan hati para pemimpin negri muslim agar kami dapat menghancurkan kekuatan musuh-musuh Mu.

Basah! Mataku basah, hatiku basah, jiwaku basah, oleh airmata duka. Malam ini dalam tidurku yang singkat, kusaksikan dari dekat nasib bangsa Palestina. Begitu nyata! Hingga masih bersisa rasa di dalam jiwa ini.

Akh,.. mimpi ini tak biasa. Mimpiku kali ini, benar-benar nyata. Sedekat desahan nafas. Memang akhir-akhir ini aku sempat terlena dengan berbagai kesibukan yang berorientasi personal sekali. Bahkan sempat berhenti mengikuti perkembangan terkini dari Gaza. Beberapa email-email yang berisi gambar nyata kekejian perang di Gaza belum kulihat. Bukan karena tidak penting, berdasar pengalaman pertama, aku tak kuasa, tak punya hati untuk melihat kekejian-kekejian itu. Malam ini, aku tidak hanya melihat foto dan gambar, namun aku langsung merasakannya. Berada di Gaza, berhadap-hadapan langsung dengan korban dan tentara. Ya,.. aku di Gaza walau hanya dua jam saja.

Hingga kini, masih kucoba selami makna mimpi dalam tidur yang singkat ini. Mimpi burukkah ini? atau………..

Entahlah,……… masih meninggalkan sejuta tanya untukku.

February 1st, 2009

Wisata Alam Gunung Tangkupan Perahu

Posted by faridoet in Cerita, Gradasi

Hari sabtu pagi, dipenghujung bulan januari 2009, saya, Ana dan adik lelakinya, Adam berkesempatan menikmati keindahan taman wisata alam gunung Tangkupan Perahu. Kami bertiga berangkat dari gerlong pukul 6.00 pagi telat 30 menit dari jadwal yang kami rencanakan. Dari gerlong kami naik angkot lembang-ST.Hall, Rp. 3000,- sampai terminal Lembang. Duh,… dasar kami tidak mudeng, ternyata sebetulnya ada angkutan langsung dari terminal ledeng ke subang yang pastinya lewat gerbang Tangkuban Perahu dan ongkosnya Cuma Rp. 5000,- murah bukan?! Namun, kami mengetahuinya ketika pulang J. Lucunya lagi, kami tidak tahu kalau ternyata terminal lembang itu hanya sebuah pasar, jadi ketika angkot sudah mau putar balik kami masih belum turun sampai akhirnya ditanya sang sopir, akhirnya sang sopir men-stop sebuah angkot jurusan cikole, dengan inilah kami akhirnya tiba di tangkupan perahu. Dalam angkot saya dan Ana duduk di belakang dengan seorang kernet sedangkan Adam duduk dibangku depan, sebelah sopir. Kami melewati jalur cikole, pusat perkemahan. Sepanjang jalan kami disuguhi pemandangan deretan pohon pinus dalam hutan yang tidak seberapa lebat, semakin ke atas udara semakin dingin, walau begitu saya menikmatinya, saya buka satu kaca untuk menyesap udara pagi pegunungan, maklum masih pagi. Dari balik pohon-pohon pinus di selatan tergambar pemandangan menakjubkan, gugusan gunung berwarna kebiru-biruan yang dihiasi putihnya awan. Walau pagi itu mendung masih bergelayut pasca hujan gerimis semalam, namun tak sedikitpun pesona keindahan alam ini berkurang.

Kami tiba di daerah kawah utama, kawah Ratu sekitar pukul 7.30. angkot berhenti tepat di dekat pagar kawah, sangat dekat. Awalnya kami berencana untuk jalan kaki dari Cikole ke atas, namun karena angkot terusa saja melaju dan jujur ya, kami ndak tahu kalau ternyata itu inisiatif sang sopir semata untuk mendapatkan bayaran lebih. Awalnya sang sopir mematok ongkos Rp 47.500 per orang dari lembang sampai kawah sudah termasuk harga tiket Rp. 12.000, namun setelah tawar menawar kami boleh membayar Rp. 120.000 untuk bertiga. Hm…. Saya sendiri tidak tahu pasti berapa ongkos sebetulnya dari gerbang bawah sampai kawah, tapi yah sudahlah…. Walau demikian kami merasa beruntung diantar angkot tersebut sehingga tiba di lokasi masih sangat pagi. Masih sepi hanya ada kami dan serombongan pemuda yang sudah asyik membidik keelokan alam pagi dari bibir jurang.

Subhanallah,…. Sungguh keindahan yang tak terbantah dan kecantikan nan amat eksotik. Kami bertiga benar-benar takjub menyaksikan pagi di sini. Hamparan pegunungan biru bergradasi, hutan puspa, saninten dan kihujan memberikan nuansa hijau berbaur dengan putihnya awan bersinergi dengan warna permukaan tanah yang membentuk nuansa dari berbagai material hasil erupsi gunung yang konon ceritanya terbentuk karena kemarahan Sangkuriang kepada ibunya, Dayang Sumbi. sebuah lukisan pagi yang sempurna terhampar di depan mata walau matahari belum lagi memberikan cahayanya. Brr… entah angin lembah atau angin gunung yang berhembus menembus tiap helai benang dari baju yang kami kenakan. Dingin! Tangan kami sampai-sampai mati rasa. Walau saya sendiri sudah berkali-kali ke tempat ini sejak usia tujuh tahun tapi baru kali ini saya dapat menyaksikan lukisan pagi dari tempat ini.

Dari gambar sketsa kawah gunung tangkupan perahu yang sudah dimodifikasi oleh Stehn tahun 1929 setidaknya terdapat 10 kawah yang terdapat di gunung ini yaitu, kawah Ratu, kawah domas, kawah upas, kawah baru, kawah siluman, kawah jung dan kawah pangguyangan badak, kawah jaran, kawah ecoma dan kawah badak. Hari itu kami berkesempatan melihat tiga kawah saja, kawah Ratu sebagai kawah utama, kawah Upas yang sudah mati dan membentuk danau kecil serta kawah domas yang menghasilkan sumber air panas serta aman untuk berinteraksi diatasnya. Setelah perlahan lukisan pagi memudar kami mulai menjelajah kawah pertama, kawah Ratu, kawah yang terletak dikawasan utama taman wisata alam gunung tangkupan perahu ini. Dulu kawah ini masih sangat aktif dan bau belerang sangat menyengat namun sekarang ini sepertinya kawah ini hampir mati dan bau dari gas-gas yang bisa membayakan ini; CO2, H2S, HCL, SO2 dan CO sudah banyak berkurang. Kemudian perjalanan kami lanjutkan mendaki jalan setapak ke kawasan kawah Upas yang terletak di sebelah barat kawah Ratu dan Ecoma. Kawah Upas kami nikmati dibibir jurang dimana terdapat titian batas antara kawah Ecoma dengan kawah Upas. Di kawah Upas pun sepertinya sudah mati karena tidak lagi mengeluarkan asap, terlihat dikejauhan kerlip dari air jernih dalam danau kecil yang terdapat di dasar kawah. Indah! Setelah puas menikmati keindahannya dan potret sana sini perjalanan kami lanjutkan ke sumber air kahuripan. Awalnya saya dan Adam tertarik untuk menjelajahi jalan setapak dalam hutan namun Ana memilih untuk meniti jalan umum saja guna sampai ke sumber air kahuripan, jalannnya jauh lebih menanjak memasuki hutan yang lebih lebat. Setibanya di sana, ternyata sumber air ini sudha dibuat dalam bentuk MCK sederhana dan airnya dialirkan untuk memenuhi kebutuhan air kepada masyarakat yang mengais rejeki di kawasan wisata ini.

Dari sini, perjalanan kami lanjutkan ke kawah domas dengan jalur kembali ke timur kemudian turun sejauh 12Km dari pelataran kawah Ratu ke arah utara timur laut. Jalan menurun dengan tangga-tangga terbuat dari batang kayu pakis yang ujungnya masih tumbuh tunas dan daun-daun hijau sedikit melemahkan lutut saya. Sejak dulu perjalanan turun selalu lebih sulit saya tempuh dibandingkan mendaki. Nafas kami sudah mulai tersengal-sengal dan langkah semakin lambat, namun tetap saja masih sanggup mendahului rombongan turis dari Kuala Lumpur yang berada di depan kami, kira-kira di KM 6 kami istirahat sejenak di persinggahan dan sempat menyaksikan kawah Upas dikejauhan mengepulkan asap putih berbaur dengan kabut pekat yang tiba-tiba saja datang. Adam sempat membeli telur untuk kami rebus dibawah nanti. Setelah tenaga dan semangat kami pulih, perjalanan terasa lebih cepat kami tempuh sesaat sebelum tiba dilokasi ternyata kami disusul oleh dua turis dari arab Saudi yang menyapa kami dengan salam, rupanya mereka menempuh jalur yang berbeda dengan kami, yang akan kami tempuh saat pulang nanti. Setibanya di kawah, segera kami menjelajah kawah, menapak batu-batu dengan hati-hati, karena jika lalai kaki dapat terpercik air panas yang bermunculan dan mengalir diantara sela-sela batu. Di bagian depan tersebut terdapat tiga sumber air panas besar yang sudah dikelilingi batuan agar kita bisa melihat lebih dekat, dua sumber air panas yang tenag dan satu sumber air panas yang bergolak seperti air mendidih, disini kami memasak telur yang tadi kami belik di atas. Sebetulnya kami ingin terus mendaki keatas dan memutari kawasan kawah seperti dua orang turis Arab dengan guide-nya namun tertinggal saja kami sebentar tiba-tiba kabut dan asap berbaur menutup jalan di depan kami, akhirnya kami putusakan untuk turun kembali dan menanti telur matang. Ups, dasar saya yang kurang sabar, begitu diangkat ternyata telurnya baru setengah matang,… he..he…he…kami sempat mencoba untuk bermain air di sumber kolam air panas yang tenang,.. hm,… rasanya enak sekali hangatnya pas untuk mandi,… andainya air mandi saya hangatnya seperti ini tiap hari,.. hm,… pasti saya rajin mandi he..he..he.. tak berapa lama setelah membasuh tangan kami, ternyata kami merasakan tangan kami menjadi lebih halus. Serius lho,… sampai-sampai kami balik lagi ingin membasuh wajah dan memutuskan untuk mengambil air dan kami bawa pulang, barangkali karena kandungan belerang yang cukup tinggi dalam air ini sehingga kulit kami menjadi lebih halus. Setelah sekian lama, akhirnya rombongan turis kuala lumpur tiba juga menyusul kami, beberapa diantaranya langsung merendam kaki mereka di sumber air panas ketiga yang juga tenang, rupanya merekamemang ingin memanfaatkan air belerang ini untuk pengobatan kulit, sang guide mengambil tanah gosong yang terdapat di atas bukit untuk dijadikan masker di kaki mereka yang sakit.

Puas bermain-main air panas dan uap belerang kami akhirnya naik dan pulang, rupanya dua turis Arab tadi sudah di depan kami. Kami mengambil jalur berbeda karena memang ingin sekalian turun ke bawah untuk pulang, entah berapa kilo meter jalan setapak yang kami lewati menembus hutan yang pekat dan basah. Namun jalannya tidak seberapa curam dan tak berundak-undak. Jalan ini tembus pada parkiran bawah, memang khusus parkiran untuk kawah domas saja. Dari sini, untuk bisa ke jalan raya utama, kami masih harus berjalan kaki beberapa kilometer lagi hingga tembus di jalan raya Lembang-Subang.Ck..ck… jangan kalian tanya bagaimana rasanya, pagal-pegal, capek pasti karena entah berapa kilometer sudah yang kami tempuh. Tapi semua itu tidak seberapa bila dibandingkan dengan apa yang kami dapatkan, lukisan alam dari kuas-kuas Yang Maha Sempurna tlah membius penglihatan kami. Dan kami ingin kembali lagi dan lagi………..

January 11th, 2009

Purnama di Gaza

Posted by faridoet in Hitam dan Kelabu, Sajak-Sajakku

Shubuh ini dibarat laut

Kulihat Purnama sempurna

Jeli, bercahaya

Apakahengkau purnama yang sama,

di Gaza sana ?

Pada Purnama Jiwaku bertanya,

Duka mereka yang teraniaya

Jiwa mereka yang merana

Atas nama keangkuhan belaka

Bukankah Purnama saksi yang nyata?

Doa kami bersamamu saudara-saudariku.

December 26th, 2008

Little Pussy Sahabat Shubuhku

Posted by faridoet in Cerita, Putih

Sejak pindah di kos baru ini, 6 bulan yang lalu, saya benar-benar menikmati setiap waktu shubuh yang saya lewati. Ritualnya hampir selalu sama, bangun malam 1-1/2 jam sebelum adzan berkumandang walau harus melawan dingin yang menggigit, namun kehangatan suasana sepertiga malam mengalahkan dinginnya udara Bandung utara. Tepat bersamaan dengan suara adzan berkumandang biasanya lolong anjing-anjing tetangga depan rumahpun sahut menyahut, bahkan terkadang bersahutan dengan anjing di kompleks sebelah. Ya,.. Ku amati hampir setiap shubuh selalu saja anjing-anjing itu menggogong atau melolong saat adzan berkumandang, bahkan ketika manusia masih terlelap tidur mereka dengan setia menyambut seruan sholat itu. Mungkin begitulah cara binatang bertasbih pada Tuhannya. Suara adzan itu adalah parameter bagiku untuk langsung bergegas ke masjid. Sendiri, kususuri jalangerlong girang baru 2, khidmat, sesekali kulihat anjing pudel depan rumahku sudah hampir terlelap lagi kadang dia menatapku tanpa menggogong, rupanya dia sudah kenal dan hapal juga ritual shubuhku. Dulu awal-awal tidak begitu adanya, aku yang notabene amat takut dengan mahluk yang sebenarnya amat lucu itu sempat dibuatnya keder, walau kecil tapi ngonggongannya bisa menyiutkan nyali seketika. Biasanya selain menatap langit shubuh, aku seringkali menggunakan momen perjalananku ke masjid untuk berpikir dan merenung, kesunyian pagi disertai belaian lembut angin shubuh sungguh mujarab untuk membasuh hati dan pikiranku.

Seperti pagi tadi, kunikmati langkah demi langkah dari depan kos-ku menuju masjid DT (Daarut Tauhid). Setibanya di ujung jalan gerlong girang baru 2, aku berbelok ke kiri jalan gerlong girang baru. Begitu asyiknya aku menyesap suasana shubuh, tiba-tiba dikagetkan dengan sentuhan-sentuhan kecil di rok-ku. Rupanya si Pussy, kucing belang yang berdomisili di kompleksku, menyapaku. Aku sempat heran, tumben sekali dia sudah bangun, karena biasanya dia menyambutku pulang dari masjid, dengan gaya genit dan lincah biasanya kucing imut ini menantiku tidak jauh dari portal kompleks. Dan dengan setia berlari-lari kecil menemaniku sampai tiba di kos. Lucunya, dia tidak pernah minta imbalan atas kerelaannya menyambut dan mengantarku setiap shubuh, hampir setiap pagi sepulang dari masjid aku sekalian membeli sarapan dan ketika kucoba memberinya makanan sebagai imbalan, dia tidak antusias, dia lebih senang diajak bercanda dan bermain-main daripada diberi makan. Memang dia kucing yang cukup sehat dan gemuk, karena tidak sulit bagi kucing mencari makan di komplek kami. Ada banyak kucing liar di komplekku, mungkin kurang lebih ada 10 ekor, kadang ibu kosku,yang tinggal di rumah nomor 1 seringkali memberikan makan kucing-kucing liar itu karena beliaupun memelihara beberapa kucing di rumahnya. Lucunya lagi jika siang hari, walaupun aku bertemu dengannya dan kupanggil-panggil, dia hanya sebatas melempar senyum dan mengibaskan ekornya saja.

Pagi tadi dia mengantarkanku hingga ke portal, aku khawatir dia akan ikut terus sampai ke Masjid. Itu terlalu jauh, aku takut dia tidak kembali. Setibanya di portal aku harus belok kanan di jalan gerlong girang, Pussy kecil kusuruh untuk kembali, tapi rupanya dia ragu, kami sempat diam sesaat, untunglah shubuh tadi tidak ada orang yang lihat, hm,… mungkin satpam saja yang memperhatikan, tapi aku pun mengabaikannya. Dia diam dan menatapku, akh,… sorot matanya mengatakan banyak hal padaku. Kukibaskan tanganku menyuruhnya kembali, sambil berkata dalam hatiku, “kembalilah nantipun aku pulang, aku khawatir kau nanti tersesat, usah mengantarku hingga ke Masjid”. Akhirnya dia kembali, rupanya ia mengerti apa yang kusampaikan melalui hati. Aku menyebutnya bahasa jiwa.

Pagi tadi jamaah masjid cukup padat, tidak seperti shubuh kemarin yang lebih sepi. Hm,.. tentu saja karena semalam kan malam jum,at ada jadwal pengajian mingguan rutin di Masjid DT, biasanya banyak juga yang sekalian bermalam di Masjid, itulah penjelasan mengapa jamaah pagi tadi lebih ramai. Aku senang dengan keberadaan Imam masjid yang baru ini, hm,,… sudah tidak benar-benar baru sih. Sudah beberapa bulan yang lalu beliau menjadi Imam di Masjid DT, beliau seorang hafidz , nah salah satu program masjid adalah mengkhatamkan Al-Quran dengan membaca surat-surat dengan urut dari juz pertama hingga juz 30 dalam sholat-sholat yang bacaannya di jahr-kan. Aku sebagai salah satu jamaah jadi turut termotivasidengan adanya program ini. Selepas shubuh, biasanya aku berdiam di masjid hingga pukul 5 atau 5.15, selain ikut berdzikir dan sempat tilawah sebentar, sekalian aku menanti tukang nasi uduk atau bubur ayam langganan sarapan, setelah itu aku pulang. Sepanjang perlajanan pulang yang sedikit menanjak, aku senang memandang langit di sebelah timur, sebelum aku berbelok ke utara. Terkadang aku dapat melihat semburat jingga pendaran sinar mentari pagi yang indah, atau gumpalan-gumpalan awal putih dan kelabu dikala mendung, sering aku berimaji dengan bentuk awan-awan itu.

Berbelok ke utara, merunduk melewati portal yang belum dibuka, disana sudah kulihat pussy kecil berlenggak-lenggok di depan sebuah mobil yang biasa diparkir di sebelah kanan jalan. Ekornya dikibas-kibaskan sesaat sebelum melesat berlari dengan kencangnya menyambut kedatanganku. Angin pagi yang dingin meronakan wajahku, berjalan beriringan dengan si Pussy, menikmati pagi bersama kicau burung-burung yang biasa bertengger di pohon cengkeh kiri jalan dan kembali berakhir di depan pagar kos-ku. Shubuh tadi, Pussy, kucing belang lucu itu tlah menunjukkan padaku kepekaan seorang sahabat melalui bahasa jiwa, bahasa dunia. Ini bukan kali pertama Ia menjelma menjadi sesosok mahlukyang sepertinya mengerti apa yang sedang kualami. Aku teringat pada kucing-kucingku, semasa kecil dan remaja. Kami seolah punya bahasa jiwa hingga dapat saling memahami suasana hati kami masing-masing, mereka menghiburku disaat duka dan demikian pula sebaliknya seperti seorang sahabat saja. Mungkin, ini salah satu bentuk bahasa jiwa, bahasa dunia seperti yang diuraikan dalam “The Alkemis” oleh Paulo Coelho. Dengan bahasa jiwa, Pussy kecil menghalau kabut hatiku. Terima kasih Tuhan, tlah mengirimkan seekor kucing lucu di setiap shubuhku.

December 2nd, 2008

Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.

Posted by faridoet in Hitam dan Kelabu

Bandung, 2 Desember dinihari.

Setelah genap satu minggu berlalu rupanya saya baru sanggup mengungkapkan perasaan hati dalam sebuah tulisan untuk berbagi tanpa berniat mencari simpati sama sekali (ya,.. tentu saja karena saya bukan caleg khan?!). Jika kesedihan tlah membuat airmata saya membeku beberapa waktu, maka barulah malam kemarin ia luluh mencair dalam sujud yang panjang.

Setelah tanggal 14-16 bulan lalu saya menjenguk Simbah Putri secara mendadak pasca mendengar kondisi kesehatan beliau yang agak menurun karena tidak mau makan, maka kemarin hari senin malam selasa 24 November saya dikejutkan dengan berita duka kepergian Simbah Putri yang amat dekat dengan saya. Memang pada minggu pertama bulan November, Simbah sudah mengutarakan keinginannya secara tidak langsung untuk dijenguk oleh saya, namun karena berbagai kesibukan saya belum sempat ke Cilacap dan baru terwujud seminggu kemudian maju satu minggu dari rencana yang saya buat sebelumnya.

Waktu itu, saya mendapat kabar dari Bapak sekitar pukul 7 lewat beberapa menit di hari Jum’at, entah mengapa saya langsung memutuskan ke Cilacap hari itu juga. Bapak bilang Simbah ingin makan kelengkeng, sehingga saya berusaha untuk mendapatkan buah tersebut lebih dulu sebelum berangkat menggunakan bis dari terminal Caheum. Namun, entah mengapa yang biasanya kelengkeng mudah didapat, hari itu rasanya begitu sulit. Saya pergi ke beberapa supermarket tapi hasilnya nihil, walhasil saya baru mendapatkan buah tersebut di salah satu supermarket yang letaknya dekat terminal Caheum setelah sempat masuk di 4 supermarket, itupun kualitas kelengkengnya tidak seberapa bagus.

Setibanya di rumah Doplang, Simbah sempat terkejut melihat kedatangan saya yang tiba-tiba, seperti ketika beliau di ruang ICU dulu. Wajahnya terlihat masih pias, tidak sesegar biasanya. Malam itu juga saya langsung berkesempatan menyiapkan makan malam untuk beliau, bubur sumsum. Alhamdulillah,… beliau menghabiskan bubur satu mangkok itu dan sejak malam itu hingga wafatnya beliau, nafsu makan beliau kembali normal bahkan membaik, begitulah Om saya bercerita. Malam itu saya menemani beliau tidur dikamarnya, malam itu semua aktifitas beliau masih dilakukan di tempat tidur. Alhamdulillah,… pagi harinya beliau sudah dapat ke kamar mandi untuk wudhu dan sholat di tempat sholat walaupun masih harus duduk. Kami banyak menghabiskan waktu untuk bercerita. Simbah bilang, sebelumnya beliau malas bicara namun kehadiran saya membuatnya bersemangat lagi untuk bercerita. Dari cerita pada masa Bapak kecil sampai membicarakan keadaan semua sepupu dan keponakan saya yang jumlahnya 19 orang. Tidak dari keluarga Mama ataupun Bapak, saya memang cukup dekat dengan Simbah-simbah dan senang mendengarkan cerita-cerita mereka yang kadang seringkali diulang hingga berkali-kali J. Mungkin inilah yang menyebabkan saya dekat dengan para Simbah, karena bersedia mendengarkan cerita mereka walaupun sudah diulang berkali-kali. Namun, tidak jarang pula saya bertukar pendapat dengan para Simbah, walaupun hanya sebatas cucu seringkali saya membantu memecahkan masalah-masalah mereka baik tentang keluarga hingga soal teknik semisal, memilih pakaian demikian pula sebaliknya banyak masalah saya yang dapat diselesaikan dengan bantuan mereka.

Simbah Putri Cilacap adalah sosok yang amat penyabar dan penyayang, ahli ibadah yang tekun dengan keistiqomahan yang luar biasa. Kesabaran beliau dapat saya ilustraikan dalam kisah pilu yang baru saja kami lalui. Saat Ramadhan lalu, salah satu putranya yang juga adalah Om yang paling dekat dengan saya dan Bapak harus pergi mendahului beliau disaat beliau terbaring lemah di ICU. Seluruh anggota keluarga sepakat untuk menyembunyikan berita duka ini dari beliau hingga berlalunya Idul Fitri karena kekhawatiran yang berlebihan akan kondisi beliau. Namun, sungguh diluar dugaan beliau justru terlihat begitu tegar dan kuat bahkan lebih kuat dari pada Om-om dan tante-tante saya. Komentar beliau hanya, “Oh,.. jadi Lukman sudah lulus ujian lebih dulu ya,… syukurlah… Alhamdulillah Moga-moga amal ibadahnya di terima Gusti Allah”. Subhanallah,…..

Beliaulah yang mengenalkan pada saya betapa nikmatnya memakmurkan masjid sejak usia saya balita. Setiap kali saya mudik ke Cilacap, saya menjadi satu-satunya cucu yang selalu ikut beliau sholat di masjid yang dibangun oleh Almarhum Simbah buyut, Mbah H. Dulatif yang tidak seberapa jauh dari rumah. Saya ingat betul tempat favorit beliau di pojok depan dekat tembok yang jauh dari hijab, bahkan dulu saya menghapal surat-surat pendek dari kebiasaan mendengarkan puji-pujian yang sering dibaca dengan cara didendangkan sehabis sholat berjamaah. Sepeninggal Mbah Kakung pada tahun 2004 lalu, mbah putri lebih sering menghabiskan waktu di Bekasi, bergantian dari satu rumah anaknya ke rumah yang lain. Aktivitas beliau sehari-hari hanya ibadah, dari yang wajib hingga yang sunnah. Tidak satu malampun beliau lewatkan untuk bertahajud jika kesehatannyabaik, bahkan pada saat beliau di ICUpun sembari tidur tetap berusaha istiqomah untuk ibadah. Beliau juga mengingat dengan baik setiap keinginan putra-putrinya dan cucunya dan memperhatikan setiap doa yang terkabul atas keinginan tersebut. Menjelang Ramadhan tahun ini, beliau baru kembali ke Doplang dan sempat mengutarakan keengganan beliau untuk kembali ke Bekasi karena ingin istirahat di Doplang. Setiap Ramadhan, Mbah Putri dan Mbah Kakung punya kebiasaan itikaf di sepuluh hari terakhir di suatu pesantren di daerah yang Saya tidak tahu namanya. Ternyata, Ramadhan ini menjadi Ramadhan terakhir bagi beliau.

Rupanya saat berpamitan pulang ke Bandung itulah perjumpaan terakhir saya dengan beliau. Dua malam yang saya lalui bersamanya menjadi malam terakhir kami bercengkrama dan bercerita. Semenjak saya kecil, selain di rumah sakit baru itulah kali pertama saya tidur satu ranjang dengan beliau. Rupanya tahu-masak itulah makan malam terakhir yang saya siapkan untuk beliau. Hari itu saya perpamitan dengan tergesa-gesa mencium tangannya, memeluknya dan mencium kedua pipinya sambil menatap dalam matanya yang menyimpan berjuta makna. Hampir saja saya tertinggal kereta hari itu.

Setahun ini, saya kehilangan empat anggota keluarga dekat berturut-turut dan tiga diantaranya adalah sosok-sosok yang amat dekat dengan saya. Sumber insprirasi dalam menjalani hidup. Ya Allah, Wahai Pemilik Hidup Ampunilah dosa-dosa mereka, terimalah amal ibadahnya dan pertemukan kami kembali kelak di jannah-Mu. Amiin

“Sesungguhnya kita adalah milik Allah, dan sesungguhnya kita akan kembali kepada-Nya. Ya Allah, dihadapan-Mu-lah aku memperhitungkan musibahku, maka berilah aku pahala karena musibahku itu dan berilah aku ganti yang lebih baik daripadanya. Amiin”

« Previous PageNext Page »
  • Monthly

  • Blogroll

  • Meta: